Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image AMELIA RAMADHANI

Menelusuri Jejak Arsitektur dan Simbolisme Islam di Masjid Agung Demak

Dunia islam | 2026-06-17 16:38:13
Masjid Agung Demak

Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang didirikan sebagai tanda bahwa Islam sudah mulai terintegritas kepada Lembaga Politik. Diakui oleh para Sejarawan dunia bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad 8 Masehi pada masa Khalifah Rasulullah Saw yang ketiga Utsman bin Affan melalui perdagangan. Islam bermula tersebar di Aceh yang kemudian ke Palembang, Lampung, Gresik, Tuban, Demak, Cirebon, Banten, Ternate, Gowa, Makassar, Banjarmasin hingga menyebar ke seluruh pulau di Nusantara. Masuknya Islam ke Indonesia perlahan mengubah kebudayaaan Hindu-Budha yang sebelumnya menjadi pengaruh besar di Nusantara. Masuknya Islam ke Nusantara mempengaruhi Kerajaan Hindu, yaitu Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang kacau menjadi kesempatan bagi Masyarakat yang ingin mendirikan Kerajaan Islam. Dalam kondisi tersebut, Demak yang merupakan salah satu daerah kekuasan Majapahit memutuskan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan mendirikan Kerajaan baru. Pada awalnya daerah Demak dikenal dengan Bintoro atau Glagah Wangi, yang merupakan Kerajaan Majapahit.

Demak muncul pada pertengahan akhir abad ke-15 Masehi. Munculnya Kerajaan Demak di daerah pesisir Pantai utara Pulau Jawa. Pada saat itu Demak terletak berada di dekat Sungai Tuntang yang sumbernya dari Rawa Pening, dimana Sungai tersebut membuang airnya ke Laut Jawa yang muaranya dekat dengan Demak. Oleh karena itu, salah satu kejayaan Kerajaan Demak yaitu menguasai Pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Masuknya Islam di Nusantara berlangsung secara sistematis, terencana, dan tanpa kekerasan. Para Ulama melakukan perubahan besar-besaran di Nusantara secara mendasar baik pada akidah maupun hukumnyaa yang sebelumnya menganut Hindu-Budha. Dari kebudayaan Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha menjadi bumi yang bertradisi Islami. Perubahan ini merupakan revolusi besar pemikiran dan peradaban Islam di bumi Nusantara.

Dibawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songp bersepakat untuk mengangkat Raden Fatah menjadi raja pertama di Demak sekaligus Kerajaan Islam pertama di Jawa dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama. Dalam menjalankan pemerintahan ini, Raden Fatah dibantu oleh para ulama yang tergabung dalam Walisongo, terutama dalam hal yang berkaitan dengan urusan Agama, yang berpusat di Demak yang sebelumnya Bernama Bintoro yang merupakan daerah Majapahit yang diberikan kepada Raden Fatah.

Raden Fatah berlangsung antara akhir abad ke-15 dan awal abad ke-17. Dialah seorang Raja Islam anak raja Majapahit dari ibu Muslim keturunan Campa. Ia digantikan oleh anaknya Sambrang Lor atau dikenal dengan Pati Unus yang naik tahta usia 17 Tahun. Setelah itu digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai Sultan oleh Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin dan pemerintahan pada tahun 1524-1546. pada masa pemerintahannya Islam berkembang pesat keseluruh Pulau Jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Raden Fatah sempat tinggal beberapa lama di Ampel Denta, bersama para saudagar muslim saat itu. Disana ia mendapatkan dukungan dari utusan Kaisar Cina, yaitu Laksamana Cheng Ho yang juga dikenal sebagai Dampo Awang atau Sam Poo Tai Jin, seorang panglima muslim. Raden Fatah mendalami agama Islam bersama pemuda-pemuda lainnya. Seperti Raden Paku (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat). Setelah dianggap lulus Raden Fatah dipercayai menjadi ulama dan membuat pemukiman di Bintara. Ia diiringi oleh Sultan Palembang, Arya Dilah 200 tentaranya. Raden Fatah memusatkan kegiatannya di Bintara, karena direncanakan oleh Walisongo sebagai pusat Kerajaan di Jawa.

Penobatan Raden Fatah menjadi Sultan Bintara Demak disaksikan oleh abdi kinasih, ulama, para manggala, prajurit, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Patih Wonosalam, dan para santri yang mengiringi penobatan Raden Fatah dengan membaca Sholawat Nabi Muhammad SAW. Keberhasilan penundukkan Kerajaan Majapahit pada tahun 1481 M ditandai dengan candra sengakala “Geni Mati Sinaram Janmi”. Sedangkan pengangkatan Raden Fatah menjadi Sultan pertama Demak pada tahun 1482 M ditandai dengan camdra sengkala “Warna Sima Catur Nabi”.

Masa kejayaan Demak terjadi pada masa Raden Fatah, pada masa kepemimpinannya, kerajaan Demak berkembang pesat karena pengaruh dari Wali Songo. Kejayaan Raden Fatah dalam memimpin kerajaan Demak terjadi pada tahun 1511. Daerah kekuasaanya meluas hingga daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam memimpin Kerajaan Demak, Raden Fatah tidak sendiri, ia dibantu oleh anaknya yaitu Pati Unus.

Demak sebagai Ibu Kota Kesultanan Islam, menjadikan dirinya sebagai tonggak perjuangan untuk menyebarkan agama Islam pada dawarsa-dawarsa pertama abad ke-16. oleh karena itu, Kesultanan Demak meluaskan pengaruhnya bukan hanya ke Wilayah Barat Pulau Jawa, melainkan juga ke Wilayah Timur Pulau Jawa, bahkan ke daerah-daerah luar Jawa. Pada tahun 1527, tentara Demak berhasil menguasai Tuban, tahun berikutnya menguasai Wirosari (Purwodadi), kemudian menyerang Gagelang (Madiun), Mandangkungan (Blora), Surabaya, Pasuruan, Lamongan, dan Sengguruh.

Kebijakan Politik Luar Negeri Kerajaan Demak dalam bentuk jihad melawan Portugis di Malaka dan Sunda Kelapa. Walaupun tidak berhasil menundukkan Malaka, tetapi menjadi bukti kemakmuran ekonomi dan kebijakan politik yang luar biasa pada masa Kerajaan Demak. Karena tidak mungkin, kerajaan yang lemah dan miskin mampu dan berani melakukan ekspansi ke luar negeri yang memerlukan biaya sangat banyak. Beberapa peninggalan Kerajaan Demak diantaranya, yaitu:

1). Masjid Agung Demak

Masjid ini didirikan pada abad 15 oleh arsitektur Sunan Kalijaga (Raden Mas Said). Pendirian Masjid Agung Demak dipercayai sebagai prototipe masjid-masjid yang berada di Pulau Jawa. Morflogi Masjid Agung Demak memiliki atap berlapis tiga, berbeda dengan masjid timur tengah. Masjid Agung Demak merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Demak, termasuk pusat kegiatan dalam lapangan Politik.

2). Pintu Bledhek

Dibuat oleh Ki Ageng Selo pada tahun 1466 M serta menjadi pintu utama pada Masjid Agung Demak. Namun sayangnya pintu bledhek sudah tidak lagi dipakai, dan saat ini sudah dimeseumkan, dikarenakan usia pintu yang menyebabkan mulai lapuk.

3). Soko Guru

Yaitu tiang yang diameternya mencapai 1 (satu) meter. Tiang tersebut berfungsi sebagai penyangga tegak kokohnya bangunan Masjid Demak, ada 4 (empat) soko guru yang dipakai dalam bangunan Masjid Agung Demak saat ini. Singkat cerita, para wali pada saat itu berbagi tugas masing-masing mengumpulkan kayu untuk tiang penyangga Masjid. Sunan Kalijaga berbeda dengan yang lain, ia mengumpulkan tatal-tatal (serpihan kayu) yang berserakan kemudian ditumpuk-tumpuk hingga menjadi tiang. Inilah asal mula nama soko guru yang terbuat dari (soko) tatal.

4). Bedug dan Kentongan

Pada saat itu, digunakan untuk memanggil masyarakat sekitar untuk sholat 5 (lima) waktu berjamaah. Kantongan ini berbentuk mirip tapal kuda.

5). Situs Kolam Wudhu

Kolam Wudhu ini dibuat bersama berdirinya bangunan Masjid Agung Demak, tetapi situs kolam sudah tidak difungsikan lagi, hanya bisa dilihat sebagai benda Peninggalan Sejarah.

6). Maksurah

Dinding berukir kaligrafi tulisan arab yang menghiasi bangunan Masjid Agung Demak. Maksurah ini dibuat sekitar tahun 1866 M, tepatnya ketika Aryo Purbaningrat menjabat sebagai Adipati Demak.

7). Dampar Kencana

Singgasana para sultan yang dialih fungsikan sebagai mimbar khutbah di Masjid Agung Demak, sampai saat ini mimbar masih digunakan dan terawat rapi.

8). Piring Campa dan Gentong Kong

Piring Campa yaitu piring pemberian seorang putri dari Champa yang tidak lain adalah Ibu Raden Sultan Fatah. Sebagian piring dipasang di dinding Masjid Agung Demak sebagai hiasan, sebagian di pasang di tempat perimaman masjid. Sementara, Gentong Kong merupakan hadiah dari Ibunda Raden Fatah, Putri Champa pada masa dinasti Ming abad XIV. Saat ini berada di depan makam K.R. Nata Sangen.

Pada tahun 1476 di Bintara didirikan organisasi Bayangkari islah (Angkatan Pelopor Kebaikan) yang salah satu tujuannya adalah mendukung usaha pendidikan dan pengajaran Islam dengan cara yang teratur. Organisasi Pendidikan Islam inilah yang pertama kali dibentuk di Indonesia. Kebijakan para Wali menyiarkan agama dan memasukkan unsur pendidikan dan pengajaran Islam dalam segala cabang dan kebudayaan nasional Indonesia dapat dikatakan berhasil dengan baik, sehingga agama Islam tersebar ke seluruh kepulauan Indonesia.

Sistem pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak mempunyai kemiripan dengan pelaksanaanya di Aceh, yaitu dengan mendirikan Masjid di tempat-tempat sentral di suatu daerah. Disana diajarkan pendidikan agama di bawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam. Dengan demikian, Sejarah belum menemukan tentang kitab-kitab Ilmu Agama apa saja yang diajarkan para wali tersebut belum dijelaskan. Hanya saja sebuah kitab yang kini dikenal di kalangan pesantren dengan nama Usul 6 Bis, yaitu Sejilid kitab dengan tulisan tangan berisi 6 kitab dengan 6 Bismillahirrahmanirrahim karangan ulama Samarkandi. Isinya tentangt Ilmu agama Islam yang permulaan. Kitab yang lain ialah Tafsir Jalalain, karangan Syeh Jalaluddin al-Mahali dan Jalaluddin al- Suyuthi.

Kitab-kitab agama Islam di zaman Demak yang kini masih dikenal ialah Primbon, notes berisi berbagai macam tentang ilmu-ilmu agama, macam-macam doa, bahkan juga tentang obat-obatan dan Ilmu Ghaib. Dalam kitab ini disebutkan tentang wejangan-wejangan dari Sunan Polan atau Sunan Anu atau dari Kiai Ageng Anu. Selain itu, ada pula kitab-kitab yang dikenal dengan nama Suluk Sunan Bonang, Suluk Sunan Kalijaga, Wasita Jati, Sunan Geseng, dan ajaran-ajaran mistik Islam dari masing-masing sunan itu ditulis tangan.

Berbagai sumber pembelajaran dengan kegiatan dakwah Islam yang dilakukan oleh para wali dinilai efektif dan berhasil dengan baikk. Penyebabnya karena mereka mengikuti cara yang digariskan oleh Rasulullah SAW, dengan cara mudah, tidak sempit, tidak banyak beban, dan dilakukan dengan cara berangsur-angsur dalam menjalankan hukum syariat.

Perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang pada tahun 1568 tidak membawa perubahan yang berarti terhadap sistem pendidikan dan pengajaran Islam. Perubahan dan kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran Islam terjadi setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram pada tahun 1586, terutama saat Mataram dipimpin oleh Sultan Agung.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image