40 Hari yang Mengubah Cara Saya Memandang Dunia Kerja
Eduaksi | 2026-05-25 10:33:44
Penulis: Devi Novita Sari
Saya tidak pernah menyangka bahwa 40 hari bisa mengubah begitu banyak hal dalam cara saya memandang dunia kerja.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Lamongan, jujur saja, saya gugup. Bekal ilmu dari bangku kuliah di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya rasanya tiba-tiba terasa begitu tipis dibandingkan kenyataan yang ada di depan mata. Tapi justru dari situlah perjalanan belajar yang sesungguhnya dimulai.
Ketika Teori Bertemu Kenyataan
Selama kuliah, saya banyak belajar tentang administrasi, manajemen, dan tata kelola organisasi. Semua terasa cukup jelas di atas kertas. Namun ketika saya mulai membantu pencatatan data, menyusun laporan, dan mendokumentasikan kegiatan di instansi, saya sadar — ada jarak antara apa yang dipelajari di kelas dan apa yang terjadi di lapangan.
Bukan berarti ilmu kuliah tidak berguna. Justru sebaliknya. Magang mengajarkan saya bagaimana cara menggunakan ilmu itu dengan tepat, di waktu yang tepat, dalam situasi yang nyata. Hal yang paling saya syukuri dari pengalaman magang ini adalah kesempatan berinteraksi langsung dengan para pegawai. Mereka mengajarkan sesuatu yang tidak pernah saya temukan di buku teks mana pun: bahwa kerja tim, komunikasi yang tulus, dan kedisiplinan bukan sekadar teori kepemimpinan — melainkan praktik nyata yang dijalankan setiap hari.
Saya belajar bahwa mendengarkan itu sama pentingnya dengan berbicara. Bahwa hadir secara penuh dalam pekerjaan jauh lebih berharga daripada sekadar menyelesaikan tugas. Dan bahwa lingkungan kerja yang baik bisa menjadi guru terbaik yang pernah kita miliki.
Terbuka, Maka Bertumbuh
Salah satu hal yang membuat pengalaman ini begitu berharga adalah keterbukaan lingkungan kerja di sana. Saya tidak hanya diberi tugas, tetapi juga diberi ruang untuk bertanya, mencoba, bahkan memahami aspek pekerjaan di luar tanggung jawab utama saya. Rasa ingin tahu saya tidak pernah dipadamkan — justru disambut. Dari situ, kepercayaan diri saya perlahan tumbuh. Saya mulai menyadari bahwa adaptasi bukan hal yang perlu ditakuti, melainkan keterampilan yang bisa diasah.
Magang bukan sekadar syarat kelulusan. Ia adalah jembatan antara dunia akademik dan dunia profesional yang tidak bisa dibangun hanya dari dalam kelas. Setiap hari yang saya jalani di Bagian Perekonomian Setda Lamongan adalah investasi - untuk karier, untuk karakter, dan untuk cara saya memandang diri sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
