Sastra Dunia dan Suara Lokal: Ketika Pram dan Eka Bicara ke Panggung Global
Sastra | 2026-06-10 17:41:50Sudah lama kita bertanya, mengapa sastra dari negara-negara berkembang harus berjuang keras untuk mendapatkan kursi di panggung sastra dunia, sementara karya-karya dari Eropa dan Amerika Utara tampak meluncur masuk begitu saja? Pertanyaan ini bukan sekadar soal selera estetis ia menyentuh akar kekuasaan, politik penerjemahan, dan cara dunia mendefinisikan apa yang disebut "universal."
Dua nama besar dari Indonesia Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan menawarkan dua jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang sama. Keduanya berhasil menembus kanon sastra dunia. Namun jalannya sungguh tidak sama.
Kanon Sastra Dunia: Bukan Ruang yang Netral
Sebelum berbicara tentang Pram dan Eka, kita perlu jujur tentang satu hal: kanon sastra dunia bukanlah ruang organik yang terbentuk secara alamiah. Ia dibentuk oleh keputusan institusional penerbit, kritikus, dan lembaga penghargaan seperti Nobel yang memiliki agenda dan perspektif tersendiri.
Konsep Weltliteratur yang pertama kali digagas Goethe dan kemudian dikembangkan oleh David Damrosch mensyaratkan sebuah karya sastra lokal memiliki "kualitas intrinsik universal" yang mampu melampaui konteks asalnya. Kedengarannya adil. Tapi siapa yang berwenang menilai apa itu "universal"? Jawaban atas pertanyaan itu hampir selalu berpusat di Barat.
Terdapat ketidaksetaraan hierarki yang nyata antara "pusat" dan "pinggiran" dalam lanskap sastra global. Karya dari negara berkembang harus melalui proses legitimasi yang panjang dan sering kali tidak adil mulai dari seleksi penerjemah, persetujuan penerbit internasional, hingga penerimaan kritikus asing. Satu karya yang lolos dari proses ini pun masih sangat bergantung pada peran "mediator" seperti penerjemah yang mampu menjembatani dua dunia tanpa mengorbankan kekhasan budaya asalnya.
Pramoedya: Ketika Sensor Menjadi Panggung
Tetralogi Buru lahir dalam kondisi paling pahit. Pramoedya menulis keempat novelnya di pengasingan di Pulau Buru pertama-tama secara lisan untuk sesama tahanan, sebelum akhirnya dituangkan ke kertas. Ironi besar terjadi kemudian: ketika rezim Orde Baru melarang buku-buku itu beredar secara nasional, larangan itulah yang justru menarik simpati dan perhatian dunia internasional.
Pram menjadi simbol perlawanan intelektual terhadap rezim otoriter di tengah peta geopolitik Perang Dingin. Kelompok-kelompok progresif di Barat menyambut karyanya bukan semata sebagai sastra, melainkan sebagai pernyataan politik. Ini memberikan Pram akses ke panggung global namun akses itu datang dengan beban tersendiri: karya-karyanya sering kali lebih dulu dibaca sebagai dokumen perlawanan, bukan sebagai karya sastra yang kaya secara estetis.
Peran Max Lane sebagai penerjemah menjadi sangat krusial. Lane memilih strategi foreignisasi mempertahankan istilah-istilah lokal seperti "sinyo", "ndoro", dan nama-nama Jawa alih-alih menggantinya dengan padanan asing yang lebih "akrab" di telinga pembaca Barat. Pilihan ini adalah sikap etis: menolak untuk menjinakkan teks agar lebih mudah dicerna, sekaligus mempertahankan integritas budaya asalnya.
Hasilnya? Tetralogi Buru bukan hanya menjadi fenomena politis, tapi juga berhasil diakui sebagai karya sastra besar. Melalui tokoh Minke, Pramoedya menelusuri pencarian identitas seorang pribumi terdidik yang berhadapan dengan dua warisan yang saling bertarik: tradisi Jawa dan modernitas Eropa. Tema universal tentang "menjadi manusia di tengah dehumanisasi" inilah yang akhirnya membawa Pram meraih Penghargaan Ramon Magsaysay dan nominasi Nobel Sastra.
Eka Kurniawan: Masuk dari Pintu Estetika
Eka Kurniawan memilih jalan yang berbeda. Ia tidak masuk ke panggung global sebagai korban sejarah atau ikon perlawanan. Ia masuk sebagai seniman.
Melalui Cantik itu Luka, Eka menempatkan dirinya dalam arus besar tradisi sastra dunia dengan secara sadar memadukan gaya realisme magis Amerika Latin terutama warisan García Márquez dengan sastra Indonesia. Penggunaan alur waktu non-linear, ironi dingin, dan humor gelap dalam membahas sejarah paling kelam negeri ini membuktikan bahwa ia mampu "berbicara" dalam bahasa estetika yang dikenali dunia internasional.
Namun yang membuat Cantik itu Luka lebih dari sekadar tiruan García Márquez adalah cara Eka membangun lokalitasnya. Muatan lokal dalam novel ini tidak hadir sebagai ornamen eksotis untuk memuaskan selera Barat melainkan dikonstruksi secara intrinsik dalam tiga lapisan yang saling menopang:
Geografis Kota fiktif Halimunda bukan sekadar latar. Ia dibangun dengan detail kehidupan pesisir Jawa Barat yang khas, dengan segala tegangan sosial dan kulturalnya.
Sejarah Novel ini menyelami luka-luka sejarah nasional secara kronologis: era Kolonial, pendudukan Jepang, hingga pembantaian 1965. Trauma ini tidak dihadirkan sebagai latar belakang, melainkan sebagai kekuatan yang terus bekerja dalam tubuh dan jiwa karakter-karakternya.
Budaya Nusantara Struktur narasi cerita rakyat, logika kutukan, mitos, dan arketipe folklor bukan sekadar dekorasi. Mereka adalah logika berjalannya plot itu sendiri.
Penerjemah Annie Tucker memainkan peran yang tidak kalah penting. Tucker berhasil mempertahankan ritme naratif unik Eka dengan kalimat-kalimat panjang yang meliuk seperti orkestra sehingga novel ini memenangi berbagai penghargaan global terkemuka, termasuk masuk daftar panjang Man Booker International Prize.
Dua Jalan, Satu Pertanyaan
Perbandingan Pram dan Eka membuka mata kita terhadap cara kerja kanon sastra dunia yang sesungguhnya.
Pram membuktikan bahwa sirkulasi sastra tidak pernah lepas dari dinamika politik sensor negara, perang dingin, dan jaringan solidaritas internasional semuanya bekerja dalam menentukan mana karya yang "layak" mendapat perhatian dunia. Jalur Pram adalah jalur politis, dan itu bukan penghinaan; itu kenyataan yang harus diakui secara kritis.
Eka membuktikan bahwa penulis kontemporer dari negara "pinggiran" mampu bersaing di pasar sastra global dengan mengadopsi struktur estetika internasional dalam hal ini, realisme magis sembari tetap mempertahankan kekayaan akar lokalitasnya. Jalur Eka adalah jalur estetis, yang mensyaratkan tidak hanya kepiawaian bercerita, tapi juga kesadaran tentang bagaimana tradisi sastra dunia bekerja.
Keduanya berhasil. Namun keduanya juga mengonfirmasi bahwa tidak ada jalan yang benar-benar bebas dari struktur kekuasaan yang mengatur lanskap sastra global.
Yang Masih Harus Dibenahi
Keberhasilan Pram dan Eka tidak boleh membuat kita terlena. Di balik dua nama ini, ada ribuan karya sastra Indonesia yang belum pernah dan mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan yang sama.
Yang diperlukan bukan hanya keberuntungan atau jenius individual. Yang diperlukan adalah ekosistem penerjemahan yang lebih adil di mana penerjemah dihargai bukan hanya sebagai perantara, melainkan sebagai kolaborator kreatif. Yang diperlukan adalah strategi penerjemahan yang etis, agar lokalitas tidak direduksi menjadi eksotisme yang dijual untuk memuaskan rasa ingin tahu Barat. Dan yang tidak kalah mendesak adalah dukungan sistematis dari negara untuk mendistribusikan kekayaan sastra Indonesia ke kancah global bukan sebagai proyek gengsi, tapi sebagai komitmen terhadap keadilan budaya.
Konsep Weltliteratur Goethe tetap relevan sebagai kerangka berpikir tentang sirkulasi karya. Namun ia harus selalu disertai kesadaran kritis: bahwa di balik setiap karya yang "berhasil melampaui batasnya", ada mekanisme kekuasaan yang menentukan siapa yang mendapat tiket masuk dan siapa yang tetap tertinggal di gerbang.
Sastra dunia seharusnya bukan tentang siapa yang cukup "universal" untuk diterima. Melainkan tentang siapa yang cukup berani untuk mendengarkan suara yang selama ini dianggap terlalu lokal untuk didengar.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
