Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Saphira Cahaya Kamila

Menatap Cermin Kelam Sejarah: Satire Idrus dan Ironi Birokrasi Penindas Bangsa Sendiri

Sastra | 2026-06-09 11:14:47

Membaca kembali kesaksian sastra Idrus dalam kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, khususnya pada fragmen "Oh... Oh... Oh!", kita seolah dihadapkan pada cermin retak sejarah pendudukan Jepang. Sebuah realitas kelam yang sering kali enggan diakui oleh narasi-narasi besar kepahlawanan kita.

Idrus dengan sangat genius membongkar anatomi kekuasaan yang bekerja lewat infiltrasi struktur sosial terbawah. Strategi ini melahirkan kelas penindas baru yang ironisnya berasal dari darah daging bangsa sendiri.

Kritik tajam yang dihadirkan bukan sekadar potret penderitaan fisik masyarakat. Lebih jauh, ini adalah sebuah dekonstruksi moral terhadap mentalitas oportunistik para agen lokal seperti sosok tukang jual karcis stasiun hingga barisan Keibodan (pembantu polisi).

Arogansi Kecil dan Akar Pungli

Potret birokrasi kecil ini menampilkan arogansi yang menjijikkan saat berhadapan dengan rakyat jelata yang compang-camping dan kelaparan. Ucapan sinis sang tukang karcis menjadi bukti autentik fenomena ini:

"Kalau engkau mau lekas juga, boleh beli dari belakang. Tambah setengah perak." (hlm.100)

Dialog ringkas tersebut membuktikan betapa korupsi, pungli, dan penyalahgunaan jabatan telah mengakar kuat bahkan di level pelayanan publik paling mendasar. Semua dilakukan demi memuaskan perut sendiri atau menjilat penguasa asing.

Alarm untuk Birokrasi Modern

Oleh karena itu, jika direfleksikan pada realitas hari ini, tulisan Idrus menggarisbawahi sebuah kebenaran universal yang pahit: musuh paling berbahaya sering kali bukanlah entitas asing yang datang menjajah, melainkan saudara sebangsa yang mendadak amnesia moral ketika diberi secuil otoritas.

Eksploitasi pangan, kekerasan fisik bermodus pemeriksaan barang, hingga bungkamnya suara-suara kritis masyarakat akibat represi sistemis, memperlihatkan bagaimana kekuasaan fasistik berhasil meremukkan solidaritas kemanusiaan kita.

Artikel ini menjadi pengingat abadi bahwa penderitaan rakyat di masa lalu tidak hanya disebabkan oleh kekuatan asing. Penderitaan itu justru langgeng oleh tangan-tangan lokal yang dengan sukarela menjadi perpanjangan lidah penindasan demi status sosial artifisial.

Karya Idrus ini adalah sebuah alarm keras bagi kita semua agar selalu waspada terhadap bibit-bibit watak korup dan feodal dalam birokrasi modern saat ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image