Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Dunia Menanti Perdamaian Timur Tengah, Tetapi Amerika Serikat-Israel Sulit Dipercaya

Politik | 2026-06-28 14:50:34
Gambar Ilustrasi Situasi Konflik Perang di Timur Tengah, Generate Al.

Opini – Pada 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap berbagai target di Iran. Di hari ke-120 perang setelah Mou Perdamaian disepakati, Namun terjadi lagi Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak. Militer AS pada Jumat (26/6/2026) melancarkan serangan terhadap fasilitas rudal, drone, dan radar di pesisir Iran sebagai balasan atas insiden serangan drone terhadap kapal kargo di Selat Hormuz. Menanggapi serangan itu, IRGC membalas dengan menargetkan lokasi penempatan militer AS di wilayah tersebut, sementara otoritas Iran mengecam tindakan Washington sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB dan kesepakatan damai yang baru saja disepakati.

Mencermati itu, kita mengamati Timur Tengah kembali menjadi pusat perhatian dunia. Di tengah penderitaan rakyat sipil, kehancuran infrastruktur, dan ancaman meluasnya konflik, masyarakat internasional berharap lahirnya perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Namun, di balik berbagai upaya diplomasi, muncul satu pertanyaan yang terus bergema: mengapa sebagian masyarakat internasional memandang Amerika Serikat sebagai pihak yang sulit dipercaya dalam mewujudkan perdamaian di Timur Tengah?

Pertanyaan ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan akumulasi dari pengalaman sejarah, dinamika geopolitik, dan kebijakan luar negeri yang selama puluhan tahun dipandang oleh banyak pihak belum sepenuhnya konsisten. Di sisi lain, ada pula pandangan yang menilai Amerika Serikat tetap memiliki peran penting sebagai mediator dalam berbagai perundingan damai. Karena itu, pembahasan ini perlu dilihat secara utuh dan berimbang.

Bagi banyak pengamat hubungan internasional, kredibilitas sebuah negara tidak hanya diukur dari pidato-pidato diplomatik, tetapi juga dari konsistensi antara prinsip yang dikemukakan dan tindakan yang diambil. Ketika suatu negara menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional di satu kawasan, tetapi dinilai bersikap berbeda di kawasan lain, kepercayaan publik global dapat terkikis.

Ilmuwan politik John J. Mearsheimer berpendapat bahwa negara-negara besar sering bertindak berdasarkan kepentingan strategisnya. Dalam perspektif offensive realism, kebijakan luar negeri kerap didorong oleh kepentingan keamanan dan pengaruh, bukan semata-mata oleh idealisme. Pandangan ini membantu menjelaskan mengapa keputusan negara adidaya sering dipersepsikan berbeda oleh berbagai pihak.

Sementara itu, Henry Kissinger pernah menekankan bahwa dalam politik internasional, tidak ada persahabatan yang abadi, melainkan kepentingan yang abadi. Gagasan tersebut menggambarkan bahwa diplomasi global sering kali merupakan perpaduan antara nilai-nilai dan kepentingan nasional.

Bagi masyarakat Timur Tengah, sejarah masih menjadi memori kolektif yang kuat. Konflik berkepanjangan, intervensi militer, perubahan rezim di beberapa negara, hingga dukungan terhadap sekutu-sekutu strategis membentuk persepsi bahwa perdamaian sering kali dipengaruhi oleh kalkulasi politik dan keamanan. Persepsi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa sebagian kalangan memandang setiap inisiatif diplomatik Amerika Serikat dengan kehati-hatian.

Meski demikian, penting pula diakui bahwa Amerika Serikat telah terlibat dalam berbagai proses perundingan yang menghasilkan sejumlah kesepakatan penting di masa lalu. Keberhasilan maupun kegagalannya menunjukkan bahwa membangun perdamaian di Timur Tengah merupakan tantangan yang melibatkan banyak aktor, bukan hanya satu negara.

Dalam perspektif hukum internasional, ukuran keberhasilan sebuah proses perdamaian adalah penghormatan terhadap kedaulatan negara, perlindungan warga sipil, penegakan hak asasi manusia, dan kepatuhan terhadap aturan internasional. Perdamaian yang bertahan lama memerlukan kepercayaan dari semua pihak yang terlibat.

Dari sudut pandang Islam, perdamaian (as-salām) merupakan nilai yang sangat luhur. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 9 agar orang-orang beriman mendamaikan pihak-pihak yang bertikai dengan adil. Keadilan menjadi syarat utama bagi lahirnya perdamaian yang sejati. Tanpa keadilan, perdamaian hanya akan menjadi jeda sementara sebelum konflik kembali muncul.

Karena itu, dunia saat ini tidak hanya menunggu berhentinya peperangan di Timur Tengah. Dunia juga menunggu hadirnya diplomasi yang konsisten, transparan, dan dipercaya oleh semua pihak. Kepercayaan internasional tidak dibangun melalui kekuatan militer semata, tetapi melalui konsistensi sikap, penghormatan terhadap hukum internasional, dan komitmen terhadap kemanusiaan.

Menurut hemat penulis, perdamaian tidak akan lahir dari dominasi satu kekuatan, melainkan dari keberanian seluruh pihak untuk mengutamakan dialog, keadilan, dan martabat manusia. Amerika Serikat, bersama negara-negara besar lainnya, akan terus dinilai bukan hanya dari apa yang mereka katakan, tetapi juga dari apa yang mereka lakukan. Ketika tindakan sejalan dengan prinsip, kepercayaan dapat tumbuh. Sebaliknya, jika keduanya berjalan berlawanan, dunia akan terus mempertanyakan: apakah perdamaian benar-benar menjadi tujuan utama, atau sekadar bagian dari kepentingan geopolitik yang lebih besar?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image