Jejak Sejarah dalam Harmoni Candi Kembar Plaosan
Sejarah | 2026-06-15 14:01:11
Oleh: Yona Puspica
Pagi itu langit Prambanan tampak cerah. Hamparan sawah hijau membentang di kawasan sekitar Candi Plaosan yang berdiri tenang di tengahnya. Angin berembus pelan melewati pepohonan di halaman candi, sementara beberapa wisatawan terlihat berjalan melewati pelataran batu sambil mengabadikan gambar. Di sudut lain, pengunjung tampak mempersiapkan sesi foto prewedding dengan latar dua bangunan candi utama yang menjulang di dekatnya.
Candi Plaosan berada di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, salah satu wilayah di Jawa Tengah yang dikenal memiliki banyak peninggalan sejarah dari masa Kerajaan Mataram Kuno. Kawasan ini tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan dan berada di tengah kawasan persawahan yang masih aktif digunakan warga. Di antara deretan candi yang tersebar di wilayah Prambanan, Candi Plaosan memiliki ciri khas tersendiri karena dikenal sebagai candi kembar. Selain menjadi tujuan wisata sejarah, kawasan ini juga kerap menjadi lokasi menjadi foto prewedding.
Sebagian pengunjung menyaksikan kisah pembangunan candi dengan harapan hubungan yang harmonis dan langgeng.
Dari kejauhan, dua bangunan utama Candi Plaosan tampak berdiri sejajar dengan bentuk yang hampir serupa. Relief dan stupa menghiasi bagian atas bangunan, sementara batu-batu andesit tersusun rapi membentuk pagar dan halaman kompleks. Di beberapa sisi terlihat arca dan memelihara candi kecil yang masih tertata di area pelataran. Suasana kawasan candi tampak terbuka karena dikelilingi sawah, sehingga pengunjung dapat melihat siluet bangunan candi dengan jelas dari berbagai arah.
Keunikan utama Candi Plaosan terletak pada bentuk kompleksnya yang terbagi menjadi dua bagian, yakni Plaosan Lor di bagian utara dan Plaosan Kidul di bagian selatan. Kedua kompleks tersebut memiliki susunan bangunan yang hampir sama sehingga menampilkan kesan simetris seperti candi kembar. Di dalam kawasan candi terdapat dua candi utama yang berdiri berdampingan, dilengkapi candi perwara, gapura, candi patok, dan arca penjaga di beberapa sisi pelataran.
Gunawan yang bertugas sebagai juru pelihara Candi Plaosan menjelaskan bahwa masyarakat sering mengibaratkan kedua bangunan utama tersebut sebagai simbol laki-laki dan perempuan. Perbedaan itu terlihat dari relief pendamping yang berada di dalam bangunan candi. Pada salah satu bangunan terdapat figur laki-laki, sedangkan bangunan lainnya menampilkan figur perempuan. Meski memiliki perbedaan pada beberapa detail relief, kedua bangunan tetap menunjukkan perpaduan unsur Hindu dan Buddha dalam keseluruhan bentuk arsitekturnya.
Bagi sebagian pengunjung, Candi Plaosan tidak hanya menarik karena bentuk bangunannya yang unik, tetapi juga karena kisah yang melekat di baliknya. Saat bertemu pelataran candi, wisatawan sering mendengar cerita tentang dua tokoh kerajaan yang dipercaya memiliki peran penting dalam pembangunan kompleks ini. Kisah tersebut masih terus diceritakan oleh para pemandu wisata dan menjadi salah satu alasan mengapa Candi Plaosan memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan candi-candi lain di sekitarnya.
Cerita itu seolah-olah tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu. Jejaknya masih dapat ditemukan di berbagai sudut bangunan yang menampilkan perpaduan unsur Hindu dan Buddha dalam satu kompleks. Bagi sebagian masyarakat, kisah tersebut juga dimaknai sebagai simbol keharmonisan di tengah perbedaan.
Menurut penjelasan Widodo guide Candi Plaosan, sejarah pembangunan candi berkaitan dengan masa Kerajaan Mataram Kuno pada pertengahan abad ke-9. Ia menjelaskan bahwa Candi Plaosan dibangun setelah pernikahan Rakai Pikatan yang beragama Hindu dengan Pramodawardhani yang beragama Buddha. “Rakai Pikatan sama Pramodawardhani ada pernikahan setelah ada pernikahan kemudian tempat ibadah tadi disingkirkan maka disini ada simbolnya ada 2 simbol hindu budha tadi,” ujarnya.
Pembangunan Candi Plaosan tidak dapat terlepas dari kondisi Jawa pada abad ke-9 ketika Kerajaan Mataram Kuno berada pada masa perkembangan. Pada masa itu, wilayah Jawa Tengah menjadi pusat lahirnya berbagai bangunan suci yang mencerminkan kehidupan politik, budaya, dan keagamaan masyarakat. Di kawasan Prambanan berdiri sejumlah candi besar yang hingga kini masih dapat disaksikan, seperti Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.
Dalam berbagai sumber sejarah, Rakai Pikatan dikenal sebagai penguasa dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, sedangkan Pramodawardhani merupakan putri Wangsa Syailendra yang dikenal sebagai pendukung agama Buddha. Pernikahan keduanya sering dipandang sebagai simbol hubungan harmonis antara dua tradisi besar yang berkembang di Jawa pada masa itu. Lebih dari seribu tahun telah berlalu sejak kisah tersebut diyakini terjadi, tetapi cerita tentang Rakai Pikatan dan Pramodawardhani masih terus hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Candi Plaosan.
Jejak pertemuan dua tradisi tersebut masih dapat ditemukan pada arsitektur candi. Tidak seperti banyak candi lain yang lebih kuat menunjukkan identitas satu agama, Candi Plaosan menampilkan unsur Hindu dan Buddha secara berdampingan dalam satu kompleks. Bagi banyak pengunjung, bangunan-bangunan batu di kawasan ini bukan hanya peninggalan arkeologis, tetapi juga saksi sejarah tentang bagaimana masyarakat Jawa pada masa lampau membangun kehidupan di tengah keberagaman keyakinan.
Perpaduan dua kepercayaan tersebut terlihat pada berbagai bagian bangunan candi. Unsur Hindu tampak melalui beberapa relief dan bentuk arca tertentu, sedangkan unsur Buddha terlihat dari stupa serta patung Buddha yang berada di dalam kompleks. Pada masa itu, candi berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus menjadi simbol hubungan dua tradisi besar yang berkembang di Jawa.
Menurut keterangan Gunawan juru pelihara, kompleks Candi Plaosan sempat mengalami kerusakan akibat gempa dan erupsi Gunung Merapi pada masa lampau sebelum akhirnya dilakukan pemugaran kembali setelah Indonesia merdeka. Upaya pemugaran dilakukan secara bertahap untuk mengembalikan bentuk bangunan yang masih memungkinkan direkonstruksi. Batu-batu yang berserakan dikumpulkan dan disusun kembali sehingga generasi masa kini masih dapat menyaksikan peninggalan yang dibangun lebih dari seribu tahun yang lalu.
Menariknya, fungsi keagamaan Candi Plaosan tidak sepenuhnya hilang. Lebih dari seribu tahun setelah dibangun, kawasan ini masih digunakan untuk kegiatan keagamaan umat Buddha pada waktu-waktu tertentu, terutama saat peringatan hari besar. Kehadiran aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Candi Plaosan tidak hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga terus menjaga warisan spiritual yang telah hidup sejak masa Kerajaan Mataram Kuno.
Selain dua bangunan utama, kompleks Candi Plaosan juga memiliki ratusan candi kecil yang tersebar di halaman kawasan. Sebagian bangunan masih berdiri utuh, sementara beberapa lainnya hanya menyisakan susunan batu dan fondasi. Di bagian utara kawasan terdapat bangunan mandapa atau pendopo serta museum kecil yang digunakan untuk menyimpan situs arca dan temuan dari sekitar kawasan candi.
Menjelang siang, jumlah pengunjung mulai bertambah. Beberapa wisatawan berjalan melewati pelataran candi, sementara sejumlah pasangan memanfaatkan kawasan tersebut sebagai lokasi foto prewedding. Menurut guide Candi Plaosan, aktivitas itu semakin sering dijumpai dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran para pengunjung menunjukkan bahwa Candi Plaosan tidak hanya dipandang sebagai situs sejarah, tetapi juga menjadi ruang budaya yang terus dimaknai oleh masyarakat masa kini.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa makna Candi Plaosan terus berkembang di tengah masyarakat. Jika pada masa lalu candi ini menjadi simbol perpaduan Hindu dan Buddha, kini keberadaannya juga dimaknai sebagai simbol keselarasan dan keharmonisan hubungan. Meski demikian, pengelolaan kawasan candi tetap dilakukan untuk menjaga kelestarian bangunan. Beberapa aturan diterapkan bagi pengunjung, seperti larangan merokok dan mengaktifkan aktivitas di area tertentu agar struktur batu candi tidak cepat mengalami kerusakan.
Candi Plaosan hingga kini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di sekitar Prambanan. Kompleks candi ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah masa lalu, tetapi juga terus hidup sebagai ruang budaya, tempat ibadah, dan destinasi wisata. Antara hamparan sawah yang mengelilinginya, bangunan-bangunan batu itu masih berdiri membawa cerita tentang pertemuan dua tradisi besar, kejayaan Mataram Kuno, perjalanan panjang pemugaran, serta nilai-nilai harmoni yang terus diwariskan dari masa lalu hingga masa kini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
