Jaringan Ulama Nusantara-Timur Tengah dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia
Sejarah | 2026-06-25 14:35:01Jaringan Ulama Nusantara-Timur Tengah dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia
Haniva Felita Nasir
Program Studi Sejarah Peradaban Islam,Fakultas Adab Dan Humaniora,Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Email:hanivafelitanasir@gmail.com
Jika hari ini kita merasakan Pendidikan islam yang ada di Indonesia seperti pesantren atau bahkan lembaga-lembaga islam lainnya,kita mengenal system pesantren dengan kitab kuningnya,tradisi sanad,hingga lahirnya organisasi-organisasi islam besar seperti Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah,semua itu merupakan hasil dari perjuangan Panjang ratusan tahun lalu yang dirintis antar ulama Nusantara dan ulama timur Tengah.Jaringan ini bukan hanya sekedar Sejarah yang berlalu melainkan fondasi yang sampai sekarang masih menjadi bentuk wajah Pendidikan islam Indonesia.
Sejak abad ke-17 hingga ke-19,kiblat keilmuan dunia islam terpusat di dua kota yaitu Makkah dan Madinah,atau yang biasa disebut dengan Haramain.Haramain merupakan tempat awal islam diturunkan kepada nabi Muhammad,dengan memiliki banyak keutamaan.
Dua kota suci ini bukan hanya sebagai tujuan ibadah haji,melainkan juga sebagai pusat Pendidikan tinggi keislaman dunia.Sejarawan Azyumardi Azra,dalam kajiannya yang menjadi rujukan utama studi jaringan ulama,menjelaskan bahwa proses ini terjadi lewat Lembaga-lembaga seperti masjid,ribath,madrasah,hingga rumah pribadi para guru.Di antara semuanya,masjidil haram dan masjid Nabawi menjadi pusat paling Istimewa karena sifatnya yang luas menampung guru dan murid dari seluruh penjuru dunia islam tanpa sekat formalitas seperti yang ada di madrasah.
Pendatang muslim ke Haramain dibagi kedalam tiga kategori.Pertama ada yang disebut little immigrants,yakni mereka yang menetap dan berbaur dengan kehidupan sosial setempat sebagai penduduk biasa dan bukan kalangan para ulama.Kedua ada grand immigrants,yakni ulama yang sudah berbekal ilmu dan langsung berperan sebagai pengajar begitu tiba disana.Ketiga,ada pula ulama serta murid pengembara yang dating untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu,lalu Kembali ke tanah airnya masing-masing membawa pengetahuan yang diperoleh,kategori terakhir inilah yang paling banyak melahirkan jaringan ulama Nusantara karena merekalah yang menjadi penyambungmata rantai keilmuan anatara timur Tengah dan kepulauan Nusantara.
Pola jaringan ini terbentuk lewat dua arah sekaligus:jaringan horizontal yaitu hubungan antara kiai dengan keluarga dan sahabatnya semasa menuntut ilmu.Jaringan vertikal yaitu hubungan antara kiai dengan guru-guru dan para pengikutnya.Dengan guru-gurunya kiai tidak hanya mendapatkan ilmu dan mengamalkannya,akan tetapi mendapatkan akses hubungan dengan keluarga dan sahabat dari guru tersebut.Berkat sistem inilah, ilmu yang diajarkan di pesantren-pesantren terpencil di jawa bisa dilacak garis keturunannya hingga ke ulama-ulama besar seperti Imam al-suyuthi,bahkan hingga ke Rasulullah SAW.
Perintis awal jaringan ini sudah muncul sejak abad ke-17 lewat tokoh seperti Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf al-Singkili, dan Muhammad Yusuf al-Makassari,yang membawa pulang ajaran tasawuf bercocok syariat dari guru-guru besar Madinah seperti Ahmad al-qusyasyi dan Ibrahim al-kurani.Tradisi ini berlanjut pada abad ke-18 lewat nama-nama seperti Abdus Shamad al-palembani,Muhammad arsyad al-banjari, dan Dawud al-fatani,hingga akhirnya mencapai puncak kematangannya pada abad ke-19 lewat dua tokoh sentral yang akan menjadi focus pembahasan ini yaitu Kiai Saleh Darat dan Syekh Nawawi al-Bantani.
Kiai Saleh Darat : Penjaga Sanad,Peletak Dasar Pesantren Modern
Muhammad Saleh yang lebih dikenal sebagai kiai saleh darat,lahir di Desa Kedung Jumbleng, Jepara, sekitar tahun 1820.Sejak kecil ia sudah dibekali ilmu agama oleh ayahnya,Kiai Umar sebelum berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain di jawa, mulai dari Waturoyo di Pati, Kudus, hingga Semarang, sebelum akhirnya berlayar ke Mekkah pada sekitar tahun 1840 an dan menetap di sana hingga sekitar tahun 1870.
Di Haramain,ia berguru kepada deretan ulama besar seperti Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nakhrawi, dan Syekh Abdullah al-Zawawi.Dari jalur-jalur inilah sanad keilmuan tafsirnya tersambung hingga ke Imam al-Suyuthi, penulis tafsir jalalain,lewat jalur yang sama dengan jalur sanad Abdul Rauf al-Singkili dua abad sebelumnya.Sekembalinya ke Semarang ia mendirikan pesantren di Kawasan pesisir bernama darat dan menulis karya monumentalnya, Tafsir Faidh al-Rahman,kitab tafsir berbahasa Jawa pegon pertama di Nusantara yang kental nuansa tasawuf,fiqih Syafi’I, dan teologi Asy’ariyah.
Pengaruh Kiai Saleh Darat terhadap Pendidikan Islam Indonesia tidak berhenti pada karya tulisnya saja.Dari pesantrennya lahir murid-murid yang kelak mengubah peta keagamaan dan Pendidikan nasional, di antaranya KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan Nahdatul Ulama dengan jaringan pesantrennya yang kini berjumlah puluhan ribu di seluruh Indonesia,dan KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah dengan jaringan sekolah serta Lembaga Pendidikan modernnya.Model Pendidikan yang diwariskan Kiai Saleh Darat,yakni penguasaan kita, b kuning lewat sanad yang jelas dipadukan dengan penghayatan tasawuf,menjadi cetak biru Pendidikan pesantren tradisional yang masih hidup hingga hari ini.
Syekh Nawawi al-Bantani: Arsitek Gagasan Pendidikan Islam Transformatif
Sezaman dengan Kiai Saleh Darat,lahir pula Muhammad Nawawi bin Umar di Tanara Banten, pada tahun 1813.Pada usia lima belas tahun ia berangkat ke Mekkah dan menetap di kawasan Syi’ib Ali, berguru kepada para ulama besar yang sebagiannya sama dengan guru Kiai Saleh Darat,seperti Syekh Ahmad Zaini Dahlan dan Syekh Ahmad Nakhrawi.Kesamaan jalur guru ini membuktikan betapa padatnya simpul jaringan ulama kala itu,sebuah bukti nyata dari pola jaringan horizontal yang dijelaskan Azra.
Reputasi Nawawi terus tinggi hingga ia dipercaya menggantikan posisi pengajar di Masjidil Haram dan dijuluki Sayyidul Ulama Hijaz,pemimpin ulama Hijaz, sebuah pengakuan yang sangat langka bagi ulama asal Nusantara.Sepanjang hidupnya ia menulis lebih dari seratus karya mencakup tafsir,fiqh,tauhid,hadis,hingga tasawuf,dengan karya tafsirnya Marah Labid kerap disandingkan dengan tafsir jalalain.
Namun kontribusi terbesar Nawawi terhadap Pendidikan Islam Indonesia justru terletak pada gagasannya tentang Pendidikan,yang oleh para peneliti disebut sebagai Pendidikan islam transformative.Nawawi membedakan sekaligus memadukan tiga istilah kunci dalam Pendidikan islam yaitu ta’lim yang mencakup transfer ilmu,nilai,dan metode sekaligus transformasi kepribadian,tarbiyah yang lebih dekat pada pengasuhan masa kanak-kanak,dan ta’dib yang berfokus pada pembentukan akhlak dan budi pekerti.Bagi Nawawi Pendidikan sejati tidak berhenti pada transfer pengetahuan semata,melainkan harus menyentuh transformasi diri peserta didik secara utuh.
Gagasan paling progresif dari Nawawi adalah penolakannya terhadap dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.Ia berpandangan bahwa ayat-ayat Qauliyah atau wahyu, ayat-ayat Kauniyah atau fenomena alam, dan sunnatullah atau hukum alam,ketiganya berasal dari satu sumber yang sama,yaitu allah sehingga seharusnya secara terpadu bukan dipisah-pisahkan.Tujuan Pendidikan baginya mencakup empat dimensi sekaligus,yaitu meraih kebahagiaan ukhrawi,mencerdasklan diri dan orang lain,menghidupkan ajaran islam lewat penguasaan ilmu,serta mensyukuri nikmat akal dan Kesehatan jasmani lewat pemanfaatannya yang benar.
Dalam metode pengajarannya,Nawawi kerap memakai perumpamaan bahwa syariat itu seprti perahu,tarekat seperti lautan,dan hakikat adalah Mutiara di dasarnya,yang hanya bisa diraih lewat perjuangan menjalani syariat dengan sunguh-sungguh.
Bagaimana Jaringan Ini Membentuk Wajah Pendidikan Islam Indonesia Hari Ini
Pengaruh jaringan ulama Nusantara-Timur Tengah ini terasa jauh melampaui zamannya sendiri.Pertama,tradisi sanad dan ijazah yang dijaga ketat oleh Kiai Saleh Darat dan Syekh Nawawi masih menjadi fondasi legitimasi keilmuan di pesantren-pesantren Indonesia hingga sekarang.Seorang santri yang menamatkan kitab tertentu masih lazim mendapatkan ijazah yang menyambungkan dirinya pada mata rantai guru hingga pengarang kitab aslinya,sebuah praktik yang langsung mewarisi pola haramain abad ke-19.
Kedua,kurikulum kitab kuning yang diajarkan di pesantren tradisional,mulai dari Fath al-Qarib,Fath al-wahab,hingga Tafsir Jalalain dan Ihya Ulumiddin,Sebagian besar adalah kitab-kitab yang sama persis dengan yang dipelajari Kiai Saleh Darat dan Syekh Nawawi dari guru-guru mereka di Makkah.Artinya,Ketika seorang santri di pesantren mana pun di Indonesia hari ini mempelajari kitab-kitab tersebut,ia sesungguhnya sedang melanjutkan mata rantai keilmuan yang sama yang dibangun dua abad lalu.
Ketiga,corak keislaman moderat yang memadukan fiqh syafi’i,teologi asy’ariyah,dan tasawuf,yang menjadi ciri khas mayoritas muslim Indonesia,dapat ditelusuri langsung pada warna keilmuan yang dibawa pulang oleh kedua tokoh ini dari haramain.Pola Pendidikan yang menyeimbangkan syariat formal dengan kedalaman spiritual inilah yang kemudian diwariskan turun-temurun lewat ribuan pesantren di seluruh Nusantara.
Keempat,dan barangkali yang konkret Lembaga-lembaga Pendidikan islam modern Indonesia,baik yang berbasis pesantren tradisional di bawah naungan Nahdatul Ulama maupun sekolah dan perguruan tinggi modern di bawah Muhammadiyah,sama-sama berakar pada murid-murid jaringan haramain abad ke-19 ini.Dua arus besar Pendidikan islam Indonesia yang sering dianggap berseberangan secara metodologis ternyata bersumber dari satu mata air keilmuan yang sama.
Kelima,gagasan integrasi ilmu agama dan sains yang dirintis Syekh Nawawi jauh sebelum istilah ini popular,kini menjelma menjadi semangat besar di balik transformasi IAIN menjadi UIN serta berbagai diskursus integrasi keilmuan di perguruan tinggi Islam Indonesia kontemporer.Cita-cita Nawawi untuk melahirkan generasi yang sekaligus religious dan saintifik,agamawan yang berpikiran ilmiah dan ilmuan yang berakhlak,terus diagungkan ulang oleh para pendidik dan akademis muslim hari ini meski dngan istilah yang berbeda.
Kisah jaringan ulama Nusantara-Timur Tengah ini juga membantah anggapan Sebagian sejarawan barat,seperti Howard Federspiel yang menyambut tradisi penafsiran al-quran di Nusantara baru benar-benar berkembang pada abad ke-20.Keberadaan Tafsir Faidh al-Rahman dan karya-karya tafsir Syekh Nawawi membuktikan bahwa benih tradisi keilmuan islam yang matang sudah tumbuh subur di Nusantara jauh sebelum abad ke-20,sebagai kelanjutan tradisi yang dirintis Abdul Rauf al-sinkili pada abad ke-17.
Lebih dari sekedar catatan Sejarah,jaringan ulama ini adalah pengingat bahwa Pendidikan islam di Indonesia tidak pernah lahir dalam ruang hampa.Ia adalah hasil dari kerja keras lintas generasi,lintas benua,dan lintas budaya,yang dijaga lewat sebuah prinsip sederhana namun kokoh,yaitu ilmu harus bisa dipertanggungjawabkanasal-usulnya.Di tengah derasnya arus informasi instan hari ini,semangat menjaga sanad keilmuan sekaligus keterbukaan terhadap dunia luar.Sebagaimana yang dicontohkan Kiai Saleh Darat dan Syekh Nawawi al-Bantani,masih menjadi Pelajaran berharga bagi masa depan Pendidikan islam di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah bin ‘Abdurahman bin ‘Abdurrahim al-Mua’alimin. (2000). Alam al-Makiyyin min al-Qarn al Tasi’ ila al-Qarn al-Rabi ‘Asyara al-Hijriy.
Al-Bantani, Syeikh Nawawi. Murāh Labid Tafsir fi Kasyf Ma‟na Qur‟an Majdīd, Mesir: Dar Ihyā al-Kutub al-„Arabiyah li Ashabiha, tth. Juz ke-1 dan 2.
Amin, Samsul Munir. Sayyid Ulama Hijaz Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2009.
Arbain Nurdin. “Paradigma Islam Transformatif dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam,” Tesis tidak diterbitkan, Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim, 2013.
Azra, A. (2013). The Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah in Southeast Asia: The Literature of Malay Indonesia ‘Ulama’and Reforms. Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage, 2(1), 1–21.
Azra, Azyumardi, Jaringan Global Dan Lokal Islam Nusantara, (tanpa kota terbit :Mizan, TT)
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nuasantara Abad XVII & XVIII, (Depok: Prenadamedia Group, 2013).
Azyumardi Azra. (2001). Networks of The Ulama In The Haramayn Connections In The Indian Ocean Regions. 8(2). http://dx.doi.org/10.15408/sdi.v8i2.689
Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES, 2011.
Khaeroni, Khaeroni. “Pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani Tentang Pendidikan Dalam Kitab Tafsir MarāḤ Labīd.” Geneologi PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam 8, no. 1 (2021): 232–333.
Maragustam. Pemikiran Pendidikan Syekh Nawawi al-Bantani, Yogyakarta: Datamedia, 2007.
Muchayar. (n.d.). KH. Muhammad Salih Darat al-Samarani, Studi Tafsir Faid Rahman.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
