Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syifa Alimar

Kurikulum untuk Siapa? Menimbang Kepentingan di Balik Pendidikan

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-24 18:52:18

Setiap kali ada pergantian presiden atau menteri pendidikan, kurikulum biasanya ikut “ganti baju” dan langsung jadi bahan obrolan panas. Yang sering dibahas pun biasanya hal-hal teknis: tugas guru semakin banyak atau tidak, aplikasi baru ribet atau tidak, sampai sistem nilai yang bikin pusing atau tidak. Padahal kalau dilihat lebih dalam, kurikulum itu bukan cuma daftar pelajaran yang kelihatan rapi di atas kertas. Kurikulum sebenarnya adalah “medan pertempuran ide” tempat politik, ekonomi, dan kepentingan sosial saling tarik-menarik untuk menentukan arah pendidikan. Jadi wajar kalau muncul pertanyaan penting: sebenarnya semua perubahan ini lebih menguntungkan siapa, ya?

Sosiolog Michael Apple pernah mengenalkan istilah official knowledge atau pengetahuan resmi. Intinya, apa yang kita pelajari di sekolah itu bukan semua ilmu yang ada di dunia, tapi sudah dipilih dan “disaring” dulu. Dalam proses ini, selalu ada pihak yang menentukan: sejarah versi siapa yang dipakai, nilai apa yang dianggap penting, dan suara siapa yang paling dominan. Biasanya, kelompok yang punya kekuasaan politik dan ekonomi lebih besar ikut menentukan isi pelajaran yang akhirnya kita anggap “normal” dan wajib dipelajari di sekolah.

Di sisi lain, pendidikan juga sering diarahkan supaya cocok dengan dunia kerja lewat konsep link and match. Tujuannya supaya lulusan cepat dapat pekerjaan dan sesuai kebutuhan industri. Sekilas ini terdengar bagus dan masuk akal, tapi ada efek sampingnya. Pelajaran seperti sosiologi, sejarah, filsafat, dan seni sering dianggap kurang penting karena tidak langsung “menghasilkan uang”. Akhirnya, siswa lebih sering dipersiapkan jadi “tenaga kerja siap pakai” daripada jadi orang yang kritis dan peka terhadap masalah sosial di sekitarnya.

Ilustrasi siswa sedang membaca. Sumber: Unplash

Selain kurikulum yang tertulis di buku, ada juga yang namanya hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Ini adalah nilai-nilai yang tidak diajarkan secara langsung, tapi tetap kita serap setiap hari di sekolah. Contohnya seperti harus selalu patuh tanpa banyak bertanya, terbiasa dengan sistem ranking, atau belajar bersaing sendiri-sendiri. Tanpa sadar, hal ini bisa membentuk cara kita melihat dunia, bahkan membuat ketimpangan sosial terasa seperti sesuatu yang “biasa saja” dan wajar terjadi.

Kalau Paulo Freire melihat ini, ia mungkin akan bilang: pendidikan itu seharusnya bukan bikin kita jadi “robot patuh aturan”, tapi justru bikin kita makin sadar dan berani berpikir. Maka dari itu, kurikulum seharusnya tidak hanya soal isi pelajaran, tapi juga soal keberanian untuk berpikir kritis, menghargai pengetahuan lokal, dan memberi kesempatan belajar yang adil untuk semua.

Dan kalau ditarik kesimpulan kurikulum itu bukan sekadar “apa yang kita pelajari di sekolah”, tapi juga “cara kita diajarkan untuk melihat dunia”. Jadi lain kali ada ganti kurikulum, jangan cuma tanya “apanya yang berubah?”, tapi juga boleh iseng tanya ini kita lagi disiapin jadi apa sih, dan kita mau jadi apa sebenarnya?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image