Tidak Semua Diam Adalah Bentuk Menghindar
Humaniora | 2026-05-27 14:21:49
Di tengah budaya komunikasi yang serba cepat, banyak orang merasa semua persoalan harus segera diselesaikan saat itu juga. Pesan yang lambat dibalas dianggap tanda berubah, diam dipandang sebagai sikap tidak peduli, sementara jarak sering dimaknai sebagai bentuk penolakan. Padahal, tidak semua orang memilih menjauh ketika mereka mengambil jeda. Ada yang justru memilih diam sejenak karena sadar bahwa emosi yang dipaksakan keluar saat marah sering kali lebih merusak daripada masalah itu sendiri.
Fenomena ini semakin sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika konflik muncul, tidak semua orang mampu langsung berbicara dengan kepala dingin. Ada yang memilih menenangkan diri terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan percakapan. Di tengah budaya digital yang menuntut respons cepat terhadap segala hal, kemampuan untuk menahan diri justru menjadi sesuatu yang semakin jarang ditemukan.
Dalam kajian psikologi, taking space dapat dipahami sebagai bentuk pengendalian emosi atau emotional regulation. Psikolog hubungan John Gottman menjelaskan bahwa ketika emosi seseorang terlalu tinggi, tubuh bisa mengalami kondisi emotional flooding, yaitu keadaan ketika emosi memuncak hingga kemampuan berpikir rasional menurun. Dalam situasi seperti itu, percakapan yang dipaksakan justru sering melahirkan kata-kata menyakitkan yang meninggalkan penyesalan.
Karena itu, mengambil jeda sementara sebenarnya dapat menjadi langkah yang sehat. Seseorang yang berkata, “Aku butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri, nanti kita lanjut bicara,” menunjukkan adanya kesadaran emosional sekaligus tanggung jawab terhadap hubungan. Sikap ini berbeda dengan silent treatment yang bertujuan mengabaikan atau menghukum orang lain.
Pandangan serupa juga dapat ditemukan dalam filsafat Stoik. Marcus Aurelius mengajarkan bahwa manusia tidak seharusnya dikuasai ledakan emosi sesaat. Dalam Stoikisme, kemampuan mengendalikan diri justru dianggap sebagai bentuk kekuatan yang sesungguhnya. Karena itu, mengambil jarak sementara bukan berarti lari dari masalah, melainkan upaya menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih tenang.
Selain itu, Aristotle juga menekankan pentingnya keseimbangan dalam emosi dan tindakan. Menurutnya, kebijaksanaan tidak terletak pada menahan seluruh emosi ataupun meluapkannya secara berlebihan, tetapi pada kemampuan memahami kapan dan bagaimana emosi disampaikan secara tepat.
Fenomena taking space sangat mudah ditemukan saat ini. Dalam hubungan percintaan, seseorang memilih menghentikan pertengkaran sejenak ketika emosinya sedang tinggi agar tidak berkata kasar kepada pasangan. Di lingkungan kerja, ada orang yang memilih menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membalas pesan atau email yang memicu tekanan. Sementara dalam keluarga, seseorang bisa memilih menyendiri sejenak sebelum kembali berdiskusi agar konflik tidak semakin membesar.
Menurut penulis, taking space merupakan bentuk pengendalian diri yang sering disalahpahami. Banyak orang mengira bahwa seseorang yang memilih diam sementara berarti tidak peduli atau sengaja menjauh. Padahal, ada kalanya seseorang justru sedang berusaha menjaga hubungan dengan cara menenangkan dirinya terlebih dahulu agar tidak melukai orang yang sebenarnya ingin dipertahankan.
Namun demikian, mengambil jeda tetap membutuhkan tanggung jawab. Jeda yang sehat seharusnya disertai kejelasan dan niat untuk kembali menyelesaikan masalah. Sebab hubungan yang baik tidak dibangun dari siapa yang paling keras berbicara, melainkan dari siapa yang mampu mengendalikan emosi tanpa kehilangan rasa hormat terhadap orang lain.
Pada akhirnya, di zaman ketika banyak orang lebih sibuk melampiaskan emosi daripada memahami perasaan orang lain, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bentuk kedewasaan yang semakin langka. Sebab tidak sedikit hubungan yang hancur bukan karena masalah besar, melainkan karena orang-orang di dalamnya terlalu ingin memenangkan amarah, sampai lupa bahwa kata-kata yang terlanjur menyakitkan sering kali tidak bisa ditarik kembali.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
