Belajar Manajemen SDM dari Balik Jaket Ojol: Kebebasan yang Dibayar Mahal
Bisnis | 2026-06-12 13:36:40
Hari itu, di salah satu sudut jalanan kawasan Sawangan, Depok, layar smartphone saya tak kunjung berbunyi. Sebagai pengemudi ojek online, hari-hari di mana orderan sedang "anyep" adalah ujian mental yang sesungguhnya. Putaran uang harian langsung seret, sementara kebutuhan operasional motor terus berjalan.Sembari menunggu notifikasi yang tak kunjung datang, pikiran saya justru melayang ke materi bangku kuliah. Sebagai mahasiswa semester dua program studi Manajemen, realita di atas aspal ini tiba-tiba menjadi semacam laboratorium hidup bagi saya. Saya menyadari satu hal ironis: sistem ojek online ini adalah contoh paling ekstrem dari ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) modern.Di ranah akademis, konsep Gig Economy atau ekonomi paruh waktu sering diagungkan sebagai masa depan dunia kerja karena menawarkan kebebasan. Namun, praktik di lapangannya tak seindah itu.Ketika Jaring Pengaman Itu Tidak AdaDalam teori Manajemen SDM klasik, kompensasi dirancang untuk memberikan rasa aman. Karyawan kantoran punya gaji pokok bulanan, tunjangan, dan asuransi. Jika hari itu kebetulan sedang tidak ada kerjaan di kantor, mereka tetap bisa pulang dengan tenang karena penghasilan bulanannya aman.Bagi kami yang berada di balik jaket ojol, status kami adalah "mitra", bukan karyawan. Konsekuensi dari istilah manis ini adalah hilangnya seluruh jaring pengaman tersebut. Kompensasi kami 100% berbasis performa harian (performance-based). Saat sistem algoritma sedang sepi, risiko finansial langsung jatuh ke pundak kami sendiri. Kebebasan waktu yang dijanjikan aplikasi ternyata harus dibayar mahal dengan kerentanan cash flow.Algoritma Adalah HRD Paling KejamHal lain yang menarik untuk dibedah adalah bagaimana perusahaan aplikator mengontrol jutaan mitranya. Di kantor biasa, ada manajer HRD yang memantau absensi dan mengevaluasi kinerja. Di jalanan, "manajer" kami adalah algoritma kecerdasan buatan dan ujung jari konsumen.Setiap bintang yang diberikan penumpang adalah lembar Key Performance Indicator (KPI) yang berjalan secara real-time. Kami tidak perlu absen pagi, tapi sistem gamifikasi—seperti kejar target poin demi bonus—secara psikologis "memaksa" kami untuk terus memacu motor hingga larut malam. Sekali saja rating turun atau terpaksa membatalkan orderan, sistem tak segan memberikan sanksi penurunan prioritas akun hingga pemutusan sepihak (suspend). Tidak ada ruang untuk negosiasi atau SP (Surat Peringatan) seperti layaknya karyawan kantoran.Sebuah RefleksiMenjadi bagian dari Gig Economy mengajarkan saya bahwa praktik Manajemen SDM di era digital telah bergeser sangat jauh. Skema kemitraan memang membuka lapangan kerja masif dalam waktu singkat, namun menyisakan celah besar terkait perlindungan dasar pekerja.Pengalaman di jalanan ini memberi saya perspektif baru yang mungkin tidak akan saya temukan hanya dengan membaca buku teks kampus. Bahwa pada akhirnya, di balik triliunan valuasi perusahaan teknologi, ada keringat mitra di aspal yang kesejahteraannya masih harus terus diperjuangkan.
Penulis:
Faqih Prasetya
Fransh Firdaus
Fariz Naufal Gerrard
Hengki Eko Saputro
Reyhan Abdul Wahab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
