Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Irfan Fauzi

Ketika FOMO Mengalahkan Logika: Tantangan Literasi di Tengah Booming Saham Syariah

Bisnis | 2026-07-01 11:44:49
https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-smartphone-ponsel-pintar-laptop-5833309/

Dalam beberapa bulan terakhir, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengingatkan bahwa pasar modal selalu bergerak dinamis. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan arah kebijakan suku bunga, hingga berbagai sentimen geopolitik membuat harga saham naik dan turun dalam waktu singkat. Di media sosial, kondisi tersebut segera menjadi perbincangan. Ada yang membagikan keuntungan karena membeli saham saat harga turun, tetapi tidak sedikit pula yang mengunggah kerugian akibat panik menjual portofolionya.

Fenomena itu memperlihatkan perubahan cara generasi muda belajar berinvestasi. Jika dahulu investor lebih banyak membaca buku, laporan keuangan, atau mengikuti seminar, kini informasi investasi lebih sering diperoleh melalui TikTok, Instagram, YouTube, hingga grup Telegram. Dalam hitungan detik, rekomendasi saham, analisis singkat, bahkan ajakan membeli saham tertentu dapat tersebar luas dan menjangkau jutaan pengguna.

Di satu sisi, perkembangan tersebut patut diapresiasi karena membuat edukasi investasi semakin mudah diakses. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga melahirkan fenomena fear of missing out (FOMO). Banyak investor pemula membeli saham bukan karena memahami fundamental perusahaan, melainkan karena takut tertinggal peluang yang sedang ramai diperbincangkan. Tidak jarang keputusan investasi akhirnya lebih dipengaruhi oleh konten yang viral daripada analisis yang rasional.

Fenomena FOMO menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan pasar modal syariah di Indonesia. Minat masyarakat terhadap saham syariah terus meningkat dari tahun ke tahun. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa hingga 13 Mei 2026 terdapat 673 saham syariah atau sekitar 70 persen dari seluruh saham yang tercatat di bursa. Jumlah tersebut meningkat sekitar 184 persen dibandingkan tahun 2011 dan menunjukkan bahwa pasar modal syariah berkembang sangat pesat.

Pertumbuhan tersebut merupakan kabar baik. Semakin banyak masyarakat yang mulai memilih instrumen investasi yang sesuai dengan prinsip syariah. Namun, peningkatan jumlah investor juga menghadirkan tantangan baru. Literasi tidak boleh tertinggal oleh laju pertumbuhan investor. Sebab, investasi yang sehat bukan hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang masuk ke pasar, tetapi juga oleh kemampuan mereka memahami risiko, membaca informasi secara kritis, serta mengambil keputusan berdasarkan analisis, bukan sekadar mengikuti tren.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat terus meningkat, tetapi masih terdapat kesenjangan antara kepemilikan produk keuangan dan kemampuan memanfaatkannya secara tepat. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemudahan membuka rekening investasi harus diimbangi dengan peningkatan pemahaman mengenai cara kerja pasar modal serta risiko yang melekat pada setiap instrumen investasi.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Hikmah dalam Jurnal Ilmu Manajemen, Ekonomi dan Kewirausahaan Volume 3 Nomor 1 Tahun 2025 yang menyebutkan bahwa pasar modal syariah Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar, tetapi masih menghadapi tantangan berupa rendahnya literasi keuangan syariah. Banyak masyarakat telah mengenal istilah saham syariah, tetapi belum memahami mekanisme investasi, manajemen risiko, maupun prinsip-prinsip transaksi sesuai syariat.

Padahal, saham syariah tetap memiliki risiko sebagaimana instrumen investasi lainnya. Harga saham dapat berubah karena kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, maupun sentimen pasar. Status "syariah" bukan berarti bebas dari risiko kerugian, melainkan menunjukkan bahwa kegiatan usaha emiten dan mekanisme transaksinya telah memenuhi ketentuan syariah serta menghindari unsur riba, gharar, dan maysir.

Karena itu, investor tidak cukup hanya mengetahui saham mana yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah. Mereka juga perlu memahami tujuan investasi, profil risiko, diversifikasi portofolio, serta pentingnya mengendalikan emosi ketika pasar sedang bergejolak. Kemampuan tersebut tidak dapat dibangun hanya melalui video berdurasi satu menit atau rekomendasi dari media sosial, tetapi melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Kabar baiknya, kesempatan belajar kini semakin terbuka. BEI bersama OJK terus memperluas edukasi melalui program Sekolah Pasar Modal, Galeri Investasi di berbagai perguruan tinggi, serta kampanye literasi seperti "Yuk Nabung Saham" dan berbagai program edukasi pasar modal syariah. Seluruh informasi mengenai Daftar Efek Syariah maupun publikasi emiten juga dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan pasar modal syariah tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah investor atau meningkatnya nilai transaksi. Yang jauh lebih penting adalah lahirnya investor yang mampu berpikir rasional, memahami risiko, serta tetap menjadikan prinsip-prinsip syariah sebagai landasan dalam setiap keputusan investasi. Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya FOMO di media sosial, literasi tetap menjadi investasi terbaik yang akan menentukan kualitas keputusan seseorang, baik hari ini maupun di masa depan.

*Disclaimer on : Konten ini bukan rekomendasi ajakan membeli atau menjual saham tertentu

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image