Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image TAUFIK

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk Anak Sudahkah Berjalan Maksimal?

Politik | 2026-06-15 20:39:29
Dokumentasi Penulis Sebagai Mahasiswi Hukum UIN Raden Fatah Palembang

Opini

Oleh : Khoirunnisak, Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Selain itu, MBG juga dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah gizi seperti stunting, kekurangan protein, dan anemia pada anak.
Namun, program MBG tidak hanya dapat dilihat sebagai pembagian makanan gratis semata. Pemerintah juga harus memastikan bahwa makanan yang diberikan memenuhi standar gizi, higienis, aman dikonsumsi, dan tepat sasaran. Jika pengawasan terhadap pelaksanaan MBG lemah, maka dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari penyalahgunaan anggaran hingga kualitas makanan yang buruk.
Selain dari pada itu pemerintah juga perlu melihat langsung, melibatkan masyarakat, pihak sekolah, ahli gizi dengan pengalaman yang jelas dan lembaga pengawas independen agar program MBG ini berjalan dengan transparan, efektif dan sesuai kebutuhan anak-anak.Evaluasi rutin harus dilakukan agar program MBG ini berjalan dengan semestinya dan untuk mengetahui apakah memberikan dampak yang baik terhadap pertumbuhan anak-anak. Dengan adanya evaluasi yang rutin pemerintah akan mengetahui kekurangan dalam pelaksanaan program ini agar segera diperbaiki dan tidak menimbulkan masalah.
Selain itu transparansi dalam mengelola anggaran sangat penting agar bisa memastikan bahwa dana tersebut dimanfaatkan dengan semestinya bukan disalah gunakan, jika pengawasan ini lemah maka peluang terjadinya korupsi, manipulasi harga bahan makanan akan semakin besar dan itu sangat merugikan negara dan membahayakan anak-anak sebagai penerima MBG.
Menurut saya, program MBG merupakan kebijakan yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Akan tetapi, pelaksanaannya masih perlu dievaluasi secara menyeluruh. Para pekerja dan pihak yang terlibat dalam program MBG juga harus diseleksi dengan baik agar pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Di balik keberhasilan MBG yang terlihat di permukaan, terdapat fakta di lapangan yang menunjukkan masih adanya sistem pengelolaan yang kurang baik, permainan harga bahan pokok, potensi korupsi, hingga kasus anak-anak yang mengalami keracunan makanan akibat kurangnya pengawasan terhadap kualitas dan kebersihan makanan. Oleh karena itu, transparansi, pengawasan ketat, serta evaluasi berkala sangat diperlukan agar program MBG benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak justru menimbulkan masalah baru.MBG menunjukan bahwa pemerintah itu peduli kepada kesehatan dan kesejahteraan anak-anak penerus bangsa, keberhasilan dari program ini tidak hanya di ukur dari besarnya jumlah anggaran yang dikeluarkan atau jumlah penerimanya tetapi keberhasilan ini dinilai dari kualitas pelaksanaan dan juga dampak yang ditimbulkan.
Yang tak kalah penting adalah faktor kebersihan dalam program ini perlu ditingkatkan, pemerintahan juga harus ikut memastikan tahap pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan yang dilakukan sudah sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku atau belum. Pemeriksaan rutin harus dilakukan pada dapur produksi secara konsisten
Dengan adanya kolaborasi yang baik antara pemerintahan, sekolah, ahli gizi, masyarakat dan pengawas maka program MBG bisa berjalan dengan efektif, jika semua tantangan yang ada dapat diatasi maka MBG akan menjadi investasi penting untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, kompetitif dan juga siap menghadapi tantangan di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image