Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rindyani Nur Fitria Salam

Menolak Robotisasi Kelas, Guru tak Bisa Digantikan oleh Layar

Eduaksi | 2026-06-14 11:27:35

Dunia pendidikan kita saat ini berkembang pesat menuju digitalisasi. Di beberapa sekolah, papan tulis yang biasanya terbuat dari kayu digantikan oleh smart board, buku berbentuk fisik berubah menjadi e-book, pembelajaran di kelas kini bisa dilaksanakan dalam bentuk daring melalui aplikasi Google Classroom, Google Meet, dan Zoom. Di satu sisi, perubahan ini layak diapresiasi sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan. Di sisi lain, ada dampak berbahaya yang sedikit demi sedikit menghancurkan fondasi utama dari pendidikan itu sendiri, mengubah peran guru menjadi sebatas "operator" kurikulum dan aplikasi.

Jika kita membuka mata melihat realita hari ini, teknologi sering kali dianggap bermanfaat secara berlebihan. Terdapat kesalahpahaman yang beranggapan bahwa dengan menyediakan gawai dan akses kecerdasan buatan (AI), maka kualitas pendidikan di sekolah tersebut akan meningkat. Padahal gawai dan AI itu hanya sebatas alat penyalurnya.

Pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan transfer nilai dan pembentukan karakter. Di sinilah letak kesalahpahaman yang fatal jika kita berpikir teknologi bisa menggantikan kehadiran utuh seorang guru. Layar komputer secanggih apapun tidak akan bisa mengajarkan makna empati yang sesungguhnya. AI meskipun serba tahu tidak memiliki "hati" untuk merasakan kegelisahan seorang siswa yang murung di sudut melas karena masalah keluarga di rumahnya.

Ketika interaksi tatap muka antara guru dan siswa digantikan oleh pelaksanaan kelas secara daring, sama saja kita mendukung untuk melakukan "robotisasi" terhadap generasi yang akan datang. Siswa mungkin menjadi lebih mahir, tetapi mereka cenderung mengalami kekosongan emosional dan penurunan keterampilan sosial atau biasa disebut soft skills. Memandangi layar berjam-jam tidak akan pernah mengajarkan siswa cara bernegosiasi, menghargai pendapat orang lain dalam diskusi kelompok, atau bahkan bangkit dari kegagalan dengan bimbingan dari seorang guru.

Kebijakan pemerintah mengenai pendidikan ke depannya harus ditempatkan pada porsi yang sama rata. Digitalisasi memang penting, tetap ia harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengajar utama di dalam kelas. Pemerintah dan sekolah tidak boleh terjebak pada gaya hidup yang memamerkan fasilitas digital sekolah yang megah, tetapi mengabaikan kesejahteraan para pendidik.

Kita perlu melatih guru-guru agar mampu memanfaatkan teknologi sebagaimana mestinya tanpa berlebihan. Kita butuh kurikulum yang memberikan ruang bagi siswanya untuk bergerak, berkembang, berinteraksi dengan realitas sosial di sekitarnya, bukan sebatas menunduk menatap layar tugas yang diberikan gurunya dan meminta bantuan jawaban dari AI tanpa menyaringnya.

Pada akhirnya, sekolah bukan sekadar pencetak pekerja yang mampu mengoperasikan komputer. Sekolah adalah fondasi awal terbentuknya peradaban. Peradaban hanya bisa dibangun oleh manusia yang dididik dengan hati oleh manusia lain yang disebut Guru.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image