Genosida di Gaza Tertutup oleh Eskalasi Perang Amerika-Israel Vs Iran
Politik | 2026-06-30 11:23:02
OPINI - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel Menyerang Iran dalam beberapa waktu terakhir telah menyita perhatian dunia. Media internasional, pemerintah, hingga masyarakat global lebih banyak mencurahkan perhatian pada kemungkinan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah. Ancaman perang regional, isu nuklir Iran, hingga dampaknya terhadap harga minyak dunia menjadi tajuk utama di berbagai media.
Namun, di balik derasnya arus pemberitaan tersebut, terdapat sebuah tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung nyaris tanpa sorotan yang seimbang: penderitaan warga sipil di Jalur Gaza.
Data terbaru dari sumber-sumber medis di Gaza menunjukkan bahwa jumlah korban tewas akibat agresi Genosida Israel telah mencapai 73.058 orang, sementara 173.488 orang lainnya mengalami luka-luka sejak 7 Oktober 2023. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir saja, rumah sakit di Gaza kembali menerima empat korban meninggal dan delapan korban luka. Bahkan, tim medis menyatakan masih banyak korban yang tertimbun reruntuhan atau tergeletak di jalan karena ambulans dan tim penyelamat tidak mampu menjangkau lokasi akibat situasi keamanan yang sangat berbahaya. Menurut laporan yang sama, sejak berakhirnya gencatan senjata, lebih dari seribu orang kembali kehilangan nyawa, sementara ratusan jenazah baru berhasil ditemukan di berbagai lokasi.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap korban terdapat keluarga yang kehilangan ayah, ibu, anak, saudara, dan harapan hidup. Sayangnya, ketika perhatian dunia bergeser kepada dinamika geopolitik yang lebih luas, tragedi kemanusiaan di Gaza justru semakin kehilangan ruang dalam percakapan publik internasional.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perhatian global sering kali bergerak mengikuti eskalasi politik dan militer terbaru. Ketika konflik baru muncul, konflik yang masih berlangsung cenderung dianggap sebagai "berita lama". Akibatnya, penderitaan yang belum selesai menjadi semakin tidak terlihat.
Dalam ilmu komunikasi, kondisi ini dikenal sebagai issue-attention cycle, yaitu siklus ketika perhatian publik terhadap suatu persoalan meningkat tajam pada awal krisis, tetapi kemudian menurun meskipun masalah tersebut belum terselesaikan. Gaza tampaknya sedang berada pada fase tersebut. Dunia tidak berhenti peduli sepenuhnya, tetapi intensitas perhatian telah jauh berkurang dibandingkan pada awal konflik.
Padahal, bagi warga Gaza, perang tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka masih menghadapi keterbatasan pangan, layanan kesehatan yang lumpuh, kekurangan obat-obatan, krisis air bersih, serta ancaman serangan yang terus berlangsung. Rumah sakit bekerja dalam kondisi sangat terbatas. Tenaga kesehatan harus mengambil keputusan sulit setiap hari tentang siapa yang lebih dahulu memperoleh perawatan karena keterbatasan fasilitas.
Lebih memprihatinkan lagi, banyak korban yang bahkan belum dapat dievakuasi. Tim medis melaporkan masih adanya jasad yang tertimbun reruntuhan bangunan maupun berada di jalanan karena akses menuju lokasi terlalu berbahaya. Kondisi ini menggambarkan bahwa korban sebenarnya mungkin lebih besar daripada angka yang telah tercatat.
Di sisi lain, perkembangan konflik Amerika–Israel dengan Iran memang memiliki konsekuensi strategis yang sangat besar. Dunia tentu berkepentingan menghindari meluasnya perang kawasan yang dapat mengganggu stabilitas global. Akan tetapi, meningkatnya perhatian terhadap satu konflik semestinya tidak membuat tragedi kemanusiaan lain kehilangan perhatian.
Kemanusiaan seharusnya tidak mengenal prioritas berdasarkan nilai strategis sebuah konflik. Setiap korban sipil memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan dan perhatian masyarakat internasional. Ketika pemberitaan hanya berpusat pada dinamika militer dan diplomasi antarnegara, suara masyarakat sipil yang menjadi korban justru semakin tenggelam.
Media massa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan laporan mengenai kondisi kemanusiaan di Gaza secara konsisten. Demikian pula komunitas internasional perlu memastikan bahwa bantuan kemanusiaan tetap mengalir dan upaya perlindungan terhadap warga sipil terus menjadi agenda utama, terlepas dari munculnya konflik baru di kawasan.
Perhatian publik memang terbatas. Namun, empati seharusnya tidak demikian. Dunia dapat memperhatikan perkembangan konflik Amerika–Israel dan Iran sekaligus tetap memberikan ruang bagi penderitaan rakyat Gaza yang hingga kini belum menemukan titik akhir.
Alhasil menurut hemat penulis, ukuran keberhasilan komunitas internasional bukan hanya terletak pada kemampuannya mencegah perang baru, melainkan juga pada kesungguhannya untuk tidak melupakan korban-korban perang yang masih berlangsung. Ketika sorotan dunia berpindah, penderitaan manusia tidak otomatis berhenti. Di Gaza, setiap hari masih ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, anak-anak yang kehilangan masa depan, dan warga sipil yang terus hidup di bawah bayang-bayang konflik.
Oleh sebab itu, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah apakah dunia harus memperhatikan konflik Amerika–Israel dan Iran, melainkan apakah perhatian terhadap konflik baru boleh menghapus kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza. Jika jawabannya adalah tidak, maka Gaza tidak boleh menjadi perang yang dilupakan. Sebab ketika dunia menoleh ke tempat lain, ribuan nyawa tetap dipertaruhkan setiap harinya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
