Muhadhoroh: Metode Pendidikan Berorasi Ala Pondok Modern
Pendidikan dan Literasi | 2026-06-09 12:59:40Di dalam kurikulum Pondok Modern, terdapat salah satu ekstrakulikuler wajib yang harus diikuti oleh semua santrinya guna melatih kemampuan berbicara mereka didepan umum. Dan ekstrakulikuler tersebut adalah Latihan pidato atau yang akrab dikenal dengan Muhadhoroh. Kegiatan ini dilaksanakan 2 kali dalam sepekan; Kamis siang (Bahasa arab) dan malam (Bahasa Indonesia) dan juga Ahad malam (Bahasa Inggris).
Terkadang timbul pernyataan dalam benak para santri bahwa Muhadhoroh ini adalah kegiatan yang mengesalkan, karena untuk menjadi pembicara dalam ekskul ini terdapat banyak prosedur yang harus dilewati semuanya, dan apabila salah satu ditinggalkan maka ia akan terkena hukuman. Mulai dari membuat persiapan / I’dad, melaporkannya ke pembimbing ruangan, meminta stempel pengesahan di bagian pengajaran, dan berbicara tanpa melihat buku. Itu semua harus ia persiapkan dalam kurang dari sepekan.
Tentu sangat memberatkan bagi santri. Namun dibalik itu apa hikmah yang terkandung dalam segala proses tersebut? Mengapa untuk menjadi pembicara dalam kegiatan ekskul saja harus menempuh rentetan proses tersebut?
Ternyata setelah saya lulus dari pondok, semua rentetan yang dilakukan oleh santri sebelum berbicara di kelas kelas Muhadhoroh ini ada manfaatnya kepada diri saya. Saya menyadari bahwa Ketika kita hendak untuk menyampaikan sesuatu didepan umum kita pasti butuh persiapan (I’dad). Dan untuk menyiapkan I’dad itu yang paling mudah untuk dirangkai yang kemudian dikeluarkan adalah dengan tulisan. Seperti kata Imam As-Syafi’I dalam penggalan syairnya yang terkenal:
العِلْمُ صَيْدٌ وَالكِتَابَةُ قَيْدُهُ
artinya: “Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah pengikatnya”
Dan setelah kita membuat I’dad, kita perlu untuk mengkonfirmasi bahwasannya bahan bicara yang kita siapkan ini sudah benar. Dan jika sudah dilakukan, maka arah bicara kita menjadi tidak mblunder atau tidak terarah. Selain itu dalam menyampaikan pidato kita juga jangan terlalu terpaku pada teks yang kita buat, cukup poin-poin utamanya lalu dikembangkan dengan bahasa kita sendiri.
Maka dari itu, santri dibiasakan setiap pekannya untuk dapat berbicara didepan umum, agar ketika hendak menyampaikan sesuatu diluar sana mereka tidak mudah gugup dan percaya diri karena sewaktu belajar dipondok sudah dibiasakan untuk berbicara didepan umum.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
