Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Imelda Auliyah

Jejak Budaya Kuliner Indonesia di Belanda pada Tahun 1950-1970

Sejarah | 2026-06-09 20:50:29
Sumber: KITLV, "Trajectories of Taste", https://www.kitlv.nl/trajectories-of-taste/.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda memang tidak pernah terlepas dari kolonialisme. Hubungan tersebut terbentuk tidak hanya dari bidang politik maupun militer, tetapi juga melalui pertukaran budaya yang terjadi setelah dekolonisasi. Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, banyak sekali masyarakat Indo-Belanda dan bekas warga Hindia Belanda melakukan perpindahan atau bermigrasi ke Belanda. Perpindahan tersebut membawa perubahan dan dampak yang sangat besar bagi kehidupan sosial maupun budaya masyarakat tersebut, terutama dalam budaya kuliner. Mereka pindah ke Belanda tidak hanya membawa fisik dan kenangan saja, melainkan juga membawa kebiasaan makan, penggunaan rempah-rempah Indonesia, resep turun temurun keluarga dan budaya memasak.

Di rumah-rumah keluarga Indo-Belanda, berbagai hidangan seperti nasi goreng, sate, opor, semur, dan sambal tetap dimasak. Resep-resep tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas keluarga. Melalui makanan, mereka mempertahankan hubungan dengan Indonesia meskipun tinggal ribuan kilometer jauhnya.

Pada awalnya, masyarakat Belanda belum sepenuhnya terbiasa dengan kuliner Indonesia. Makanan Indonesia dianggap berbeda dan asing karena memiliki cita rasa yang lebih kaya akan penggunaan rempah-rempah yang lebih kompleks dibandingkan makanan Belanda yang cenderung sederhana. Namun, Seiring berkembangnya restoran Indonesia dan restoran Indisch pada tahun 1950-an hingga 1970-an, masyarakat Belanda mulai mengenal kuliner Indonesia secara lebih luas.

Restoran menjadi ruang pertemuan budaya yang memperkenalkan berbagai makanan Indonesia kepada masyarakat Belanda. Banyak orang Belanda yang sebelumnya tidak mengenal makanan Indonesia akhirnya mencoba dan menikmati hidangan-hidangan tersebut. Tidak hanya restoran, keberadaan toko Indonesia atau toko juga berperan penting dalam memperkenalkan bahan-bahan makanan Indonesia kepada masyarakat Belanda. Melalui toko-toko tersebut, produk seperti sambal, kecap manis, kerupuk, dan berbagai rempah-rempah mulai dikenal oleh masyarakat luas.

Sekitar akhir tahun 1960-an hingga 1970-an, komunitas Indonesia di Belanda menjadi semakin beragam. Selain masyarakat Indo-Belanda, muncul pula kelompok eksil Indonesia yang menetap di Belanda setelah perubahan politik Indonesia tahun 1965. Kehadiran kelompok ini turut memperkuat keberadaan budaya Indonesia di Belanda melalui berbagai kegiatan sosial dan komunitas. Meskipun mereka memiliki latar belakang yang berbeda, makanan tetap menjadi salah satu unsur budaya yang mampu menyatukan berbagai kelompok masyarakat Indonesia di Belanda.

Dalam perkembangannya, kuliner Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga mengalami perubahan dan penyesuaian. Beberapa hidangan disesuaikan dengan selera masyarakat Belanda tanpa menghilangkan identitas dasarnya. Proses adaptasi tersebut telah membuat makanan Indonesia semakin mudah diterima oleh masyarakat Belanda.

Hasilnya dapat kita lihat hingga saat ini. Makanan seperti nasi goreng, sate, rendang, sambal, dan berbagai hidangan Indonesia lainnya dapat ditemukan dengan mudah di restoran maupun supermarket Belanda. Kuliner Indonesia tidak lagi dipandang sebagai makanan komunitas migran semata, tetapi telah menjadi bagian dari budaya kuliner Belanda modern.

Selain itu, tahukah kalian bahwa kata "sambal" telah masuk ke dalam kosakata sehari-hari masyarakat Belanda? Saat ini sambal dapat ditemukan hampir di seluruh supermarket besar di Belanda dan menjadi salah satu produk makanan Indonesia yang paling populer.

Jejak kuliner Indonesia di Belanda menunjukkan bahwa makanan bukanlah sekadar sesuatu yang dikonsumsi untuk menghilangkan rasa lapar. Makanan juga dapat menjadi media atau alat untuk mempertahankan identitas, menjaga memori kolektif, dan membangun hubungan budaya antarbangsa.

Melalui kuliner, masyarakat Indo-Belanda mampu mempertahankan identitas mereka setelah migrasi ke Belanda. Di sisi lain, masyarakat Belanda secara perlahan mengenal dan menerima makanan Indonesia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Perjalanan kuliner Indonesia di Belanda membuktikan bahwa budaya dapat terus hidup dan berkembang meskipun berpindah tempat, bahkan melintasi benua. Terkadang, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau buku-buku lama, tetapi juga dalam sepiring makanan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Sumber rujukan: Tulisan ini merujuk pada kajian Susie Protschky (2008) tentang makanan, budaya, dan identitas kolonial di Indonesia, Amin Mudzakkir (2015) tentang kehidupan eksil Indonesia di Belanda, Julia Doornbos, dkk (2023) tentang hubungan emosional dan keterikatan batin masyarakat Indo-Belanda terhadap Indonesia, Keasberry (2014) yang membahas tentang budaya makanan Indo-Belanda, serta Hoogervorst (2024) yang membahas tentang perubahan kuliner Indonesia di Belanda pasca migrasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image