Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Khoirillah _

Ketika Pernikahan Menjadi Jaringan Kuasa

Sastra | 2026-06-09 11:34:36

Armijn Pane mengguncang dunia sastra Indonesia melalui novel Belenggu (1940). Bagi banyak pembaca, novel ini sering dipahami sebagai kisah cinta segitiga yang tragis antara Dokter Sukartono (Tono), istrinya Sumartini (Tini), dan perempuan dari masa lalunya, Siti Rohayah (Yah). Namun, jika dibaca melalui perspektif Michel Foucault, Belenggu menawarkan sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar drama percintaan. Novel ini memperlihatkan bagaimana manusia modern terjerat dalam jaringan kuasa yang bekerja secara halus melalui institusi pernikahan, profesi, norma gender, dan tuntutan sosial.

(Sumber: https://share.google/1q73PDcHTVlLmkkwQ)

Dalam pandangan Foucault, kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk larangan, hukuman, atau kekerasan. Kuasa bekerja melalui norma yang dianggap wajar, benar, dan rasional. Ia hadir dalam kebiasaan sehari-hari, membentuk cara individu berpikir, bertindak, bahkan memahami dirinya sendiri. Karena itu, kuasa tidak memiliki satu pusat tunggal. Ia beredar dalam relasi sosial dan bekerja melalui berbagai institusi yang tampak biasa.

Melalui kacamata tersebut, "belenggu" dalam novel Armijn Pane bukan sekadar ikatan cinta yang gagal atau takdir yang menyakitkan. Belenggu adalah jaringan kuasa yang mengatur kehidupan para tokohnya tanpa mereka sadari sepenuhnya.

Latar sosial Hindia Belanda pada dekade 1930-an menjadi ruang yang penting untuk memahami konflik dalam novel ini. Pada masa itu, pendidikan Barat mulai melahirkan kelompok intelektual pribumi dengan pandangan hidup yang lebih modern. Namun, pada saat yang sama, masyarakat masih mempertahankan nilai-nilai tradisional mengenai keluarga dan relasi gender. Benturan antara dua sistem nilai tersebut hadir secara nyata dalam kehidupan rumah tangga Tono dan Tini.

Sebagai perempuan terdidik, Tini tidak sepenuhnya cocok dengan citra istri ideal yang diharapkan masyarakat pada zamannya. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan lebih banyak menghabiskan energi di ruang publik dibandingkan ruang domestik. Pilihan hidup ini memunculkan ketegangan dalam rumah tangganya dengan Tono yang menginginkan kehangatan dan kehadiran emosional di rumah. Dalam konteks ini, konflik mereka bukan sekadar persoalan watak atau kecocokan pribadi, melainkan benturan antara berbagai norma yang sama-sama mengklaim kebenarannya.

Namun, pembacaan Foucaul tidak memungkinkan kita menempatkan Tini semata-mata sebagai korban atau pahlawan perlawanan. Tini memang menolak sebagian tuntutan domestik yang dibebankan kepadanya, tetapi ia juga dibentuk oleh wacana modernitas yang mengagungkan aktivitas sosial, pendidikan, dan aktualisasi diri. Dengan kata lain, ia tidak berada di luar jaringan kuasa, ia justru menjadi salah satu subjek yang dibentuk oleh kuasa tersebut.

Hal yang sama berlaku pada Tono. Sebagai dokter, ia memiliki otoritas sosial yang besar. Pengetahuan medis dan status profesional memberinya posisi terhormat dalam masyarakat. Dalam kerangka Foucault, pengetahuan dan kekuasaan saling berkaitan. Namun, posisi ini tidak membuat Tono menjadi sosok yang sepenuhnya berkuasa. Sebaliknya, profesinya juga menuntut pengabdian tanpa henti kepada pasien dan masyarakat. Waktu, perhatian, bahkan kehidupan pribadinya terus-menerus diintervensi oleh tuntutan profesi. Ia menjadi subjek yang sekaligus mengendalikan dan dikendalikan.

Sementara itu, Yah menghadirkan dimensi lain dari persoalan tersebut. Sebagai perempuan yang hidup di luar norma sosial yang dianggap ideal, keberadaannya menunjukkan bagaimana masyarakat membangun kategori-kategori tentang perempuan baik dan perempuan buruk. Namun, sebagaimana Tini dan Tono, Yah juga berusaha mencari ruang hidupnya sendiri di tengah berbagai batasan yang ada.

Karena itu, kekuatan utama Belenggu terletak pada kemampuannya menunjukkan bahwa tidak ada tokoh yang benar-benar menang. Tono, Tini, maupun Yah sama-sama mengalami keterasingan. Mereka tidak berhasil menemukan kebebasan yang dijanjikan modernitas. Sebaliknya, mereka justru berhadapan dengan bentuk kuasa baru yang bekerja lebih halus daripada paksaan tradisional.

Armijn Pane ingin memperlihatkan bahwa modernitas tidak otomatis membebaskan manusia. Pendidikan, profesi, pernikahan, dan kebebasan memilih pasangan memang membuka kemungkinan baru, tetapi pada saat yang sama melahirkan tuntutan serta norma baru yang tidak kalah mengikat. Kuasa tidak menghilang namun ia hanya berubah bentuk.

Hal itu terlihat jelas pada akhir novel. Tini memilih pergi untuk mengabdikan diri pada kegiatan sosial, Yah meninggalkan masa lalunya, sementara Tono tetap terjebak dalam kesendirian. Tidak ada penyelesaian yang benar-benar tuntas. Tidak ada kemenangan yang mutlak. Akhir yang menggantung tersebut justru menegaskan gagasan bahwa setiap tokoh masih berada dalam jaringan kuasa yang terus bekerja, bahkan ketika mereka mencoba melarikan diri darinya.

Melalui Belenggu, Armijn Pane berhasil mengungkap paradoks manusia modern, semakin mengejar kebebasan, semakin ia menyadari bahwa hidupnya dibentuk oleh berbagai struktur yang tak selalu tampak. Dengan demikian, belenggu yang sesungguhnya bukanlah cinta yang gagal, melainkan relasi kuasa yang mengitari manusia dan membentuk dirinya setiap hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image