Banyak Anak Muda Terlihat Kuat, Padahal tidak Baik-Baik Saja
Edukasi | 2026-06-29 09:42:06Di zaman sekarang, menjadi “kuat” seolah sudah menjadi tuntutan. Banyak orang berlomba-lomba terlihat produktif, ceria, aktif, dan mampu menghadapi semuanya sendiri. Media sosial pun ikut membentuk gambaran bahwa hidup ideal adalah hidup yang selalu terlihat bahagia.
Namun di balik itu, banyak anak muda sebenarnya sedang kelelahan secara mental.
Mereka tetap tertawa saat berkumpul, tetap datang ke kampus, tetap mengerjakan tugas, bahkan tetap aktif di media sosial. Tetapi diam-diam, mereka merasa lelah, kosong, dan kehilangan semangat menjalani hari.
Ironisnya, kondisi seperti ini sering tidak dianggap serius karena orang lain hanya melihat “luarnya saja”.
Fenomena ini semakin sering terjadi di kalangan remaja dan mahasiswa. Banyak yang akhirnya terbiasa menyimpan perasaan sendiri karena takut dianggap lemah, terlalu sensitif, atau hanya mencari perhatian.
Padahal kesehatan mental bukan sesuatu yang bisa dinilai hanya dari penampilan seseorang.
Tuntutan untuk Selalu Baik-Baik Saja
Lingkungan sering kali tanpa sadar membuat seseorang merasa harus selalu terlihat kuat. Kalimat seperti:“Kamu kan anak pertama, harus kuat.” “Jangan cengeng.” “Orang lain juga hidupnya susah.” “Masalah kamu belum seberapa.” terdengar biasa saja, tetapi bisa membuat seseorang memilih memendam emosinya sendiri.
Banyak anak muda akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang sulit jujur terhadap perasaannya. Mereka terbiasa mengatakan “aku gapapa” bahkan saat sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Lama-kelamaan, memendam emosi terus-menerus bisa membuat seseorang merasa lelah secara psikologis.
Menurut World Health Organization, kesehatan mental adalah kondisi ketika seseorang mampu menyadari potensinya, mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada lingkungannya. Artinya, kesehatan mental bukan hanya soal ada atau tidaknya gangguan mental, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani hidupnya sehari-hari.
Sayangnya, banyak orang baru peduli pada kesehatan mental ketika kondisinya sudah sangat buruk.
Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri
Salah satu hal yang cukup memengaruhi kondisi mental anak muda saat ini adalah media sosial.
Tanpa sadar, media sosial membuat orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat teman yang terlihat sukses, punya banyak pencapaian, hubungan pertemanan yang ramai, atau kehidupan yang tampak menyenangkan sering kali memunculkan perasaan tertinggal.
Padahal apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan sebenarnya.
Orang cenderung hanya memperlihatkan bagian terbaik hidupnya. Jarang ada yang mengunggah kegagalan, rasa takut, atau kesedihan yang mereka alami setiap hari.Namun otak manusia sering lupa akan hal itu. Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya kurang berharga hanya karena membandingkan “realita dirinya” dengan “highlight kehidupan orang lain”.
Tidak sedikit mahasiswa yang merasa dirinya gagal hanya karena melihat teman seusianya sudah memiliki banyak pencapaian.
Padahal setiap orang memiliki proses hidup yang berbeda.
Fenomena Burnout di Kalangan Mahasiswa
Belakangan ini, istilah burnout semakin sering dibicarakan. Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.
Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang cukup rentan mengalami hal ini.
Tugas yang menumpuk, tuntutan nilai, organisasi, masalah keluarga, pertemanan, hingga kekhawatiran soal masa depan sering kali datang bersamaan. Banyak mahasiswa akhirnya merasa harus terus berjalan walaupun dirinya sudah sangat lelah.
Yang membuat burnout berbahaya adalah karena kondisinya sering tidak disadari.
Awalnya hanya merasa lelah biasa. Lama-lama mulai kehilangan motivasi, sulit fokus, mudah marah, merasa kosong, bahkan kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai.
Namun karena budaya “harus kuat” masih sangat tinggi, banyak orang memilih mengabaikan kondisi tersebut.
Mereka merasa istirahat adalah bentuk kemalasan.
Padahal tubuh dan pikiran manusia memiliki batas.
Kesepian di Tengah Keramaian
Hal lain yang cukup banyak dialami anak muda saat ini adalah rasa kesepian.
Uniknya, seseorang bisa merasa sangat kesepian meskipun memiliki banyak teman atau aktif di media sosial. Hal ini terjadi karena kesepian tidak selalu berkaitan dengan jumlah orang di sekitar kita, tetapi tentang ada atau tidaknya hubungan emosional yang benar-benar dekat.
Banyak orang punya tempat untuk bercanda, tetapi tidak punya tempat untuk bercerita.
Akhirnya, mereka terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
Tidak sedikit juga yang merasa takut menjadi beban bagi orang lain. Mereka khawatir dianggap dramatis jika terlalu sering bercerita tentang perasaannya.
Padahal manusia pada dasarnya memang membutuhkan dukungan emosional.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychological Association, dukungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seseorang, terutama dalam menghadapi stres dan tekanan hidup.
Artinya, didengarkan saja sebenarnya sudah bisa sangat membantu seseorang merasa lebih baik.
Pentingnya Mengenali Emosi Diri Sendiri
Banyak orang terbiasa memahami perasaan orang lain, tetapi tidak benar-benar memahami dirinya sendiri.
Saat sedih, mereka memilih mengalihkan perhatian.
Saat lelah, mereka memaksa diri tetap produktif.
Saat kecewa, mereka berpura-pura biasa saja.
Padahal emosi yang terus ditekan tidak benar-benar hilang. Emosi itu hanya tertunda dan bisa muncul dalam bentuk lain, seperti mudah marah, kehilangan motivasi, sulit tidur, atau merasa kosong terus-menerus.
Karena itu, mengenali emosi diri sendiri menjadi hal penting.
Bukan berarti menjadi terlalu sensitif, tetapi belajar jujur terhadap apa yang dirasakan.
Tidak semua hari harus dijalani dengan sempurna. Tidak apa-apa jika sesekali merasa lelah. Tidak apa-apa jika belum sekuat yang orang lain bayangkan.
Manusia bukan mesin yang harus terus berjalan tanpa istirahat.
Mulai Peduli pada Diri Sendiri
Self-care sering dianggap sekadar jalan-jalan, membeli makanan favorit, atau liburan. Padahal makna self-care sebenarnya lebih luas dari itu.
Self-care juga berarti:• memberi waktu istirahat untuk diri sendiri, • menjaga pola tidur, • belajar mengatakan “tidak”, • tidak memaksakan diri, • dan memahami batas kemampuan diri. Kadang kita terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain sampai lupa mendengarkan diri sendiri.
Padahal kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Jika tubuh yang sakit membutuhkan istirahat dan pengobatan, maka pikiran yang lelah juga membutuhkan perhatian.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang akhirnya terbiasa memendam kelelahan demi terlihat baik-baik saja.
Padahal menjadi manusia tidak harus selalu kuat setiap waktu.
Ada saat di mana seseorang merasa lelah, bingung, kecewa, atau kehilangan arah. Dan itu bukan sesuatu yang memalukan.
Mungkin dunia memang sering menuntut kita untuk terus berjalan. Tetapi sesekali, tidak ada salahnya memberi ruang untuk diri sendiri bernapas lebih pelan.
Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang terlihat sempurna di depan orang lain, melainkan tentang mampu hidup dengan lebih jujur terhadap diri sendiri.
ReferensiAmerican Psychological Association. (2023). Stress effects on the body. APA Official WebsiteKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pentingnya menjaga kesehatan mental. Kemenkes RIWorld Health Organization. (2022). Mental health: Strengthening our response. WHO Official Website
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
