Kakang Zizah: Cinta yang Tumbuh di Gambut
Kisah | 2026-07-03 10:07:25Mentari sore mulai meredup di langit Gambut. Senja selalu terasa indah di Gambut. Hamparan jalan serta sawah memantulkan warna jingga, sementara angin sore membawa aroma tanah yang baru diguyur hujan. Di sanalah Kakang mengenal Zizah.
Jam pulang sekolah selalu membuat warung kecil di depan gerbang SMA itu ramai. Beberapa siswa membeli minuman dingin, sebagian lagi duduk di bangku kayu sambil menunggu jemputan datang. Di luar, langit Gambut yang sejak siang mendung akhirnya menurunkan hujan. Rintik-rintik perlahan berubah menjadi deras, membuat siapa pun yang hendak pulang memilih berteduh.
Di sudut warung, Zizah duduk sendiri sambil memeluk tasnya. Jemputannya belum datang. Sesekali ia melirik jalan yang mulai dipenuhi genangan air, lalu kembali menatap hujan. Ia sebenarnya tidak keberatan menunggu. Yang membuatnya gelisah justru pikiran-pikiran yang selalu datang tanpa diundang.
Tak lama kemudian, suara motor berhenti tepat di depan warung. Seorang laki-laki melepas helmnya, membiarkan rambutnya sedikit berantakan karena hujan. Begitu melihat Zizah masih duduk di tempat yang sama, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Masih di sini?" tanya Kakang sambil melepas helmnya.
Zizah tersenyum kecil. "Nunggu hujan. Takut jalan licin."
"Kalau begitu, biar aku antar."
Banyak orang mengira Zizah adalah gadis yang dingin. Ia ramah, tetapi selalu menjaga jarak. Ia mudah tersenyum, namun sulit membuka hati. Bukan karena tidak ingin dicintai, melainkan karena ia pernah terlalu percaya hingga akhirnya kecewa.
Baginya, kata-kata manis terdengar indah, tetapi juga menakutkan.
"Kalau semua orang bisa berkata manis, apa bedanya yang tulus dengan yang hanya singgah?" pikirnya.
Sementara Kakang justru berbeda. Ia tidak pandai merangkai rayuan, tetapi selalu hadir ketika Zizah membutuhkan bantuan. Ia lebih sering membuktikan daripada mengucapkan. Menemani Zizah saat hujan, mengingatkan makan ketika sibuk, atau diam-diam membawa payung saat langit mulai mendung.
Namun setiap kali Kakang menunjukkan perhatian, Zizah justru semakin ragu.
"Kenapa kamu baik sama aku?" tanya Zizah suatu sore.
Kakang tersenyum. "Karena aku memang ingin baik sama kamu."
"Kalau nanti bosan?"
"Aku belum memikirkan itu."
"Kalau nanti berubah?"
Kakang terdiam sejenak.
"Aku nggak bisa janji masa depan nggak akan berubah. Tapi hari ini, yang bisa aku pastikan adalah niatku tetap sama."
Jawaban itu membuat hati Zizah hangat, tetapi rasa takutnya belum hilang.
Hari-hari berlalu. Kakang tetap hadir tanpa memaksa. Ia tidak pernah meminta Zizah segera percaya. Ia tahu, beberapa luka tidak bisa sembuh hanya karena mendengar kalimat, "Percayalah padaku."
Suatu malam mereka duduk di tepi sawah. Langit dipenuhi bintang.
Zizah berkata lirih, "Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut semua perhatian ini cuma sementara. Takut nanti kamu berubah. Takut aku sudah percaya, lalu ditinggalkan lagi."
Kakang menatapnya dengan lembut.
"Aku nggak akan marah kalau kamu masih ragu. Luka memang bikin seseorang sulit percaya. Aku juga nggak minta kamu langsung yakin sama aku."
Ia berhenti sejenak.
"Yang aku minta cuma satu. Kasih aku kesempatan membuktikan, bukan lewat kata-kata, tapi lewat waktu."
Mata Zizah mulai berkaca-kaca.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa orang yang benar-benar mencintainya akan memaksanya percaya. Ternyata tidak. Kakang justru memilih menunggu.
Sejak malam itu, Zizah mulai belajar membuka sedikit demi sedikit pintu hatinya. Masih ada rasa takut. Masih ada keraguan setiap kali Kakang bersikap manis.
Namun kini ia sadar, tidak semua orang datang untuk mengulang luka yang sama.
Ada yang datang untuk mengajarkan bahwa cinta bukan tentang janji yang terdengar indah, melainkan tentang seseorang yang tetap memilih tinggal, bahkan ketika kepercayaan itu harus dibangun perlahan.
Dan Kakang memilih menjadi orang itu.
Karena bagi Kakang, mencintai Zizah bukan soal seberapa cepat ia diterima. Melainkan seberapa sabar ia menemani seorang gadis yang sedang belajar percaya lagi.
Di bawah langit Gambut yang mulai gelap, Zizah menggenggam tangan Kakang untuk pertama kalinya.
"Maaf kalau aku terlalu banyak takut."
Kakang tersenyum hangat.
"Jangan minta maaf. Aku lebih memilih berjalan pelan bersamamu daripada berlari dengan orang lain."
Malam itu, Zizah belum sepenuhnya sembuh dari luka masa lalunya. Namun untuk pertama kalinya, ia percaya bahwa mungkin... tidak semua akhir akan berakhir dengan patah hati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
