Digitalisasi Saja Tidak Cukup: UMKM Perlu Sustainability
Bisnis | 2026-05-26 09:35:04Hary Fandeli (Dosen FT-UNAND)
Dalam beberapa tahun terakhir, transformasi digital pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia berkembang sangat pesat. Media sosial menjadi etalase produk, marketplace menjadi kanal utama penjualan, sementara pembayaran digital semakin mempermudah transaksi. Banyak pelaku usaha kini mampu menjangkau pasar yang lebih luas hanya melalui telepon pintar dan koneksi internet.
Perkembangan ini tentu menjadi kabar baik. Digitalisasi telah membuka peluang besar bagi UMKM untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul satu persoalan yang mulai jarang dibicarakan: apakah digitalisasi saja sudah cukup untuk memastikan keberlangsungan bisnis UMKM dalam jangka panjang?
Faktanya, banyak UMKM terlalu fokus pada pemasaran digital, tetapi kurang memperhatikan sustainability atau keberlanjutan bisnis. Fokus utama sering kali hanya pada peningkatan penjualan, jumlah pengikut media sosial, atau seberapa viral sebuah konten. Padahal, bisnis yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjual hari ini, tetapi juga oleh kesiapan bertahan dan berkembang di masa depan.
Digital Marketing yang Kuat Belum Tentu Menjamin Keberlangsungan
Fenomena yang cukup sering terjadi adalah meningkatnya penjualan setelah UMKM aktif di platform digital, tetapi di saat yang sama muncul persoalan baru di belakang layar. Kapasitas produksi tidak siap menghadapi lonjakan permintaan, pengelolaan stok menjadi kacau, kualitas produk menurun, hingga limbah produksi meningkat. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan bisnis justru memunculkan masalah operasional yang tidak kecil.
Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi yang terjadi masih cenderung parsial. Banyak UMKM sudah memanfaatkan teknologi untuk pemasaran, tetapi belum mengintegrasikannya dengan pengelolaan usaha secara menyeluruh. Digitalisasi dipahami sebagai cara meningkatkan penjualan, bukan sebagai bagian dari transformasi bisnis yang lebih sistematis.
Keberhasilan bisnis digital pada akhirnya tidak cukup hanya bergantung pada kemampuan menarik pelanggan, tetapi juga pada kemampuan menjaga kualitas, efisiensi, dan daya tahan usaha. Jika tidak, peningkatan permintaan justru dapat menjadi bumerang yang melemahkan bisnis itu sendiri.
Sustainability Bukan Hanya Soal Lingkungan
Ketika mendengar istilah sustainability, banyak orang langsung mengaitkannya dengan isu lingkungan, seperti pengurangan plastik atau penggunaan bahan ramah lingkungan. Padahal, dalam konteks UMKM, sustainability memiliki makna yang lebih luas. Keberlanjutan bisnis mencakup kemampuan usaha untuk bertahan secara ekonomi, menjaga hubungan sosial dengan pelanggan dan pekerja, sekaligus meminimalkan dampak lingkungan.
Dari sisi ekonomi, sustainability berarti memiliki model bisnis yang sehat, efisien, dan tidak bergantung pada strategi jangka pendek semata. UMKM perlu mulai memikirkan efisiensi biaya, stabilitas arus kas, hingga diversifikasi pasar.
Dari sisi sosial, sustainability juga berkaitan dengan kualitas layanan, kepuasan pelanggan, dan kesejahteraan pekerja. Loyalitas pelanggan misalnya, tidak hanya dibangun melalui promosi, tetapi juga melalui konsistensi kualitas dan kepercayaan.
Sementara itu, dari sisi lingkungan, langkah kecil seperti mengurangi pemborosan bahan baku, menggunakan kemasan yang lebih efisien, atau mengelola limbah dengan lebih baik dapat menjadi investasi jangka panjang yang berdampak besar.
Mengapa Banyak UMKM Belum Memikirkan Sustainability?
Ada beberapa alasan mengapa sustainability masih belum menjadi prioritas utama UMKM. Pertama, banyak pelaku usaha masih menghadapi tekanan untuk bertahan secara ekonomi. Dalam kondisi pasar yang kompetitif, fokus utama sering kali adalah bagaimana meningkatkan omzet secepat mungkin.
Kedua, sustainability sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal dan rumit. Menggunakan kemasan ramah lingkungan atau memperbaiki proses produksi dianggap membutuhkan biaya tambahan yang sulit dijangkau usaha kecil. Padahal, tidak semua praktik keberlanjutan membutuhkan investasi besar. Banyak perubahan sederhana justru mampu meningkatkan efisiensi operasional.
Ketiga, kurangnya pendampingan praktis juga menjadi hambatan. Program pengembangan UMKM selama ini lebih banyak menekankan digital marketing dan penjualan online, sementara aspek sustainability masih relatif kurang disentuh.
Digitalisasi dan Sustainability Harus Berjalan Bersama
Di tengah persaingan yang semakin ketat, digitalisasi memang penting, tetapi tidak cukup. UMKM perlu mulai melihat sustainability sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar tren atau tuntutan eksternal. Digitalisasi dapat membantu meningkatkan penjualan, tetapi sustainability membantu memastikan usaha tetap bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Langkah awal tidak harus besar. UMKM dapat mulai dengan membangun sistem pencatatan yang lebih baik, mengurangi pemborosan produksi, memahami pola permintaan pelanggan, hingga mengevaluasi dampak operasional secara sederhana. Pendekatan bertahap sering kali jauh lebih realistis dibandingkan perubahan besar yang sulit diterapkan.
Masa depan UMKM tidak hanya ditentukan oleh seberapa aktif mereka di media sosial atau seberapa banyak transaksi digital yang terjadi, tetapi oleh kemampuan mengelola usaha secara berkelanjutan. Digitalisasi dapat membuka pintu pertumbuhan, tetapi sustainability yang akan memastikan pintu tersebut tetap terbuka dalam jangka panjang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
