Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image DANISHA FAIZA MAHARANI

Sains Kalah Seksi dari Hoaks: Menakar Era Post-Truth Lewat Filsafat Ilmu

Humaniora | 2026-06-03 22:03:10

Beberapa waktu lalu, lini masa media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah informasi kesehatan palsu yang menyebar dengan kecepatan eksponensial melalui grup-grup percakapan keluarga. Meskipun narasi yang dibangun di dalam pesan tersebut tidak masuk akal secara medis, ribuan orang dengan sukarela membagikannya kembali tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Di era digital, kita sering kali menyaksikan bagaimana sebuah kebohongan yang dikemas dengan emosi yang menyentuh mampu mengalahkan fakta ilmiah yang kaku.

Foto: Unsplash/Taras Shypka

Masyarakat modern saat ini hidup di era kelimpahan informasi. Namun, ironisnya, akses tanpa batas terhadap mesin pencari tidak serta-merta membuat masyarakat menjadi lebih cerdas atau skeptis. Sebaliknya, kita justru menjadi generasi yang sangat rentan menelan mentah-mentah sebuah hoaks atau misinformasi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Untuk memahami sengkarut ini secara mendalam, kita tidak bisa hanya menyalahkan rendahnya tingkat literasi atau mengambinghitamkan algoritma media sosial. Masalah ini menyentuh fondasi paling mendasar dalam filsafat ilmu, yaitu ranah epistemologi.

Secara sederhana, epistemologi adalah cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia bisa mendapatkan pengetahuan dan dengan metode apa kita dapat menentukan bahwa sesuatu itu benar atau salah. Dalam sejarah berpikir manusia, ada dua aliran besar yang selalu berdebat tentang asal-usul kebenaran ini, yaitu Rasionalisme dan Empirisme.

Kaum Rasionalis, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti René Descartes, berargumen bahwa pengetahuan sejati berasal dari akal budi dan logika formal. Bagi mereka, panca indra manusia sering kali menipu, sehingga kebenaran harus diuji melalui penalaran yang koheren dan logis. Sebaliknya, kaum Empiris seperti John Locke dan David Hume percaya bahwa pemikiran manusia awalnya seperti kertas putih kosong (tabula rasa). Pengetahuan hanya bisa didapatkan melalui pengalaman indrawi, observasi nyata, dan bukti-bukti fisik yang dapat diukur di lapangan.

Dalam dunia penyelidikan ilmiah modern, idealnya kita menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Sebuah klaim atau teori baru bisa dianggap sebagai kebenaran ilmiah yang valid jika ia lolos uji logika rasional dan didukung oleh data empiris yang sahih serta dapat direplikasi oleh peneliti lain. Namun, aturan main ilmiah yang ketat ini mendadak runtuh ketika dihadapkan pada realitas media sosial yang melahirkan era post-truth (pasca kebenaran).

Foto: Unsplash/Przemyslaw Marczuk

Kamus Oxford mendefinisikan post-truth sebagai suatu keadaan di mana fakta-fakta objektif menjadi kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan imbauan emosional dan keyakinan pribadi. Dari sudut pandang epistemologi, era post-truth telah melakukan dekonstruksi radikal terhadap standar kebenaran. Standar yang semula bersifat objektif-ilmiah kini bergeser menjadi subjektif-emosional. Sesuatu dianggap sebagai "kebenaran" bukan lagi karena ada bukti empiris yang mendukungnya, melainkan karena informasi tersebut terasa selaras dengan apa yang ingin kita percayai.

Secara psikologis, pergeseran standar berpikir ini diperparah oleh fenomena yang dikenal sebagai confirmation bias (bias konfirmasi). Otak manusia secara alami dirancang untuk menghemat energi kognitif. Akibatnya, kita cenderung lebih mudah mencari, mengingat, dan memercayai informasi yang mendukung pandangan atau prasangka yang sudah kita miliki sejak awal.

Sebagai contoh, jika sebuah hoaks politik atau sosial menyudutkan kelompok yang tidak kita sukai, nalar kritis kita sering kali langsung lumpuh. Kita tidak lagi mempertanyakan apakah datanya valid secara epistemologis atau dari mana sumbernya berasal. Kita langsung membagikannya karena informasi tersebut memberikan kepuasan emosional dan memvalidasi kebencian atau ketakutan kita.

Distorsi ini kemudian diamplifikasi oleh teknologi melalui ruang gema (echo chamber) dan gelembung filter (filter bubble) di media sosial. Di dalam ruang digital ini, algoritma sengaja menyajikan konten yang hanya sesuai dengan preferensi kita. Akibatnya, kita terisolasi dari sudut pandang alternatif. Kita hanya mendengarkan suara-suara yang seragam, berinteraksi dengan orang yang sepemikiran, dan secara kolektif merayakan misinformasi sebagai sebuah kebenaran baru. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh kualitas argumen, melainkan oleh kuantitas likes, akumulasi shares, dan rekayasa algoritma.

Lantas, bagaimana kita bisa keluar dari jebakan peretasan kognitif (cognitive hacking) dan anarki epistemologis ini? Jawabannya terletak pada pengaktifan kembali sarana berpikir dan logika penyelidikan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.

Filsafat ilmu mengajarkan kita untuk selalu memiliki sikap skeptisisme metodis—sebuah konsep berpikir yang dipopulerkan oleh Descartes. Skeptisisme metodis bukan berarti kita menjadi orang yang sinis, paranoid, dan tidak memercayai apa pun di dunia ini. Sebaliknya, ini adalah sebuah metode berpikir di mana kita berkomitmen untuk menunda terlebih dahulu kesimpulan atau kepercayaan kita sampai kita memeriksa bukti-bukti di balik klaim tersebut secara objektif.

Foto: Unsplash/Giammarco Boscaro

Ketika menerima sebuah informasi baru yang memicu emosi kuat—baik itu kemarahan, ketakutan yang hebat, atau bahkan harapan yang berlebihan—langkah pertama yang harus dilakukan adalah berhenti sejenak. Kita harus menolak menjadi kurir hoaks yang pasif. Di titik inilah, kita perlu menginterogasi informasi tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan epistemologis yang mendasar: Apakah klaim ini memiliki bukti empiris yang solid dan dari lembaga yang kredibel? Siapa yang menyatakannya dan apa otoritas ilmiah yang mereka miliki di bidang tersebut? Apakah alur logikanya koheren secara rasional, ataukah narasi ini hanya sedang mengeksploitasi bias emosional kita?

Menghidupkan kembali logika penyelidikan ilmiah di tengah gempuran informasi digital memang bukan perkara yang mudah. Langkah ini menuntut kita untuk berani melawan kecenderungan alami otak kita yang selalu menyukai kenyamanan berpikir instan. Namun, di dunia yang kian dibanjiri oleh kepalsuan dan manipulasi persepsi, menjaga ketajaman epistemologis bukan lagi sekadar tugas akademisi di dalam ruang kelas perguruan tinggi. Ia telah menjelma menjadi sebuah urgensi etis, tanggung jawab sosial, dan benteng pertahanan terakhir bagi kewarasan berpikir kita sebagai manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image