Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M Fazli Afdhal R

Perlukah Menasihati Orang Asing Melalui Kolom Komentar?

Nasihat | 2026-05-30 11:04:09
Source: https://www.magnific.com/free-vector/business-man-dealing-multi-task-new-idea-working-laptop-concept-business-goals-success-satisfying-achievement_13399746.htm#fromView=keyword&page=1&position=1&uuid=edc1e999-40fe-4977-b26f-129576d64a7b&query=Excessive+screen+time+illustration

Media sosial adalah tempat yang menarik, tempat semua orang saling berbagi cerita dan pengalaman dalam bentuk foto atau video, juga menjadi tempat untuk orang saling berbagi hiburan maupun ide-ide yang mengundang gelak tawa.

Selain itu, media sosial dapat menjadi sarana seseorang berbagi pesan kebaikan maupun nasihat.

Dalam menggunakan media sosial, orang-orang dapat menyebarkan pesan kebaikan atau nasihat melalui beragam cara, beberapa diantaranya seperti membuat akun khusus, ataupun dengan berkomentar langsung pada satu postingan tertentu.

Menasihati seseorang melalui kolom komentar bagi saya adalah satu peristiwa unik yang hari ini terjadi di media sosial.

Beberapa postingan dengan konteks beragam terkadang ditemui ada komentar yang menyampaikan nasihat tertentu, baik berhubungan dengan konteks postingannya ataupun tidak.

Contoh saja begini. Pernah suatu hari saya menemukan postingan seseorang yang sedang bermain peran sambil mengenakan kostum dengan pasangannya, lalu ada yang berkomentar untuk tidak mengunggah foto dan video mereka ke media sosial dengan alasan melanggar batasan aurat.

Sekilas yang berkomentar ada benarnya. Bagi saya, nasihat seperti itu mungkin memang cocok, toh saya sendiri tidak suka mengunggah sesuatu di akun pribadi saya. Namun bagaimana dengan akun yang mengunggah postingan itu? Tentu akan berbeda cerita.

Kemudian balasan dari komentar nasihat tersebut saya perhatikan yang intinya banyak pengguna ngeyel atau menolak nasihat yang disampaikan. Apakah yang menolak ini salah? Belum tentu, karena bisa jadi memang mereka tidak tahu, sehingga ketika menerima pesan seperti itu, seakan pribadi mereka sedang diserang.

Apakah yang menyampaikan nasihat salah? Bisa jadi, karena dia menyampaikan satu pesan dengan gegabah, sehingga pesan yang diterima berpotensi disalahpahami. Niatnya mungkin baik, namun jika eksekusi kurang baik, maka kesan yang diterima juga kurang baik.

Nasihat yang disampaikan di kolom komentar juga rawan untuk dilupakan. Mungkin untuk sekilas orang akan ingat, namun 5 menit kemudian, semua nasihat itu bisa saja sudah menguap dari pikiran.

Selain itu, orang bisa saja sebenarnya tidak peduli dengan nasihat apapun yang disampaikan di kolom komentar. Hanya melihatnya sebagai barisan huruf biasa sebagaimana komentar lainnya yang bisa dilupakan.

Mereka yang suka menyampaikan nasihat dan pesan kebaikan juga jangan berbangga diri begitu saja. Hanya karena sudah menyampaikan nasihat di kolom komentar, lalu cepat-cepat merasa sudah berjasa, padahal yang disampaikannya tidak diterima, bahkan bisa jadi gagal dalam menyampaikan.

Menyampaikan nasihat itu bukan hanya tentang berteriak secara liar lalu pergi begitu saja, melainkan ada pendekatan atau teknik yang digunakan agar yang menerima nasihat cenderung untuk setuju daripada menolak mentah-mentah.

Menasihati seseorang melalui kolom komentar memungkinkan tidak terlihat bijaksana, malah seperti seseorang yang sedang mencari perhatian dengan berusaha memancing emosi dari pengguna lain. Tujuannya bisa jadi memang bukan untuk memberi nasihat, melainkan hanya untuk mendapatkan atensi sementara.

Itulah kenapa jika memang ingin menyampaikan nasihat kebaikan dan ingin agar orang lain mengingatnya, buat saja satu akun khusus untuk itu, seperti yang saya sampaikan di awal.

Dengan membuat akun, orang akan dengan mudah mengingat nasihat yang disampaikan, minimal mengingat nama akun yang sering mengunggah tentang nasihat tersebut.

Kalau nasihat itu disampaikan di kolom komentar, yang mungkin terjadi adalah debat kusir yang bisa saja sudah dilupakan keesokan harinya.

Namun dengan membuat akun sendiri, menasihati orang lain dengan membahas fenomena tertentu, tanpa menyebutkan sumber asli atau kasus asli dengan tujuan menjaga privasi atau data pihak lain, nasihat tersebut berpotensi menjadi lebih mudah diterima.

Selain itu akun khusus dapat digunakan untuk menunjukkan dan menjaga konsistensi kebiasaan menyampaikan nasihat, baik yang berdiri sendiri atau berangkat dari fenomena tertentu di dunia nyata atau di media sosial.

Tidak perlu berlagak untuk menjadi seorang pahlawan. Tidak perlu nasihat itu disampaikan secara terbuka dengan harapan orang yang kita nasihati melalui kolom komentar dapat bertaubat dan menghapus postingannya.

Cukuplah nasihat itu menjadi pengingat untuk diri masing-masing dan keluarga dekat, teman, atau saudara. Tanggungjawab seorang manusia untuk menasihati orang yang tidak dikenalnya memang ada, namun perlu dipelajari teknik atau cara agar nasihat yang disampaikan menjadi lebih efektif dan mudah diterima.

Orang-orang di internet yang dirasa tidak sesuai dengan nilai-nilai pribadi, yang pantas mendapatkan nasihat dari jari-jari melalui komentar, hendaknya tidak perlu ditanggapi berlebihan.

Sampaikan dengan gaya bahasa yang bersahabat dan usahakan menghindari pertengkaran. Kalau memang nasihat ditolak setelah semua usaha dan teknik digunakan, maka bolehlah berlepas diri untuk kedepannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image