Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen, Pemerhati Pendidikan

Kebahagiaan Nadhif Naik Kelas dan Khitan

Eduaksi | 2026-06-11 11:07:48

Di sebuah daerah di tengah kota Palembang, ada sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu bernama SDIT Bina Ilmi Lemabang. Tanaman di pekarangan sekolah tumbuh subur, selalu hijau dan sebagian berbunga, dan suara anak-anak sekolah beralri-lari sambil tertawa bergembira.

Hari itu adalah hari yang istimewa di sekolah. Di aula yang ramai, Nadhif bersama Bunda Nisa dan Ayah Refa serta murid-murid kelas 1 lainnya beserta orang tua mereka menghadiri acara penerimaan rapor kenaikan kelas. Satu per satu, nama anak dipanggil. Orang tua dan anak maju ke depan kelas bersama untuk menerima rapor dari guru.

Ketika nama Nadhif dipanggil, ia berjalan bergandengan tangan dengan Bunda Nisa dan Ayah Refa. Bunda Mufti, guru kelas 2, menyerahkan rapor dengan senyum hangat. “Nadhif rajin sholat, sopan, dan selalu membantu teman. Selamat naik ke kelas 2 ya, Nak,” kata Bunda Mufti.

Rapor Nadhif penuh penilaian yang bagus dan catatan memuji aktivitas akademik, perilaku, ketrampilan, dan lain-lain. Nadhif tersenyum lebar, hatinya bangga. Setelah acara selesai, keluarga pulang bersama sambil membawa rapor itu.

“Nenek Ine! Kakek Anang! Lihat nih rapor Nadhif!” seru Nadhif begitu tiba di rumah. Ia melompat-lompat kecil penuh suka cita.

Nenek Ine tersenyum sambil mengusap kepala Nadhif yang masih memakai peci. “Alhamdulillah, Cu. Kamu sudah naik ke kelas 2! Sudah besar cucu Ine sekarang.”

Kakek Anang, yang baru pulang dari mushalla komplek, ikut duduk di ruang tamu. “Besok minggu depan ada acara spesial lagi lho, Nadhif. Setelah rapor ini, kamu akan khitan. Apa kamu sudah siap?”

Nadhif terdiam sejenak. Ia pernah mendengar kata “khitan” dari teman-temannya, tapi belum benar-benar tahu. Hatinya sedikit berdegup. “Khitan itu sakit ya, Yah? Nadhif takut jarum ” kata Nadhif kepada Ayah Refa.

Ayah Refa tersenyum lembut. Ia mengangkat Nadhif ke pangkuannya. “Ayah tahu, banyak anak yang merasa khawatir. Tapi khitan itu seperti hadiah spesial dari Allah untuk anak laki-laki yang sudah besar. Biar Bunda Nisa dan Ayah ceritakan dulu ya, supaya Nadhif mengerti.”

Malam itu, setelah sholat Maghrib berjamaah, keluarga kecil itu duduk melingkar di karpet ruang keluarga. Lampu temaram menyala hangat. Bunda Nisa membawa buku cerita bergambar dan secangkir susu hangat untuk Nadhif.

“Ayo, cerita dulu tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,” kata Ayah Refa membuka buku.

Nadhif menyandarkan kepalanya di bahu Ayah Refa. “Nabi Ibrahim yang hidup dengan penuh ujian tapi tetap taat dan kuat itu kan ya, Yah?”

“Iya. Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Beliau diberi ujian yang sangat berat, tapi selalu taat. Salah satu ujiannya adalah ketika Allah memerintahkan beliau untuk berkhitan sebagai tanda ketaatan dan kebersihan. Nabi Ibrahim melakukannya dengan ikhlas, meski sudah tua. Sejak itu, khitan menjadi sunnah bagi umat beliau, termasuk kita.”

Bunda Nisa melanjutkan dengan suara lembut, “Khitan itu membersihkan tubuh kita, Nadhif. Membuat kita lebih sehat, lebih bersih saat beribadah. Seperti membersihkan hati kita dari sifat buruk. Setelah khitan, kamu akan merasa lebih kuat, lebih bertanggung jawab sebagai anak laki-laki Muslim.”

Nadhif mengangguk pelan. “Jadi seperti membersihkan kamar mainan supaya rapi ya, Bunda?”

“Benar sekali!” Bunda Nisa tertawa kecil. “Dan kamu tidak sendiri. Banyak teman-teman di sekolah juga sudah atau akan khitan. Ini seperti langkah naik kelas yang sesungguhnya.”

Keesokan harinya di sekolah, Nadhif bercerita kepada sahabatnya, Emir. Mereka berdua duduk di bawah pohon mangga saat istirahat.

“Emir, minggu depan aku khitan,” kata Nadhif agak pelan.

Emir yang sudah khitan setahun lalu tersenyum lebar. “Wah, seru! Awalnya memang agak nggak nyaman, tapi cuma sebentar kok. Setelah itu, aku bisa main bola lebih lama, sholat lebih khusyuk, dan Ayah kasih hadiah sepeda baru! Kamu mau minta apa?”

Nadhif membayangkan. “Mungkin buku cerita tentang pahlawan Islam ”

Malam-malam berikutnya, Ayah Refa mengajak Nadhif berlatih sholat malam bersama dan bercerita kisah-kisah teladan. Ada kisah tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat menjaga kebersihan. Beliau mengajarkan umatnya untuk selalu suci lahir dan batin.

“Khitan itu bagian dari fitrah kita, Nak,” kata Ayah Refa suatu sore saat mereka berdua menyiram tanaman di halaman. “Allah menciptakan kita dengan sempurna, tapi khitan adalah cara kita menjaga kesempurnaan itu. Seperti memotong kuku supaya bersih, atau memotong rambut yang terlalu panjang.”

Nadhif mengangguk. Rasa takutnya perlahan memudar, diganti rasa penasaran dan bangga. Ia mulai membayangkan dirinya sebagai “Nadhif Si Pemberani” yang sudah naik kelas 2 dan siap menjadi anak yang lebih baik.

Hari H tiba. Pagi itu rumah Nadhif ramai dengan sanak saudara. Ada kue-kue enak, balon warna-warni, dan spanduk kecil bertuliskan “Selamat Khitanan Nadhif, Berkah dan Bahagia”. Dokter yang datang adalah dokter ramah yang biasa memeriksa anak-anak di puskesmas dekat sekolah.

Sebelum proses dimulai, Ayah Refa berbisik di telinga Nadhif, “Ingat ya, Nak. Ini seperti ujian kecil yang akan membuatmu semakin dekat dengan Allah. Ayah di sini terus.”

Nadhif menggenggam tangan Ayah Refa erat. “Nadhif siap, Ayah. Nadhif mau jadi anak yang bersih dan kuat seperti Nabi Ibrahim.”

Proses berjalan dengan tenang. Nadhif diberi obat bius lokal oleh dr. Legiran, sehingga ia tidak merasa sakit yang berarti. Ia hanya merasa seperti digigit semut besar sebentar. Sepanjang waktu, Bunda Nisa terus mengaji surah-surah pendek di sampingnya, dan dokter Legiran serta perawat bercerita lucu tentang petualangan anak-anak pemberani.

Setelah selesai, Nadhif berbaring nyaman di kamarnya yang sudah dihias. Kakinya dibalut perban bersih. Keluarga datang bergantian memberi ucapan selamat. Emir datang membawa buku cerita yang dijanjikan.

Ilustrasi Nadhif khitan. (Sumber: Gemini)

“Gimana rasanya?” tanya Emir pelan.

“Kayak naik roller coaster kecil,” jawab Nadhif sambil tersenyum lemah. “Tapi sekarang Nadhif merasa lega. Dan bangga.”

Beberapa hari kemudian, saat Nadhif sudah mulai pulih, Bunda Nisa dan Ayah Refa mengajaknya ke Panti Asuhan Asy-Syifa di Celentang. “Kita syukuri nikmat ini dengan berbagi, Nak,” kata Ayah Refa. Mereka membawa tas-tas berisi mainan, buku cerita, baju baru, dan makanan enak.

Di panti, anak-anak menyambut dengan riang. Nadhif, meski masih agak pelan berjalan, ikut membagikan hadiah. “Ini untuk kalian semua. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu,” kata Nadhif sambil tersenyum.

Seorang anak panti bernama Rian bertanya, “Kak Nadhif baru khitan ya? Berani banget!”

“Iya, ini sunnah yang membuat kita semakin bersih dan kuat. Allah pasti senang kalau kita berbagi,” jawab Nadhif.

Mereka makan bersama siang itu. Suasana penuh tawa dan doa bersama. Nadhif merasa hatinya semakin hangat. Berbagi membuat kebahagiaannya bertambah.

Malam harinya, saat bulan purnama mengintip dari jendela, Nadhif berdoa bersama Ayah Refa dan Bunda Nisa.

“Ya Allah, terima kasih atas nikmat kesehatan dan kesempatan ini. Jadikan Nadhif anak yang selalu bersih lahir dan batin, taat pada orang tua, dan menjadi Muslim yang baik. Amin,” doa Nadhif dengan suara yang semakin mantap.

Ayah Refa mengusap kepalanya. “Kamu sudah besar, Nak. Mulai sekarang, kamu punya tanggung jawab lebih. Menjaga wudhu, menjaga aurat, dan selalu ingat bahwa tubuh ini amanah dari Allah.”

Tak terasa dua minggu liburan telah berlalu. Hanya dua hari Nadhif sudah bisa berjalan dengan nyaman. Ia kembali ke sekolah dengan semangat baru. Teman-teman menyambutnya dengan tepuk tangan kecil. Bunda Mufti memberinya hadiah stiker pahlawan.

“Anak-anak,” kata Bunda Mufti di depan kelas, “Nadhif baru saja menyelesaikan satu sunnah Nabi. Itu artinya ia semakin siap menjadi generasi yang kuat dan bersih. Kita semua harus menjaga kebersihan ya, baik badan maupun hati.”

Nadhif tersenyum malu-malu tapi bahagia. Di rumah, ia mulai membantu Bunda Nisa membereskan mainan adiknya yang baru lahir. Ia juga rajin mengingatkan dirinya sendiri untuk sholat tepat waktu.

Suatu hari, Nadhif bertemu dengan adik tetangga yang masih kecil, bernama Nolan, yang baru berumur 5 tahun. Nolan bertanya dengan polos, “Kak Nadhif, khitan itu serem ya?”

Nadhif duduk di samping Nolan dan mengulang apa yang pernah diceritakan Ayah Refa dan Bunda Nisa kepadanya.

“Tidak serem kok, Nolan. Itu seperti naik kelas. Allah kasih kita hadiah supaya kita sehat dan bisa ibadah lebih baik. Kakak dulu juga takut, tapi setelah tahu ceritanya tentang Nabi Ibrahim, kakak jadi berani. Kamu nanti juga akan melakukannya saat sudah besar, dan Kak Nadhif akan nemenin cerita yang seru.”

Nolan tersenyum lebar. “Kak Nadhif hebat ya!”

Nadhif tertawa. “Bukan hebat, tapi kita semua bisa jadi pemberani kalau mengandalkan Allah dan orang tua.”

Musim kemarau berlalu, daun-daun mangga di SDIT Bina Ilmi Lemabang mulai berguguran. Nadhif kini sudah nyaman di kelas 2. Setiap kali melihat rapor lamanya yang tersimpan rapi, ia teringat perjalanan spesialnya. Khitan bukan akhir, melainkan awal dari petualangan baru: menjadi anak yang lebih bertanggung jawab, lebih bersih, dan lebih dekat kepada Allah.

Dan di setiap doa malamnya, Nadhif selalu berbisik, “Terima kasih ya Allah, telah membuatku semakin besar dengan cara yang indah.”

Pesan Moral:

Khitan adalah sunnah Nabi yang mengajarkan kebersihan lahir dan batin. Jadilah anak pemberani seperti Nadhif: taat pada Allah, hormati orang tua, dan suka berbagi. Dengan hati bersih dan semangat baru, kamu siap menjadi Muslim yang lebih baik setiap hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image