Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alifa Deswanti Rizqiana

Fenomena Doomscrolling dan Dampaknya terhadap Cara Berpikir

Eduaksi | 2026-06-17 18:19:58
cr : Pinterest
cr : Pinterest

Penulis: Alifa Deswanti Rizqiana

Afiliasi: Universitas Airlangga

Email: [alifa.deswanti.rizqiana-2025@fst.unair.ac.id]

Pukul satu pagi, jutaan orang di berbagai penjuru dunia masih terjaga, jempol mereka terus menggeser layar ponsel, mencari satu lagi berita, satu lagi update, satu lagi alasan untuk khawatir. Kebiasaan ini punya nama: doomscrolling. Istilahnya resmi masuk kamus Merriam-Webster pada 2022, meski perilakunya sudah lama dikenal, terutama sejak pandemi mendorong miliaran orang untuk terus memantau berita lewat ponsel, bahkan di tengah malam sekalipun, seperti dicatat peneliti Sharma dan Sharma pada 2020.

Banyak yang menganggap doomscrolling sekadar soal lelah dan cemas. Padahal, sejumlah kajian menunjukkan dampaknya jauh lebih dalam: kebiasaan ini diam-diam mengikis cara berpikir, bukan hanya kondisi emosional semata.

Ada alasan evolusioner mengapa kebiasaan ini begitu sulit dihentikan. Manusia memiliki yang disebut negativity bias, kecenderungan bawaan untuk lebih memperhatikan informasi negatif dibanding positif, sebagaimana dijelaskan Rozin dan Royzman pada 2001. Dulu, sifat ini membantu nenek moyang manusia tetap waspada terhadap bahaya di sekitarnya. Namun di dunia digital yang dipenuhi kabar buruk tanpa henti, mekanisme yang dulunya protektif itu kini justru menjebak banyak orang dalam pusaran kecemasan yang sulit dihentikan. Penelitian Yıldırım dan Güler pada 2022 terhadap lebih dari seribu partisipan di Turki bahkan menemukan bahwa intensitas doomscrolling berkorelasi kuat dengan tingkat kecemasan.

Yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana otak memproses semua informasi ini. Berpikir kritis itu membutuhkan tenaga, secara harfiah. Teori cognitive load yang diperbarui oleh Sweller dan rekan-rekannya pada 2019 menjelaskan bahwa setiap kali seseorang mengevaluasi argumen, mendeteksi kejanggalan logika, atau menimbang bukti, otak memakai sumber daya kognitif yang terbatas. Masalahnya, setiap potongan berita buruk yang dikonsumsi saat scrolling ikut menambah beban itu. Semakin lama sesi scrolling berlangsung, semakin terkuras kapasitas berpikir jernih, bahkan setelah ponsel diletakkan.

Bagian yang paling perlu diwaspadai: ketika kapasitas berpikir kritis melemah, seseorang justru jadi lebih mudah percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak benar. Bukan karena ia bodoh, melainkan karena otak yang lelah cenderung mengandalkan respons cepat dan emosional, bukan analisis yang teliti, sebagaimana digambarkan dalam teori pemrosesan ganda Daniel Kahneman. Studi Altay dan rekan-rekannya pada 2022 menemukan bahwa orang yang sering doomscrolling mengalami penurunan kemampuan mengingat dari mana suatu informasi berasal, padahal kemampuan itu krusial untuk menilai apakah sebuah klaim layak dipercaya atau tidak.

Di Indonesia, situasi ini punya warna tersendiri. Berdasarkan laporan We Are Social pada 2024, Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial terbanyak keempat di dunia. Kominfo pada 2023 bahkan mencatat lebih dari sebelas ribu konten hoaks teridentifikasi dalam lima tahun terakhir, dengan lonjakan tajam saat krisis seperti pandemi atau pemilu. Kebiasaan berbagi informasi lewat grup keluarga atau komunitas di WhatsApp, sesuatu yang sebenarnya indah karena berbasis kepercayaan, justru menurut penelitian Lim pada 2021 bisa menjadi jalan tol bagi misinformasi untuk menyebar tanpa filter kritis yang biasanya dipasang untuk sumber asing.

Pertanyaannya kemudian: apakah kebiasaan scroll tengah malam itu cuma soal FOMO atau insomnia? Atau jangan-jangan, itu adalah cara otak, tanpa disadari, terjebak dalam siklus yang dirancang untuk membuat penggunanya terus kembali, sambil pelan-pelan mengikis kemampuan untuk membedakan mana kabar yang benar dan mana yang sekadar menakut-nakuti?

Untungnya, kondisi ini bukan sesuatu yang permanen. Beberapa hal sederhana bisa membantu: membaca konten panjang yang menuntut fokus berkelanjutan, sengaja menahan diri sebelum percaya atau membagikan sesuatu, dan yang paling penting, mengenali kapan seseorang sedang scrolling karena ingin tahu, dan kapan ia sedang terjebak dalam pusaran kecemasan yang sebenarnya tidak memberi jawaban apa pun.

Pada akhirnya, menaruh ponsel lebih awal bukan tentang menjadi pribadi yang sepenuhnya disiplin. Itu tentang menyadari apa yang sebenarnya terjadi setiap kali jempol menggulir layar tanpa henti, dan menyadari itu, ternyata, adalah langkah pertama yang paling penting.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image