Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image umar arsyad

Artificial Intelligence (AI) Boleh Canggih, Tapi Nilai-Nilai Gontor Tidak Boleh Hilang

Agama | 2026-06-09 16:11:42
Suasana Kajian Subuh Di pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2. (Sumber: Dokumentasi Staf multimedia)

"Teknologi boleh berkembang pesat, tetapi Gontor tidak melepaskan nilai-nilai pondok."

Di tengah dinginnya kabut subuh yang masih menyelimuti lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2, para asatidz bergegas menuju Masjid Jami’ Gontor 2 untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Suasana yang mulanya hening perlahan berubah menjadi hangat dengan hadirnya forum kajian subuh yang rutin diselenggarakan sebagai salah satu agenda mingguan Dewan Mahasiswa Gontor 2.

Kegiatan kajian subuh tersebut dilaksanakan secara rutin pada pekan pertama dan ketiga setiap bulannya. Meski sederhana, forum ini memiliki nilai pendidikan yang sangat penting dalam membangun budaya intelektual, spiritual, dan ukhuwah islamiyah di lingkungan pondok. Kajian subuh bukan sekadar agenda formalitas, melainkan ruang pertemuan ide, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan langsung oleh para guru senior kepada mahasiswa guru Gontor 2.

Pada kesempatan kali ini, kajian subuh diisi oleh salah satu guru senior Gontor 2, yaitu Al-Ustadz Rifky Yulian Syah Bagus Baskoro, S.Th.I., M.Ag., dengan mengangkat tema “Optimalisasi Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Meningkatkan Kualitas Mahasiswa.” Tema tersebut terasa sangat relevan dengan perkembangan zaman, terlebih di era digital saat ini ketika teknologi kecerdasan buatan mulai memasuki hampir seluruh lini kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan pesantren dan perguruan tinggi.

Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Kehadiran AI telah menjadi bagian dari realitas kehidupan modern yang memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, berpikir, bahkan mengambil keputusan. Teknologi yang dahulu hanya dianggap sebagai gambaran masa depan kini telah hadir di setiap kegiatan mahasiswa.

Beliau juga menyoroti bagaimana AI mulai banyak digunakan dalam aktivitas akademik mahasiswa, mulai dari membantu pencarian referensi, penyusunan kerangka tulisan, penerjemahan bahasa, hingga penyelesaian tugas-tugas perkuliahan seperti makalah, artikel ilmiah, dan presentasi akademik. Namun, penggunaan AI tidak boleh dipahami sebagai alat untuk menggantikan kemampuan berpikir manusia.

AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti akal dan tanggung jawab intelektual manusia,” demikian kira-kira pesan penting yang ditekankan dalam kajian tersebut.

Di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi, mahasiswa tetap dituntut untuk memiliki daya pikir kritis, kejujuran akademik, serta kemampuan analisis yang kuat. Sebab, ketergantungan berlebihan terhadap AI justru dapat melemahkan kreativitas, mengurangi semangat membaca, dan menjadikan seseorang malas berpikir secara mandiri. Oleh karena itu, penggunaan AI harus diiringi dengan kebijaksanaan serta kesadaran moral agar teknologi benar-benar menjadi sarana peningkatan kualitas diri, bukan sebaliknya.

Kajian ini juga menjadi pengingat bahwa pesantren tidak anti terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, pesantren justru berusaha menempatkan teknologi secara proporsional dalam bingkai nilai-nilai pendidikan Islam. Modernitas tidak harus menghilangkan identitas dan tradisi intelektual pesantren. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, pengembangan ilmu pengetahuan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia apabila digunakan dengan benar.

Selain bernilai edukatif, kegiatan kajian subuh tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan antarguru di lingkungan Gontor Kampus 2. Kebersamaan yang terbangun dalam forum seperti ini menjadi salah satu bentuk nyata ukhuwah islamiyah yang terus dijaga di tengah padatnya aktivitas pondok sehari-hari. Forum sederhana selepas subuh itu menghadirkan suasana kekeluargaan yang hangat, sekaligus memperkuat semangat pengabdian para guru muda yang sedang menempuh jenjang pendidikan dan pengembangan diri di pondok.

Kajian subuh kali ini dihadiri oleh sekitar 249 mahasiswa guru Gontor 2 yang masih aktif mengabdikan dirinya di pondok. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kajian mengenai AI dan dunia pendidikan menjadi isu yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Terlebih, mereka merupakan generasi yang hidup di tengah arus transformasi digital yang bergerak sangat cepat.

Acara yang berada di bawah naungan Dewan Mahasiswa Gontor 2 tersebut sebelumnya juga telah mendapatkan arahan serta masukan dari Bapak Wakil Pengasuh Gontor 2 agar kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya menjadi forum akademik semata, tetapi juga mampu memperkuat nilai ukhuwah islamiyah, kedisiplinan, dan semangat belajar para mahasiswa guru.

Melalui kajian seperti ini, Gontor kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi pendidik yang tidak hanya cakap dalam memahami perkembangan zaman, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai moral dan spiritual di tengah derasnya arus teknologi modern. Sebab pada akhirnya, kecanggihan teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan kebijaksanaan, adab, dan akhlak manusia dalam menggunakan ilmu pengetahuan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image