Perempuan dan Kebebasan yang Selalu Dipertanyakan
Dunia sastra | 2026-06-09 05:45:30Delapan puluh tahun setelah Belenggu diterbitkan, saya menemukan satu hal yang cukup mengganggu: persoalan yang dihadapi Tini ternyata belum benar-benar usai. Kita hidup pada zaman yang berbeda, tetapi perempuan masih terus berhadapan dengan pertanyaan yang sama: seberapa jauh mereka boleh bermimpi tanpa dianggap melupakan kodratnya?
Mungkin itulah yang membuat Tini tidak pernah benar‑benar “tinggal” di masa lalu. Saat membaca Belenggu, saya tidak merasa berhadapan dengan seorang perempuan yang hidup pada dekade 1940‑an, melainkan seperti bertemu banyak perempuan di sekitar saya kini. Mereka berpendidikan, mempunyai ambisi, aktif berkarya, dan berusaha menata hidupnya sendiri. Namun pada saat bersamaan, mereka tetap dibayangi oleh ekspektasi menjadi perempuan sebagaimana yang diharapkan orang lain.
Dalam novel Belenggu Karya Armijn Pane, Tini digambarkan sebagai sosok cerdas, terdidik, dan terlibat dalam beragam kegiatan sosial. Ia tak puas hidup hanya berputar di dalam rumah; ada keinginan kuat untuk terlibat dalam dunia yang lebih luas. Di sinilah konflik muncul. Apa yang Tini anggap sebagai langkah maju tidak selalu dilihat sama oleh suaminya, Tono.
Tono mengidamkan rumah yang hangat dan istri yang dapat mengisi ruang‑ruang domestik yang dirindukannya. Sementara Tini menginginkan kebebasan menjalani hidup sesuai pilihannya. Pertentangan keduanya bukan sekadar soal cinta yang memudar atau kegagalan komunikasi, melainkan benturan dua pandangan tentang perempuan: apakah ia harus hidup demi memenuhi harapan orang lain atau berhak menentukan jalannya sendiri?
Selama berabad-abad, perempuan dibesarkan dengan satu pelajaran yang terus diulang dalam berbagai bentuk: “jadilah apa pun yang kamu inginkan, tetapi jangan sampai melupakan tugasmu sebagai perempuan.” Kalimat itu terdengar begitu indah sampai kita menyadari bahwa batas "jangan" selalu bergerak mengikuti penilaian orang lain.
Perempuan boleh berpendidikan tinggi, tetapi jangan terlalu ambisius. Perempuan boleh bekerja, tetapi jangan lebih sukses dari suaminya. Perempuan boleh mandiri, tetapi jangan tampak terlalu mandiri. Perempuan boleh memiliki mimpi, tetapi jangan sampai mimpi itu mengganggu kenyamanan orang lain.
Pada titik tertentu, perempuan tak lagi dituntut untuk menjadi manusia secara utuh. Melainkan mereka dituntut menjadi pertunjukan keseimbangan yang nyaris mustahil dilakukan: harus berhasil tanpa terlihat mengancam; harus pintar tanpa terkesan sombong; harus kuat tanpa kehilangan kelembutan; harus mandiri tanpa kehilangan ketergantungan; harus modern tanpa meninggalkan tradisi. Daftar tuntutan itu tidak pernah benar-benar selesai hingga saat ini.
Ketika membaca Belenggu, saya justru merasa bahwa Tini bukanlah perempuan yang gagal menjadi istri; ia adalah perempuan yang gagal memenuhi ekspektasi yang saling bertentangan. Siapa pun akan gagal bila aturan permainannya memang dirancang mustahil untuk dimenangkan.
Keberanian Armijn Pane terletak pada kemampuannya menampilkan tokoh perempuan seperti Tini pada masa ketika kebanyakan karya sastra masih membagi perempuan menjadi dua kategori sederhana: baik atau buruk. Tini bukan keduanya. Ia tidak sempurna, namun juga tidak jahat—ia hanyalah manusia.
Akibatnya, banyak pembaca merasa tidak nyaman dengan karakter ini. Kita cenderung memaafkan laki-laki yang kompleks, bahkan kita menyebutnya realistis dan manusiawi. Sebaliknya, perempuan yang kompleks sering dinilai bermasalah. Mungkin karena perempuan yang memiliki kehendak sendiri selalu membuat masyarakat sedikit gelisah. Delapan puluh tahun setelah Belenggu diterbitkan, kegelisahan itu ternyata belum benar-benar lenyap.
Hari ini kita hidup di zaman ketika perempuan bisa menjadi menteri, profesor, peneliti, pemimpin perusahaan, atau apa pun yang mereka inginkan. Namun bersamaan dengan itu, standar tentang "perempuan ideal" justru semakin panjang. Media sosial bahkan memperparah keadaan. Perempuan kini dituntut sukses dalam karier, bahagia dalam rumah tangga, aktif mengasuh anak, memiliki tubuh ideal, menjaga kesehatan mental, produktif setiap hari, dan tetap tersenyum menghadapi semuanya. Kelelahan sering kali disembunyikan di balik unggahan yang tampak sempurna.
Mungkin itulah sebabnya Belenggu terasa begitu relevan. Novel ini tidak sedang berbicara tentang cinta segitiga. Ia berbicara tentang manusia yang terjebak dalam harapan-harapan sosial yang terlalu sempit. Tini tidak sedang melawan suaminya; ia sedang melawan sebuah dunia yang ingin menentukan seperti apa perempuan seharusnya hidup. Dan dunia itu, sayangnya, masih ada sampai sekarang.
Oleh karena itu, setiap kali ada yang menuding perempuan modern sebagai penyebab keretakan keluarga, saya selalu teringat pada Tini. Bukan karena Tini adalah sosok yang sempurna, melainkan karena ia mengingatkan kita bahwa sering kali masalahnya bukan pada perempuan yang terlalu modern, melainkan terletak pada masyarakat yang masih belum siap menerima perempuan sebagai manusia secara utuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
