Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ROKHMI LIBERTAWATI

Menggenggam Dunia, Melupakan Paradoks Media Sosial dan Phubbing

Info Terkini | 2026-06-23 08:41:37
sumber : pinterest

Sebuah Ironi di Meja Makan

Bayangkan situasi yang barangkali sudah menjadi makanan kita sehari-hari berikut ini. Anda sedang duduk di sebuah kafe bersama seorang sahabat lama yang sudah berbulan-bulan tidak Anda temui. Kopi hangat sudah dihidangkan, musik latar mengalun lembut, dan atmosfer malam begitu mendukung untuk sebuah obrolan mendalam. Namun, apa yang sebenarnya terjadi setelah sepuluh menit berlalu? Keheningan justru melanda meja Anda, bukan karena tidak ada bahan pembicaraan yang menarik, melainkan karena keempat pasang mata termasuk Anda sendiri sedang tertuju pada smartphone di genggaman masing-masing. Jari-jari sibuk menggeser layar, sesekali sudut bibir tersenyum sendiri melihat video singkat yang lewat di beranda TikTok, atau jempol bergerak cepat membalas pesan dari orang lain yang jaraknya ratusan kilometer jauhnya.

Fenomena ini bukanlah pemandangan asing lagi bagi kita, khususnya generasi muda yang kerap dikategorikan sebagai Generasi Z dan Milennial. Kita hari ini hidup di era di mana hubungan digital berada pada titik tertingginya dalam sejarah peradaban manusia. Media sosial seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan WhatsApp telah bertransformasi dari sekadar alat bantu komunikasi menjadi ruang ekologis baru tempat kita hidup, mencari identitas, dan mengaktualisasikan diri.

Namun, di balik kemudahan luar biasa untuk terhubung dengan dunia luar, ada harga mahal yang harus dibayar dalam ruang sosial nyata kita. Lahirlah sebuah perilaku baru yang dalam kajian komunikasi kontemporer disebut sebagai phubbing sebuah istilah serapan dari kata phone (telepon) dan snubbing (mengabaikan). Secara sederhana, phubbing adalah tindakan mengabaikan orang yang berada di hadapan kita demi berinteraksi dengan ponsel? Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana media sosial secara perlahan telah mengubah perilaku dan budaya komunikasi generasi muda. Mengapa layar kaca yang dingin bisa terasa jauh lebih intim daripada kehadiran manusia di dekat kita? Mari kita bedah paradoks terbesar abad ini ketika teknologi mendekatkan yang jauh, namun secara tragis menjauhkan yang dekat.

Menelusuri Akar Masalah Mengapa Layar Lebih Menarik daripada Teman Bicara?

Untuk memahami mengapa generasi muda begitu mudah jatuh ke dalam jebakan phubbing, kita tidak bisa hanya memandangnya dari sudut pandang yang sempit, seperti menuduh mereka kurang sopan santun atau tidak tahu tata krama. Fenomena ini memiliki akar yang sangat dalam pada psikologi komunikasi digital dan kecerdasan artifisial (algorithmic design) yang menggerakkan platform media sosial modern.

Candu Dopamin dan Sistem Validasi Instan

Secara neuropsikologis, aplikasi media sosial dirancang dengan prinsip yang mirip dengan mesin judi slot di Kasino, yaitu variable reward system (sistem imbalan yang berubah-ubah). Ketika kita membuka ponsel, otak kita berada dalam kondisi penasaran Apakah ada tombol suka baru di unggahan foto saya? Apakah ada komentar baru? Ataukah ada video viral yang sedang hangat dibicarakan? Proses antisipasi dan penerimaan validasi digital ini merangsang pelepasan dopamin di otak sebuah senyawa kimia yang bertanggung jawab atas rasa senang, penghargaan, dan kepuasan instan. Interaksi tatap muka di dunia nyata berjalan dengan ritme yang alami dan lambat. Kita harus mendengarkan, merespons, dan toleransi jeda obrolan. Bagi generasi yang terbiasa dengan stimulasi instan layar gawai, interaksi nyata ini sering kali dipersepsikan oleh otak sebagai sesuatu yang membosankan atau kurang memberikan umpan balik yang cepat.

Penjara Psikologis Bernama FOMO (Fear of Missing Out)

Generasi muda saat ini dihantui oleh kecemasan akut yang terstandarisasi secara global dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO). Media sosial bergerak tanpa jeda selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Siklus informasi berputar dalam hitungan detik. Ketika seorang remaja meletakkan ponselnya untuk mengobrol dengan temannya, muncul ketakutan bahwa ia telah melewatkan sebuah tren atau isu sosial yang sedang viral. Berdasarkan riset ilmiah di Indonesia, ketergantungan yang intens pada internet dan ketakutan akan kehilangan momen (FOMO) ini berkorelasi langsung meningkatkan kecenderungan adiksi smartphone serta perilaku phubbing secara signifikan di kalangan pelajar dan mahasiswa (Anshari et al., 2025; Irawan & Tatiyani, 2023). Ketakutan merasa tertinggal inilah yang memaksa tangan untuk terus-menerus memeriksa notifikasi secara impulsif.

Ilusi Kehadiran Sosial (Social Presence)

Dalam ilmu komunikasi, terdapat konsep klasik yang dikenal sebagai Social Presence Theory (Teori Kehadiran Sosial). Teori ini menjelaskan sejauh mana sebuah media mampu membuat penggunanya merasakan kehadiran psikologis dari orang lain yang berkomunikasi dengannya. Melalui fitur-fitur seperti live streaming, cerita video instan (stories), hingga ruang obrolan multimedia, media sosial berhasil menciptakan ilusi kehadiran yang sangat pekat. Seorang anak muda merasa bahwa ketika ia mengunggah sesuatu ke media sosial, ia sedang disaksikan dan ditemani oleh ratusan teman digitalnya. Akibatnya, nilai signifikan dari satu orang manusia nyata yang sedang duduk di hadapannya menjadi tersingkirkan karena kalah jumlah oleh massa anonim di dunia maya.

Dampak Nyata Perilaku Phubbing Retaknya Hubungan Emosional dan berkurangnya Empati

Perubahan perilaku komunikatif ini membawa dampak yang tidak bisa diremehkan terhadap kualitas hubungan interpersonal masyarakat. Komunikasi manusia seutuhnya bukanlah sekadar pertukaran kata-kata verbal yang kering. Komunikasi yang sehat melibatkan elemen non verbal yang kaya kontak mata (eye contact), perubahan ekspresi wajah, gestur tubuh, hingga intonasi suara yang menunjukkan kedalaman rasa. Ketika tindakan phubbing terjadi di tengah-tengah percakapan, seluruh jalinan elemen non-verbal tersebut mendadak terputus. Berikut adalah analisis dampak perilaku phubbing terhadap dimensi komunikasi interpersonal

Kualitas Obrolan

Percakapan menjadi dangkal, penuh interupsi, dan kehilangan substansi makna terdalam karena perhatian yang terbagi (Vanden Abeele et al., 2016). Obrolan tatap muka yang hangat perlahan bergeser menjadi teks kering di ruang digital, membuat hubungan pertemanan terasa renggang secara emosional.

Rasa Percaya

Lawan bicara merasa tidak dihargai, tidak didengarkan, dan dianggap memiliki nilai kepentingan yang lebih rendah daripada isi ponsel pelaku (Chotpitayasunondh & Douglas, 2016). Dalam etika komunikasi sosial, pengabaian ini melukai perasaan harga diri individu lain.

Kedekatan Emosional

Menurunnya kepuasan relasi sosial akibat rusaknya sinkronisasi emosi yang biasanya disalurkan lewat tatapan mata (Roberts & David, 2016). Keintiman interpersonal tidak lagi terbangun secara alamiah.

Kesehatan Mental

Korban phubbing secara konsisten akan merasakan penolakan sosial kecil yang memicu kecemasan dan kesepian. Di lingkungan pendidikan, perilaku ini bahkan menjadi tantangan serius yang mampu menurunkan fokus belajar serta kualitas literasi informasi para pelajar (Anshari et al., 2025).

Ketika Anda melakukan phubbing kepada lawan bicara Anda baik itu orang tua, pasangan, dosen, maupun sahabat Anda sebenarnya sedang mengirimkan sebuah pesan tersirat yang sangat tajam Apa yang ada di dalam genggamanku saat ini jauh lebih menarik, jauh lebih penting, dan jauh lebih berharga daripada kehadiran dirimu di depanku. Banyak riset psikologi sosial modern membuktikan bahwa lingkaran pertemanan yang memiliki intensitas perilaku phubbing tinggi menunjukkan tingkat kepuasan hubungan yang sangat rendah dan sangat rentan terhadap konflik salah paham.

Ketika Anda melakukan phubbing kepada lawan bicara Anda baik itu orang tua, pasangan, dosen, maupun sahabat Anda sebenarnya sedang mengirimkan sebuah pesan tersirat yang sangat tajam Apa yang ada di dalam genggamanku saat ini jauh lebih menarik, jauh lebih penting, dan jauh lebih berharga daripada kehadiran dirimu di depanku. Banyak riset psikologi sosial modern membuktikan bahwa lingkaran pertemanan yang memiliki intensitas perilaku phubbing tinggi menunjukkan tingkat kepuasan hubungan yang sangat rendah dan sangat rentan terhadap konflik salah paham.

Pergeseran Budaya Komunikasi Dari Dialog Menjadi Monolog Performatif

Kehadiran media sosial tidak hanya mengubah skala mikro perilaku individu, melainkan telah merubah struktur makro budaya komunikasi generasi muda secara keseluruhan di Indonesia. Penelitian sosiologi komunikasi menunjukkan adanya pergeseran paradigma komunikasi yang sangat mendasar dari budaya yang awalnya bersifat dialogis (dua arah, mendalam, dan transformatif) menjadi budaya monolog massal yang performatif yang melahirkan fenomena bersosialisasi secara semu atau alone together (Saleh & Pitriani, 2018). Mari kita cermati bagaimana anak-anak muda zaman sekarang berkumpul. Sering kali, agenda utama berkumpul bukan lagi untuk saling berbicara, melainkan untuk mendokumentasikan bahwa mereka sedang berada di tempat tersebut bersama-sama. Aktivitas makan bersama di restoran atau kafe, misalnya, kini wajib melewati ritme liturgi digital memfoto makanan secara estetik, mengunggah ke platform digital seperti TikTok atau Instagram, lalu sibuk memantau siapa saja penontonnya.

Kondisi ini dibenarkan dalam kajian sosiologi digital kontemporer di Indonesia yang memaparkan bahwa pemanfaatan media sosial yang tidak terkontrol telah mentransformasi nilai-nilai kesopanan dan interaksi riil generasi muda (Salsabila & Anshori, 2025). Remaja cenderung menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengkonsumsi konten hingga mengubah gaya berbicara dan mengikis adab komunikasi tatap muka mereka di dunia nyata. Esensi pertemuan fisik bergeser radikal dari ruang berbagi rasa menjadi sekadar komoditas konten demi membangun citra diri digital.

Budaya baru ini melahirkan generasi yang sangat piawai atau vokal di kolom komentar, namun mendadak cemas, terbata-bata, dan kikuk ketika harus melakukan percakapan tatap muka secara mendalam. Di dunia digital, mereka memiliki kontrol penuh yaitu bisa menghapus ketikan yang salah sebelum dikirim, memilih filter wajah agar terlihat tanpa celah, dan mengabaikan pesan yang tidak nyaman begitu saja. Sebaliknya, komunikasi nyata di dunia riil bersifat spontan, tidak menyediakan tombol hapus, tidak dapat disunting, dan menuntut tanggung jawab respons saat itu juga sebuah karakteristik komunikasi yang semakin dirasa asing bagi generasi digital natives.

Solusi dan Refleksi Menghidupkan Kembali Seni Mengobrol di Era Digital

Kita tentu harus berpikir secara realistis dan dewasa. Menolak kehadiran teknologi internet secara total atau bersikap anti teknologi adalah langkah mundur yang tidak bijaksana. Media sosial memiliki segudang manfaat luar biasa ia meruntuhkan sekat birokrasi, membuka peluang ekonomi kreatif, dan menyebarkan pengetahuan ke seluruh pelosok bumi dengan demokratis. Masalah utamanya bukan terletak pada alatnya, melainkan pada bagaimana manusia mengoperasikan alat tersebut tanpa kesadaran penuh. Solusi jangka panjang yang harus kita tempuh adalah membangun kesadaran digital serta membangun kembali budaya komunikasi yang sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah beberapa langkah praktis dan taktis yang dapat diadopsi oleh generasi muda untuk memutus rantai perilaku phubbing

Aturan dilarang menggunakan Smartphone saat berkumpul

Ketika Anda sedang berkumpul di kafe atau meja makan bersama teman atau keluarga, buat sebuah kesepakatan bersama. Kumpulkan seluruh ponsel dan tumpuk di tengah-tengah meja dalam posisi tengkurap. Aturannya sederhana, siapa pun yang pertama kali tidak tahan dan mengambil ponselnya sebelum acara kumpul selesai, maka dialah yang berkewajiban membayar seluruh tagihan makanan atau minuman di meja tersebut. Teknik berbasis permainan ini terbukti sangat efektif untuk memaksa individu kembali berinteraksi satu sama lain.

Menetapkan Zona Bebas Gawai

Buatlah batasan ruang dan waktu yang sakral di lingkungan kita. Misalnya, tetapkan aturan bahwa ponsel tidak boleh dibawa dan digunakan ketika berada di meja makan keluarga atau di dalam ruang ibadah. Batasan waktu juga bisa diterapkan, seperti mematikan koneksi internet ponsel satu jam sebelum tidur demi menjaga kualitas istirahat, dan memberikan ruang bagi obrolan reflektif dengan keluarga.

Melatih Literasi Digital Preventif

Membimbing diri sendiri dan sirkel terdekat agar tidak terjebak dalam arus dekadensi moral digital. Penguatan literasi digital bukan sekadar tahu cara memakai gawai, melainkan bijak menempatkan kapan gawai harus digunakan dan kapan harus disimpan demi menghormati manusia di sekitar kita.

Menanamkan kembali Pola Pikir Etika Komunikasi

Kita perlu menanamkan kembali pemahaman mendasar dalam sanubari bahwa manusia yang berada di hadapan kita adalah makhluk hidup seutuhnya yang memiliki perasaan, pikiran, dan kebutuhan untuk diakui keberadaannya. Menatap mata lawan bicara saat ia bercerita adalah bentuk penghormatan paling mendasar sekaligus bentuk tertinggi dari etika komunikasi manusia.

Mengembalikan Jiwa yang Utuh ke Ruang Nyata

Teknologi komunikasi modern telah berhasil mencetak prestasi yang luar biasa ia meruntuhkan dinding-dinding pembatas geografis, memungkinkan kita untuk menyapa, melihat, dan bercakap-cakap dengan seseorang yang berada di belahan bumi lain hanya dalam hitungan detik. Namun, sungguh sebuah tragedi dan ironi kebudayaan yang besar jika teknologi yang diciptakan untuk menyatukan manusia tersebut justru membangun tembok psikologis yang tebal, dingin, dan kaku di antara dua orang manusia yang sedang duduk berdampingan di atas satu sofa yang sama. Perilaku phubbing dan pergeseran budaya komunikasi performatif di kalangan generasi muda adalah sebuah alarm peringatan yang berbunyi nyaring bagi keberlangsungan tatanan sosial kita. Kita harus lekas sadar bahwa kehangatan dari sebuah senyuman tulus yang mengembang di wajah, binar mata yang memancarkan antusiasme cerita, serta tepukan hangat di pundak seorang sahabat tidak akan pernah bisa digantikan oleh ribuan karakter teks, deretan emoji tercanggih, atau jutaan tombol likes di jagat maya.

Teknologi adalah pelayan yang sangat baik untuk mempermudah peradaban kita, namun ia akan berubah menjadi tuan yang sangat kejam jika kita membiarkannya mendikte bagaimana kita cara kita mencintai, cara kita menghargai, dan cara kita berkomunikasi satu sama lain. Mari kita ambil keputusan kecil namun berdampak besar mulai hari ini letakkan gawai Anda sejenak, angkat kepala Anda, tatap mata orang yang ada dihadapan Anda, dan mulailah kembali mengobrol dengan kehadiran jiwa yang utuh.

Daftar Pustaka 
Chotpitayasunondh, V., & Douglas, K. M. (2016). How “phubbing” became the norm: The antecedents and consequences of snubbing smartphone users. Computers in Human Behavior, 63, 9–18. 

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.

Roberts, J. A., & David, M. E. (2016). My life has become a major distraction from my cell phone: Partner phubbing and relationship satisfaction among romantic partners. Computers in Human Behavior, 54, 134–141.

Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.

Vanden Abeele, M. M., Antheunis, M. L., & Schouten, A. P. (2016). The effect of mobile device use on objective and subjective characteristics of face-to-face conversation. Computers in Human Behavior, 64, 566–578.

Anshari, M. H., Fauziah, N. H. I., & Zulaikha, S. R. (2025). Phubbing sebagai tantangan dalam peningkatan kemampuan literasi di kalangan pelajar. Pustaka Karya: Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 13(1), 183–194.

Irawan, A. W., & Tatiyani, T. (2023). Hubungan antara fear of missing out dan smartphone addiction terhadap kecenderungan perilaku phubbing pengguna social media pada siswa kelas XI MAN 3 Jakarta Pusat. Psikologi Kreatif Inovatif, 3(3), 112–121.

Saleh, G., & Pitriani, R. (2018). Pengaruh media sosial Instagram dan Whatsapp terhadap pembentukan budaya “alone together”. Jurnal Komunikasi, 10(2), 103–114.

Salsabila, A., & Anshori, I. (2025). Dampak digitalisasi dan media sosial terhadap interaksi sosial di masyarakat. Jurnal Penelitian Inovatif, 5(2), 1873–1880.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image