Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Michelle Taj Ghina

Kota Harmoni Kekuasaan Kecil yang Merusak

Sastra | 2026-06-08 12:56:15

Idrus dalam cerpen "Kota Harmoni" (atau "Rota-farmoni") menggambarkan dengan menusuk kehidupan trem zaman pendudukan Jepang. Lewat satu perjalanan singkat dari Kota ke Harmoni, ia merangkum seluruh ironi manusia yang tunduk pada kuasa—sekecil apa pun bentuknya.

Seorang kondektur yang mendapat sedikit wewenang dari "Nippon" dengan kasar mengusir perempuan tua dari kelas satu. Perempuan itu pun menggerutu: "Sedikit saja dikasih Nippon kekuasaan sudah begitu. Sama orang tua berani. Tetapi coba kalau orang Nippon, membungkuk-bungkuk" (hal. 78). Gerutuan itu sekaligus menjadi kritik paling jujur: kekuasaan, sekecil apa pun, langsung merusak nurani.

Lebih ironis lagi, seorang pemuda awalnya berani berkata lambat-lambat: "Orang kelas satu dan orang kelas dua disamakannya saja, seperti binatang saja diperlukannya" (hal. 78). Namun, ketika orang Jepang berdiri di dekatnya, ia "diam dan melihat ke tempat lain" (hal. 78). Keberanian sipil luntur seketika saat ancaman nyata hadir.

Idrus tidak menggurui. Ia membiarkan pembaca merasakan sendiri bau terasi, asap rokok, dan keringat yang menyatu dalam sesaknya trem. "Kota Harmoni" bukan sekadar cerita masa lalu—ia adalah cermin tentang bagaimana manusia biasa bisa berubah menjadi penindas kecil, dan bagaimana ketakutan membungkam suara paling kritis sekalipun.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image