Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Firyal Khansa Aulia

Ini Bukan Duniaku: Dinamika Anak Jateng di Surabaya

Curhat | 2026-06-21 10:54:23

“Ini bukan duniaku.” Kalimat itu mungkin terdengar alay ataupun berlebihan untuk beberapa orang, tetapi bagi pelajar Jawa Tengah yang merantau ke Surabaya, perasaan itu sangat nyata dan kuat. Perpindahan ini bukan soal jarak, tapi juga soal budaya, cara hidup, dan bahkan rasa di hati.

Di Jawa Tengah, banyak mahasiswa tumbuh di lingkungan yang tenang dan teratur. Orang-orang terbiasa berbicara dengan hati-hati dan suasana terasa sangat hangat. Tidak banyak tekanan untuk bergerak cepat. Namun, Surabaya menawarkan sebaliknya. Kota ini bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. Orang berbicara tanpa banyak basa-basi. Bagi yang belum terbiasa, gaya seperti ini terasa “menyentak”. Bukan kasar, hanya cara yang berbeda.

Di lingkungan kampus, seperti Universitas Airlangga, perubahan ini cukup terasa. Siswa didorong untuk aktif dan gesit. Diskusi berlangsung dinamis, kadang cepat, kadang penuh. Tidak ada banyak ruang untuk ragu terlalu lama. Semua menuntut kesiapan.

Di titik inilah banyak pelajar Jawa Tengah mulai berpikir pada dilema, yaitu tetap seperti diri sendiri atau menyesuaikan diri dengan lingkungan? Tidak sedikit yang awalnya memilih diam, mengamati, dan mencoba memahami. Namun perlahan, keadaan saat ini mendorong mereka berubah.

Selain itu, kehidupan di kota juga menuntut kemandirian. Jauh dari rumah berarti harus belajar mengurus diri sendiri, mulai dari hal sederhana seperti makan dan mencuci, hingga mengatur waktu dan keuangan. Di tengah kesibukan yang padat, semuanya harus dilakukan dengan lebih disiplin.

Meski tidak mudah, proses ini membawa perubahan yang berarti. Yang awalnya canggung, perlahan menjadi terbiasa. Yang awalnya diam, mulai berani berbicara. Yang awalnya merasa asing, akhirnya menemukan tempatnya sendiri.

Kalimat “ini bukan duniaku” pun perlahan bergeser maknanya. Bukan lagi tentang penolakan, tetapi tentang proses mengenalkan sesuatu yang baru. Dunia yang berbeda justru memperluas cara pandang, membentuk kepribadian yang lebih adaptif, tanpa harus kehilangan jati diri.

Pada akhirnya, menjadi anak Jawa Tengah di Surabaya bukan tentang siapa yang lebih benar, tetapi tentang bagaimana belajar menyesuaikan diri. Di antara perbedaan itu, justru tumbuh keseimbangan baru antara ketenangan yang dibawa dari kampung halaman dan ketegasan yang dipelajari di kota.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image