Waktu Bagi Seorang Muslim
Agama | 2026-05-29 09:42:41
Berharganya Waktu, Bagi Seorang Muslim
Bagi kebanyakan orang, waktu adalah sumber daya yang bisa ditunda, diulur, bahkan disia-siakan. Tapi bagi seorang Muslim, waktu adalah satu-satunya modal yang tidak bisa diulang, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa dipinjam.
Allah bersumpah dengan waktu di awal Surat Al-‘Asr: _“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”Sumpah itu bukan hiasan. Ia peringatan keras bahwa manusia secara default sedang merugi, kecuali ia mengisi waktunya dengan iman, amal, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
1. Waktu adalah takaran umur, dan umur adalah takaran amal
Seorang Muslim meyakini bahwa setiap detik yang lewat memotong umurnya. Umar bin Khattab pernah berkata, “Aku tidak pernah menyesal atas sesuatu selain hari yang berlalu, yang tidak menambah amalku.”
Di dunia kita menghitung kekayaan dari saldo rekening. Di akhirat, yang dihitung adalah bagaimana saldo waktu itu dibelanjakan. Shalat, ilmu, kerja yang halal, membantu orang lain, bahkan senyum kepada saudara semuanya adalah bentuk investasi waktu. Dan investasi ini tidak bisa dicairkan ulang kalau sudah lewat.
2. Waktu tidak menunggu, tapi manusia sering menunda
Penyakit terbesar umat hari ini adalah taswif,kebiasaan menunda. “Nanti shalat”, “besok baru baca Qur’an”, “kalau sudah mapan baru sedekah”. Padahal tidak ada jaminan kita masih hidup sampai “nanti” dan “besok” itu.
Rasulullah ﷺ berwasiat: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” Hadis ini membalik logika kita. Kita sering menunggu kondisi ideal, padahal kondisi ideal itu sendiri harus diciptakan dengan menggunakan waktu yang ada sekarang.
3. Waktu yang diberkahi lebih penting dari waktu yang panjang
Seorang Muslim tidak mengejar panjangnya umur, tapi keberkahannya. Umur 40 tahun yang diisi dengan ilmu, dakwah, dan amal bisa lebih berat timbangannya daripada 80 tahun yang habis untuk hal sia-sia.
Keberkahan waktu datang ketika ia diselaraskan dengan tujuan penciptaan: beribadah kepada Allah. Bukan berarti Muslim tidak boleh bekerja, bersenang-senang, atau istirahat. Justru ketika semua itu diniatkan ibadah, maka tidur pun bernilai pahala.
4. Tanda orang cerdas menurut Islam adalah yang menjaga waktu
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap hari yang berlalu, maka sebagian dari kalian ikut pergi.”
Orang yang cerdas tidak sibuk menghitung kerugian materi. Ia sibuk menghitung ke mana waktunya pergi. Ia merasa bersalah kalau satu hari berlalu tanpa menambah ilmu, tanpa memperbaiki hati, tanpa memberi manfaat kepada orang lain.
Penutup
Bagi seorang Muslim, waktu lebih mahal dari emas. Emas yang hilang masih bisa dicari. Waktu yang hilang membawa kita lebih dekat ke kubur tanpa bisa dikembalikan.
Maka pertanyaannya bukan “berapa banyak waktu yang saya punya?”, tapi “apa yang sudah saya lakukan dengan waktu yang saya punya hari ini?”
Karena pada akhirnya, di akhirat nanti kita tidak akan ditanya, “Berapa lama kamu hidup?”, tapi “Untuk apa kamu menghabiskan hidup itu?”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
