Mengapa Overthinking Semakin Banyak Dialami Anak Muda?
Curhat | 2026-06-05 16:28:54Dalam beberapa tahun terakhir, overthinking atau terlalu banyak berpikir menjadi penyakit yang umum pada kaum muda. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang terus-menerus merenungkan suatu masalah, rasa takut, atau kekhawatiran hingga hampir tidak mungkin baginya untuk tetap tenang. Fenomena ini dipengaruhi oleh banyak aspek kehidupan modern.
Hal kedua yang mendorong overthinking adalah media sosial. Seperti yang umum terjadi pada anak muda yang melihat semua orang di internet mencapai berbagai hal, melihat kehidupan orang lain dan membandingkan. Hal ini membuat banyak orang menjadi kurang percaya diri seperti sebelumnya dan takut bahwa orang lain akan menganggap mereka gagal. Pada saat yang sama, tekanan dari pendidikan, pekerjaan, bahkan masa depan juga menyebabkan kecemasan pada kaum muda. Tekanan ini cenderung menjadi semakin sengit ketika persaingan meningkat, sehingga menimbulkan rasa takut tertinggal.
Bersamaan dengan peristiwa-peristiwa tersebut, arus informasi juga menjadi sangat cepat akibat perkembangan teknologi. Semua berita dan permintaan sosial yang diterima setiap hari dapat melelahkan pikiran. Selain itu, sebagian individu muda juga merasa tidak mampu mengelola emosi dan ketegangan dengan cukup baik sehingga masalah-masalah kolektif pun dibesar-besarkan hingga terlihat seolah-olah sangat besar.
Dampak Overthinking pada Kesehatan Mental
Overthinking dapat menyebabkan masalah konsentrasi, kecemasan, dan gangguan tidur. Dengan demikian, sangat penting bagi remaja untuk mengambil kendali atas pola pikir mereka dengan mengubah sudut pandang atau berpikir secara positif, meringankan beban yang dibebankan oleh media sosial, dan menerima diri sendiri agar mereka dapat menjalani hidup yang lebih damai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
