Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image umar arsyad

Bukan Sekadar Bertahan: Inilah Alasan Gontor Tetap Kuat Setelah Satu Abad

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-08 19:51:52
Suasana Sore Hari di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

"Ditengah banyaknya lembaga pendidikan Islam yang mulai kehilangan arah akibat perubahan zaman, Pondok Modern Darussalam Gontor justru tetap bertahan dan terus melahirkan generasi-generasi perekat umat."

Gontor, sebuah lembaga pendidikan Islam yang mungkin sudah tidak asing dikalangan masyarakat Indonesia. Tahun ini, Pondok Modern Darussalam Gontor genap berusia satu abad – sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya mencerminkan ketahanan, tetapi juga konsistensi dalam menjaga nilai-nilai keislaman.

Nilai-nilai keislaman yang diterapkan Pondok Modern Darussalam Gontor ibarat ruh yang menghidupkan sebuah jasad, tanpanya, pendidikan hanya akan menjadi aktivitas tanpa makna.

Pertanyaannya, mengapa Gontor tetap mampu berdiri kokoh di usianya yang telah mencapai satu abad?

Tulisan ini akan mengulas berbagai faktor yang membuat Pondok Modern Darussalam Gontor tetap bertahan, maju, bahkan berkembang di tengah perubahan zaman yang semakin pesat

Gontor Dengan Kemandirian Sistemnya

Banyak orang di luar pesantren yang mungkin belum mengetahui hal ini. Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki kemandirian sistemnya dalam segi pengajaran dan pendidikan.

Sejak berdirinya Gontor tahun 1926. Sistem pendidikan dan pengajaran tidak pernah berubah sedikitpun, justru semakin berkembang pesat. Dalam sistem pengajarannya, Gontor menerapkan KMI (Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah). Sebuah sistem yang memadukan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Tahun 1978 silam, Soeharto berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor, beliau pernah bertanya kepada KH. Imam Zarkasyi tentang sistem pengajaran yang diterapkan di Gontor.

Dengan singkat namun penuh makna, beliau menjawab: "100 persen agama dan 100 persen umum." Dari jawaban itulah terlihat bahwa Gontor tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum, melainkan memadukannya sebagai satu kesatuan pendidikan Islam.

Selain itu, gontor juga menerapkan sistem pendidikan 24 jam. Para santri memiliki aktivitas yang teratur sejak bangun tidur hingga kembali tidur. Seluruh kegiatan tersebut berjalan dalam aturan dan disiplin yang telah ditetapkan.

Dengan kemandirian sistem pendidikan dan pengajaran tersebut Pondok Modern Darussalam Gontor terus berkembang hingga hari ini. Barangkali inilah yang dimaksud oleh KH. Imam Zarkasyi ketika mengatakan:

"Pondok ini tidak akan mati walaupun kiainya mati."

Kekuatan Pondok Modern Darussalam Gontor terletak pada kemampuannya membangun sistem dan kaderisasi, sehingga keberlangsungan pondok tidak bergantung pada satu tokoh, melainkan pada nilai yang terus diwariskan lintas generasi.

Nilai-Nilai Panca Jiwa dan Moto Pondok

Selain kemandirian sistemnya, Gontor juga terkenal dengan kepatenan nilai yang bersumber dari panca jiwa dan moto pondok. Nilai tersebut telah diwariskan kepada para santri dan guru sejak puluhan tahun lalu.

Lima panca jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyyah, dan kebebasan. Lima panca jiwa tersebut diterapkan dalam setiap aktivitas harian santri sebagai bekal pendidikan karakter mereka di kemudian hari.

Keikhlasan, memiliki makna bahwa setiap santri harus ikhlas dididik, dibentuk, dan dibina aklak serta tingkah lakunya oleh para guru selama masih berada di lingkungan pondok. Nilai ini mengajarkan santri untuk menerima setiap proses pendidikan dengan penuh kesungguhan dan kerendahan hati.

Adapun kesederhanaan berarti hidup tidak berlebihan dan tidak boros dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik dalam pengeluaran uang jajan harian, mingguan, maupun bulanan.

Salah satu penerapan nilai kesederhanaan di Pondok Modern Darussalam Gontor tampak pada kebijakan pembatasan pengambilan uang di bagian administrasi pondok, yaitu maksimal Rp 50.000. Kebijakan ini melatih santri untuk hidup sederhana dan mampu mengelola kebutuhan secara bijak.

Selain itu, berdikari memiliki arti berdiri diatas kaki sendiri. Para santri dibiasakan untuk menyelesaikan tugas, kewajiban, dan tanggung jawabnya secara mandiri. Pendidikan semacam ini bertujuan membentuk pribadi yang disiplin, tangguh, dan tidak bergantung kepada orang lain.

Beranjak pada Panca Jiwa yang keempat, yaitu ukhuwah Islamiyah, nilai ini menanamkan semangat persaudaraan dan solidaritas antarsesama muslim. Dalam kehidupan sehari-hari, para santri di Pondok Modern Darussalam Gontor terbiasa menjalani suka dan duka bersama; belajar bersama, saling membantu, hingga tumbuh dalam ikatan persaudaraan yang kuat.

Adapun Panca Jiwa yang terakhir adalah kebebasan. Para santri diberi ruang untuk berimajinasi, menyampaikan gagasan, serta mengembangkan pola pikirnya secara luas. Namun, kebebasan tersebut tetap berada dalam koridor nilai-nilai keislaman dan adab yang diajarkan pondok.

Lima Panca jiwa tesebut dikuatkan dengan empat moto Pondok Modern Darussalam Gontor, diantaranya: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas.

Berbudi tinggi tercermin dari pendidikan akhlak dan adab yang selalu ditekankan dalam setiap aktivitas pondok. Santri tidak hanya diajarkan untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki sikap hormat, sopan santun, dan jiwa pengabdian kepada masyarakat.

Adapun berbadan sehat menunjukkan bahwa kesehatan fisik menjadi bagian penting dalam pendidikan di Gontor. Berbagai kegiatan olahraga, kerja bakti, dan disiplin hidup teratur menjadi sarana untuk membentuk pribadi yang kuat secara jasmani maupun rohani.

Sementara itu, berpengetahuan luas menggambarkan sistem pendidikan Gontor yang tidak membatasi santri pada ilmu agama semata. Para santri didorong untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum, bahasa, organisasi, hingga perkembangan dunia modern agar memiliki wawasan yang luas.

Dan yang terakhir, berpikiran bebas. Dalam hal ini, kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan berpikir secara kritis, terbuka, dan mandiri tanpa terikat fanatisme suatu golongan. Dengan demikian, santri diharapkan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dan prinsip keislamannya.

Falsafah Para Trimurti dan Pimpinan Pondok

Falsafah di Pondok Modern Darussalam Gontor bukan sekadar slogan tanpa makna. Kalimat-kalimat tersebut lahir dari pemikiran, nasihat, dan pidato para Trimurti serta pimpinan pondok yang kemudian hidup dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari para santri.

Beberapa contoh falsafah Pondok Modern Darussalam Gontor:

1. "Bondho, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan" (KH. Ahmad Sahal).

Artinya: "Harta, tenaga, pikiran, kalau perlu sampai nyawa sekalipun." Falsafah ini menjelaskan bahwa para santri maupun guru harus membantu pondok dengan apa yang dimilikinya, harta, tenaga, pikiran, bahkan nyawa sekalipun.

2. "Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja" (KH. Imam Zarkasyi).

Falsafah ini menanamkan jiwa keberanian hidup dan semangat perjuangan. Orang yang benar-benar hidup tidak akan takut menghadapi kematian, sedangkan mereka yang selalu takut menghadapi kehidupan tidak akan pernah mampu melangkah maju.

3. "Siap dipimpin dan siap memimpin" (KH. Hasan Abdullah Sahal).

Falsafah tersebut mengajarkan bahwa seorang santri tidak hanya dituntut siap memimpin, tetapi juga siap dipimpin. Sebab, kepemimpinan yang baik lahir dari kemampuan menghargai peraturan, menaati sistem, dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.

4. "Apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan di pondok adalah pendidikan" (KH. Amal Fathullah Zarkasyi).

Maknanya, setiap apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh para santri merupakan bagian daripada pendidikan. Contohnya, ketika santri menyaksikan penampilan Pagelaran Seni Panggung Gembira, mereka sejatinya tidak hanya sedang menonton hiburan, tetapi juga belajar tentang kreativitas, kerja sama, disiplin, dan keberanian tampil di hadapan banyak orang.

5. Gontor berdiri diatas dan untuk semua golongan" (KH. Imam Zarkasyi).

Falsafah tersebut menunjukkan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor dibangun bukan untuk kepentingan golongan tertentu, melainkan untuk seluruh umat. Karena itu, meskipun para santrinya berasal dari berbagai latar belakang organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lainnya, Gontor tetap menjaga netralitasnya melalui sistem dan nilai pendidikan yang dimilikinya sendiri.

Pada akhirnya, kekuatan Pondok Modern Darussalam Gontor tidak hanya terletak pada bangunan megah, jumlah santri, ataupun luasnya cabang yang dimiliki. Lebih dari itu, Gontor bertahan karena memiliki ruh pendidikan yang terus hidup dalam sistem, nilai, panca jiwa, motto, serta falsafah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah derasnya arus modernisasi yang membuat banyak lembaga pendidikan kehilangan arah dan identitasnya, Gontor justru masih mampu berdiri kokoh hingga satu abad perjalanan. Sebab, Gontor tidak dibangun di atas ketergantungan terhadap satu tokoh, melainkan di atas nilai perjuangan, kaderisasi, dan pengabdian yang terus dijaga bersama.

Barangkali, inilah alasan mengapa Gontor tidak tumbang meski telah melewati usia satu abad. Karena bagi Gontor, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi proses membentuk manusia yang berakhlak, berakal, berilmu, serta siap mengabdi kepada umat dan bangsa.

Selama nilai-nilai tersebut tetap hidup dalam jiwa para santri dan guru, selama itu pula Pondok Modern Darussalam Gontor akan terus berdiri, berkembang, dan melahirkan generasi perekat umat di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image