Ketika Si Paling Medis Akhirnya Pasrah di Tangan Dukun
Sastra | 2026-06-09 10:58:49Manusia sering kali merasa paling pintar dan logis, pada saat tidak memiliki masalah. Dengan bangga, ketika si paling medis menertawakan orang yang pergi ke dukun, menganggap pengobatan tradisional itu kuno, dan percaya kalau semua masalah hidup bisa diselesaikan pakai otak, uang, atau pandangan modern. Tapi tunggu sampai hidup memberi kita ujian yang membolak-balikkan keadaan. Di sinilah cerita tentang "kemakan omongan sendiri" itu dimulai.
Sok Tahu dan Anti-Takhayul di Awal Cerita
Kisah ini berawal dari seorang tokoh bernama Martopo atau yang disebut Mbah Mar. Dia bukan orang sembarangan dia berpendidikan, mantan guru, bahkan pernah jadi anggota dewan yang terhormat. Sebagai orang modern yang berwawasan luas, Martopo dulunya sangat anti dengan hal-hal mistis. Baginya, menyembuhkan penyakit pakai jampi-jampi atau air doa adalah hal yang konyol dan tidak masuk akal. Dia selalu mendewakan logika medis, dokter, dan rumah sakit. Jangankan percaya dukun, melirik tempat-tempat keramat saja dia tidak sudi. Terdapat pada kutipan "Orang sakit tidak dibawa ke dokter, malah dibawa ke orang tua yang sama sekali tidak mengerti soal medis!" hlm. 90
Waktu Logika Mulai Kebingungan
Sialnya, nasib baik tidak selamanya berpihak pada kesombongan kita. Hidup Martopo berputar 180 derajat saat sebuah penyakit misterius menyerang tubuhnya. Berbulan-bulan dia bolak-balik ke rumah sakit terbaik, minum obat dosis tinggi, dan menghabiskan tabungannya demi kesembuhan secara medis. Anehnya, dokter justru kebingungan. Hasil pemeriksaan laboratorium selalu menyatakan kalau tubuhnya "sehat dan normal", padahal fisiknya makin hari makin kurus dan melemah. Di titik nadir inilah mentalnya ambruk. Ketika nyawa taruhannya dan sains angkat tangan, ego orang paling pintar sekalipun bakal runtuh. Rasa frustrasi memaksa pikirannya yang dulu lurus untuk mulai belok mencari alternatif lain.
Akhirnya Menyerah dan Datang ke Dukun Kampung
Gengsi seorang mantan pejabat akhirnya kalah oleh rasa sakit. Kaki yang dulunya tidak mau melangkah ke tempat spiritual tradisional, kini terpaksa mengetuk pintu rumah dukun atau "orang pintar" di kampungnya. Martopo yang dulunya sinis, kini pasrah duduk bersila, meminum air putih yang sudah diberi rapalan doa oleh dukun yang pernah dia remehkan. Entah karena kebetulan atau kekuatan pikiran (sugesti), pengobatan tradisional itu justru perlahan menyembuhkan penyakit misteriusnya. Penyakit yang gagal total dideteksi oleh alat medis rumah sakit, malah bertekuk lutut di depan kesederhanaan metode tradisional kampung.
Pelajaran Penting: Jangan Terlalu Mendongak
Cerita Mbah Mar ini sebenarnya adalah tamparan keras untuk kita semua yang sering merasa paling tahu segalanya. Dunia ini tidak melulu hitam dan putih. Sains memang luar biasa hebat, tapi tradisi dan keyakinan lama juga punya cara tersendiri yang sering kali gagal dipahami oleh logika kita. Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan satu hal: jangan terlalu sombong menolak sesuatu yang belum kita mengerti. Sebab, bisa jadi hal yang paling kita benci hari ini, justru menjadi tempat kita menyelamatkan diri di kemudian hari.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
