Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image eka siska

Ketika Like Mengalahkan Akhlak

Edukasi | 2026-06-14 17:23:33

Hari ini seseorang bisa menjadi terkenal hanya dalam hitungan jam. Cukup unggah video yang kontroversial, memancing emosi, atau mengundang sensasi, lalu tunggu jutaan orang menekan tombol like dan membagikannya. Indonesia saat ini tengah mengalami perubahan digital yang sangat pesat. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 235 juta orang atau sekitar 81,72% dari total populasi nasional. Munculnya media sosial yang semakin luas telah mengubah cara orang berinteraksi, mendapatkan informasi, serta membentuk jati diri. Namun, di balik semua kemudahan itu, terdapat fenomena yang menimbulkan keprihatinan. Akhir-akhir ini, berbagai platform media sosial dipenuhi konten yang sengaja diciptakan hanya untuk menarik perhatian. Tidak sedikit orang hari ini rela melakukan apa saja demi sebuah tanda suka (like). Konflik keluarga dijadikan tontonan, harga diri dipertaruhkan, dan etika dikesampingkan demi perhatian publik. Ironisnya, semakin provokatif sebuah konten, semakin tinggi kemungkinan untuk menjadi viral. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat digital sedang menghadapi persoalan yang lebih besar dari sekadar perkembangan teknologi yaitu pergeseran nilai ketika like lebih dihargai daripada akhlak.Dari sudut pandang filsafat ilmu, perkembangan teknologi digital menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu diikuti oleh kemajuan moral manusia. Ilmu dan teknologi bersifat netral, tetapi cara manusia menggunakannya ditentukan oleh nilai-nilai yang dianut. Fenomena mengejar like untuk viral menunjukkan adanya kesenjangan antara aspek epistemologis (pengetahuan) dan aksiologis (nilai serta etika). Masyarakat semakin canggih dalam memproduksi informasi, tetapi belum tentu semakin bijak dalam menggunakannya.Fenomena-fenomena tersebut adalah gambaran mikro yang sering kita lihat di dunia maya. Namun, di balik hal itu ada fenomena makro yang jauh lebih mendalam, yaitu perubahan dalam cara pandang masyarakat mengenai kesuksesan. Jika sebelumnya seseorang dihargai karena pengetahuan, prestasi, dan kontribusinya untuk orang lain, kini pengakuan sosial sering kali ditentukan oleh jumlah like, views, komentar, dan followers. Perkembangan teknologi telah menciptakan ruang sosial baru yang memungkinkan setiap orang menjadi pembuat informasi sekaligus pencari perhatian. Dalam konsep attention economy, perhatian manusia menjadi barang dagangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Semakin banyak perhatian yang diperoleh seseorang, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan keuntungan melalui iklan dan sponsor.Dalam bidang pendidikan, fenomena ini menjadi tantangan serius. Banyak peserta didik lebih mengenal selebritas media sosial dibandingkan ilmuwan atau tokoh pendidikan yang berjasa bagi peradaban. Kesuksesan pun kerap diukur dari banyaknya like atau popularitas dan jumlah pengikut, bukan dari proses belajar, kerja keras, dan kontribusi nyata. Padahal, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang berkarakter, cerdas, dan bertanggung jawab. Sayangnya, pendidikan saat ini masih lebih fokus pada keterampilan teknis dibandingkan pembentukan etika dan tanggung jawab dalam bermedia digital. Dari aspek ekonomi, platform media sosial telah menciptakan peluang baru yang sangat menjanjikan. Banyak masyarakat memperoleh penghasilan melalui profesi konten kreator. Namun di sisi lain, keuntungan ekonomi yang didapat dari ketenaran sering kali mendorong beberapa individu untuk menggunakan berbagai cara, bahkan yang tidak etis, untuk menarik perhatian publik. Konten yang sensasional tanpa mempertimbangkan dampak moralnya menjadi lebih menarik karena dapat menghasilkan banyak interaksi, sementara konten yang bersifat edukatif sering kali kalah dalam persaingan sistem algoritma digital. Pada titik inilah etika sering kalah oleh logika pasar.Dalam kehidupan sosial, budaya validasi semakin menguat. Banyak orang merasa dihargai ketika mendapatkan banyak respons positif di media sosial dan merasa gagal jika perhatian yang diharapkan tidak didapatkan. Penggunaan media sosial secara berlebihan berhubungan dengan tingginya kecemasan sosial dan tekanan mental dikalangan generasi muda. Kehidupan yang terlihat di media sosial pun cenderung lebih fokus pada citra daripada ekspresi diri yang sebenarnya.Dalam konteks pemerintahan dan kehidupan berbangsa, budaya viralitas juga menghadirkan tantangan tersendiri. Hoaks, ujaran kebencian, dan informasi menyesatkan sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang benar. Rendahnya etika digital menjadi salah satu tantangan utama masyarakat Indonesia di era disrupsi informasi. Akibatnya, ruang publik digital yang seharusnya menjadi sarana memperkuat demokrasi justru berpotensi memperbesar konflik sosial.Dari sudut pandang agama, fenomena ini menunjukkan pentingnya mengembalikan akhlak sebagai landasan kehidupan. Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh popularitas, melainkan oleh ketakwaan dan perilakunya. Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Al-Qur'an mengingatkan agar manusia tidak beribadah atau berbuat kebaikan hanya demi pujian dan pengakuan orang lain (QS. Al-Ma'un: 4–6). Selain itu, Allah SWT memerintahkan agar setiap informasi dan tindakan didasarkan pada pengetahuan yang benar karena semua akan dimintai pertanggungjawaban (QS. Al-Isra': 36). Pesan ini sangat relevan di era digital yang dipenuhi budaya viral, hoaks, dan pencarian validasi.Dengan demikian, fenomena "like mengalahkan akhlak" bukan sekadar persoalan media sosial, melainkan persoalan pergeseran nilai dalam masyarakat digital. Ketika ukuran keberhasilan lebih ditentukan oleh popularitas daripada integritas, maka teknologi yang seharusnya menjadi sarana kemajuan justru berpotensi melahirkan krisis moral. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan penguatan etika dan karakter manusia. Mengatasi krisis moral di dunia digital tidak cukup hanya dengan imbauan atau menyalahkan teknologi. Diperlukan solusi yang mengintegrasikan tiga kekuatan utama: sains, Islam, dan kearifan lokal. Dari sisi sains, pendidikan harus memperkuat literasi digital yang tidak hanya mengajarkan keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap dampak psikologis, sosial, dan moral dari penggunaan media sosial. Dari perspektif Islam, nilai-nilai akhlaqul karimah seperti kejujuran, amanah, rasa malu (haya'), dan tanggung jawab harus menjadi fondasi dalam bermedia sosial. Setiap unggahan, komentar, dan informasi yang disebarkan tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga memiliki konsekuensi moral di hadapan Allah SWT. Karena itu, prinsip tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi harus menjadi budaya dalam kehidupan digital.Sementara itu, kearifan lokal Nusantara juga memiliki peran penting sebagai benteng moral. Filosofi Jawa ngeli nanging ora keli mengajarkan bahwa kita boleh mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Pada akhirnya, tantangan terbesar masyarakat digital bukanlah bagaimana mendapatkan lebih banyak like, viewers, atau followers, melainkan bagaimana tetap menjaga akhlak di tengah derasnya arus popularitas. Sebab jumlah like akan berhenti bertambah, tren akan berganti, dan algoritma akan berubah. Namun akhlak yang baik akan tetap dikenang jauh setelah layar dimatikan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image