Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dahlia-Ku

Bicara Tentang Tempe dan Ketahanan Pangan

Kuliner | 2026-05-30 14:02:22
Picture : magnific (freepik)

Tempe merupakan salah satu makanan khas yang berasal dari Indonesia. Dari bahan tempe bisa diolah menjadi berbagai macam menu, mulai dari camilan, lauk pauk, hingga menu kekinian. Namun tahukah, ternyata untuk membuat produk tempe, Indonesia masih harus impor kedelai yang menjadi bahan baku tempe. Sedangkan negara utama asal impor kedelai yaitu Amerika Serikat dan Kanada. Maka tak heran jika kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah sangat berpengaruh pada naiknya harga kedelai.

Menurut Erivina Lucky Kristian Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim -- Impor kedelai pada bulan Januari-Februari 2026 mengalami kenaikan secara volume sebesar 23,8%. (detikJatim, 26 Mei 2026).

Dampak kenaikan harga kedelai impor, membuat para perajin tempe membuat strategi diantaranya dengan memperkecil ukuran tempe, sebagaimana yang diungkapkan oleh Faris (32), salah satu perajin tempe di Kompleks Kopti (Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) Kalideres, Jakarta Barat. Langkah tersebut diambil agar dirinya tidak perlu menaikkan harga jual yang dapat membuat berkurangnya pelanggan.

Inilah potret nyata kehidupan perajin tempe yang kian terhimpit. Ketergantungan pada bahan baku impor sangatlah nyata terlihat. Kondisi ini belum ditambah dengan harga plastik yang juga merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir ini. Fakta ini menunjukkan kemandirian pangan dan sistem ekonomi kapitalisme di negeri ini nampak rapuh. Lantas melahirkan ketergantungan pada impor hingga menyulitkan rakyat kecil. Selain itu fakta ini menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjamin keberlangsungan usaha rakyat.

Dengan demikian perlu usaha dan langkah nyata, agar ekonomi dan usaha rakyat kecil benar-benar bisa mandiri dan terjamin keberlangsungannya. Sistem ekonomi Islam menawarkan solusi untuk menjawab tantangan ini. Solusinya diantaranya yang pertama, menghidupkan lahan pertanian dan membangun produksi kedelai mandiri sehingga perajin tempe tidak lagi bergantung pada bahan impor kedelai.

Saat ini salah satu kendala di lapangan adalah kualitas bahan baku kedelai impor yang terlihat lebih bagus dibanding kedelai lokal. Maka disinilah peran besar negara dalam memperbaiki kualitas kedelai lokal. Yaitu dengan melibatkan para tenaga ahli di bidang pertanian. Sudah saatnya para tenaga ahli dilibatkan secara optimal untuk kemandirian pangan. Kedua, mengadopsi sistem mata uang berbasis emas dan perak, yaitu dinar dan dirham yang terbukti mempunyai nilai kestabilan dibanding uang kertas (dolar misalnya).

Inilah pengaturan sistem ekonomi Islam yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, dan perlindungan nyata pada para perajin kecil dari tekanan ekonomi. Dengan pengaturan ekonomi sesuai tuntunan syariah Islam, diharapkan negeri ini bisa lepas dari jeratan ekonomi kapitalisme, sehingga bisa menjadi bangsa yang kuat, dan mempunyai ketahanan pangan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image