Like, Share, dan Komentar: Apakah Kita Masih Benar-Benar Berkomunikasi?
Gaya Hidup | 2026-06-26 16:38:41Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat unggahan seseorang, lalu tanpa sadar menekan tombol like, membagikannya ke story, atau meninggalkan komentar singkat seperti "keren", "mantap", atau sekadar emoji? Aktivitas tersebut kini menjadi bagian dari rutinitas harian jutaan orang. Namun, muncul sebuah pertanyaan sederhana: apakah semua itu masih bisa disebut sebagai komunikasi yang sesungguhnya?
Di era digital, komunikasi memang menjadi jauh lebih mudah. Jarak bukan lagi penghalang, informasi menyebar dalam hitungan detik, dan siapa pun dapat menyampaikan pendapatnya kepada banyak orang. Sayangnya, kemudahan tersebut sering kali membuat kualitas komunikasi justru menurun.
Tidak sedikit percakapan yang berhenti pada respons singkat tanpa adanya diskusi yang bermakna. Kita lebih cepat bereaksi daripada memahami isi pesan. Bahkan, tidak jarang seseorang membagikan sebuah informasi tanpa membacanya terlebih dahulu. Akibatnya, kesalahpahaman, penyebaran hoaks, hingga perdebatan yang tidak sehat semakin sering terjadi.
Di sisi lain, media sosial juga mendorong kita untuk mencari validasi melalui angka. Banyak orang merasa lebih dihargai ketika unggahannya mendapatkan ribuan like dan komentar. Padahal, komunikasi bukan tentang seberapa banyak respons yang diterima, melainkan apakah pesan yang disampaikan benar-benar dipahami dan menghasilkan hubungan yang lebih baik.
Etika komunikasi digital menjadi semakin penting dalam kondisi seperti ini. Menghargai pendapat orang lain, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, menggunakan bahasa yang sopan, dan berpikir sebelum berkomentar merupakan bentuk tanggung jawab setiap pengguna internet. Kebebasan berpendapat memang hak setiap orang, tetapi kebebasan tersebut harus diiringi dengan rasa tanggung jawab.
Komunikasi yang baik bukan hanya soal berbicara, tetapi juga mendengarkan. Bukan hanya soal membalas komentar, tetapi juga memahami sudut pandang orang lain. Dunia digital seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan, belajar, dan membangun hubungan yang sehat, bukan sekadar tempat berlomba mencari perhatian.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Kitalah yang menentukan apakah media sosial akan menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarmanusia atau justru tembok yang membuat kita semakin jauh satu sama lain.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak sebelum menekan tombol like, share, atau komentar. Sebab, komunikasi yang bermakna tidak diukur dari banyaknya interaksi, melainkan dari dampak positif yang ditinggalkan bagi orang lain.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
