Satu Abad Gontor: Gontor FC dan Timnas All Star Satukan Semangat Persaudaraan
Olahraga | 2026-06-08 13:35:24
Di tengah gemerlap sepak bola modern yang sering dipenuhi rivalitas berlebihan, Super Copa 100 Tahun Gontor justru menghadirkan wajah olahraga yang berbeda. Bukan sekadar pertandingan, bukan pula hanya hiburan. Lebih dari itu, ajang ini menjadi bukti bahwa sepak bola dapat menjadi sarana pendidikan karakter dan penguat ukhuwah antarsesama.
Ahad sore itu, Stadion Gontor dipenuhi lautan manusia. Ribuan santri, guru, alumni, hingga masyarakat sekitar memadati tribun dengan semangat yang begitu hidup. Parade pembukaan, penampilan Marching Band Gema Nada Darussalam (MB GND), atraksi seni, hingga kreativitas supporter santri membuat suasana terasa bukan hanya meriah, tetapi juga penuh makna.
Momentum grand opening Super Copa dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor seakan menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Ada nilai-nilai kehidupan yang justru tumbuh kuat di lapangan hijau.
Hal itulah yang ditegaskan Ketua Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil. Menurut beliau, “Super Copa bukan sekadar pertandingan olahraga, melainkan bagian dari proses pendidikan santri.” Pernyataan tersebut terasa relevan, sebab olahraga memang mampu melatih kedisiplinan, sportivitas, kebersamaan, dan mentalitas yang kuat.
Menariknya, pertandingan ekshibisi antara Timnas All Star melawan Gontor FC menjadi magnet tersendiri. Kehadiran nama-nama besar seperti Ferdinand Sinaga, Bagus Kahfi, dan Bagas Kaffa membuat antusiasme penonton semakin tinggi. Di sisi lain, Gontor FC yang diperkuat para alumni menunjukkan bahwa semangat kaderisasi dan loyalitas terhadap pondok tetap hidup hingga lintas generasi.
Meski Timnas All Star berhasil menang dengan skor 3-1, esensi utama dari pertandingan ini bukanlah soal kemenangan ataupun kekalahan. Ada pesan pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di papan skor.
Super Copa memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi media pembentukan karakter. Dalam pertandingan, para pemain belajar menghormati lawan, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan berjuang secara sportif. Nilai-nilai seperti inilah yang hari ini mulai jarang ditemukan dalam sebagian kultur olahraga modern yang terlalu menuhankan hasil akhir.
Selain itu, olahraga juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jasmani. Pepatah Arab mengatakan:
“Al-‘aqlus saliim fil jismis saliim”
yang berarti:
“akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat.”
Nilai tersebut sangat selaras dengan salah satu motto Pondok Modern Darussalam Gontor, yakni berbadan sehat. Sebab, pendidikan yang baik tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan fisik dan mental.
Yang paling menarik dari Super Copa ini mungkin bukan hanya pertandingannya, melainkan suasana persaudaraan yang tercipta. Santri, guru, alumni, hingga masyarakat dapat berkumpul dalam satu atmosfer kebersamaan. Stadion tidak hanya menjadi tempat kompetisi, tetapi juga ruang silaturahmi lintas generasi.
Di era modern yang semakin individualistis, suasana seperti ini terasa sangat mahal. Banyak orang sibuk dengan dunianya sendiri, sementara Gontor justru menghadirkan ruang kebersamaan yang hangat melalui olahraga.
Super Copa 100 Tahun Gontor akhirnya memberi pelajaran penting bahwa sepak bola tidak harus selalu dipandang sebagai hiburan semata. Di tangan lembaga pendidikan Islam seperti Gontor, olahraga mampu menjadi media pembentukan karakter, penguatan ukhuwah Islamiyah, dan sarana mendidik jiwa yang sehat serta sportif.
Barangkali, inilah yang membuat Gontor tetap bertahan hingga satu abad: “bukan hanya karena sistem pendidikannya, tetapi karena kemampuannya menanamkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap aktivitas, bahkan dari sebuah pertandingan sepak bola.”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
