Politik Kita: Antara FYP TikTok dan Apatisme yang Nyaman
Politik | 2026-05-24 19:32:41Banyak anggapan yang menyebut generasi muda saat ini minim pengetahuan mengenai isu sosial dan politik. Namun, pandangan tersebut sebenarnya kurang tepat. Realitasnya, anak muda justru hidup di tengah arus informasi yang sangat deras setiap hari. Sejak bangun tidur hingga menjelang malam, media sosial dipenuhi berbagai isu publik, mulai dari perdebatan kebijakan pemerintah di Twitter atau X, potongan sidang DPR di TikTok, hingga opini politik yang terus berseliweran di Instagram dan YouTube. Persoalannya bukan karena generasi muda tidak memperoleh informasi, melainkan karena paparan informasi yang terlalu berlebihan justru membuat banyak orang menjadi kebal secara emosional. Akibatnya, berbagai persoalan penting terasa biasa saja dan tidak lagi memunculkan rasa urgensi untuk terlibat atau peduli secara mendalam.
Fenomena tersebut cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pertemanan anak muda. Banyak orang mengetahui adanya isu besar yang sebenarnya berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, tetapi respons yang muncul sering kali hanya sebatas melihat lalu melewatinya begitu saja, sama seperti ketika menikmati hiburan ringan di media sosial. Politik akhirnya diposisikan sekadar sebagai tontonan atau drama publik yang menarik perhatian sesaat. Para pejabat dan elite politik dipandang layaknya figur hiburan yang hanya hadir di layar gawai tanpa keterkaitan nyata dengan kehidupan pribadi masyarakat. Padahal, keputusan yang lahir dari ruang-ruang kekuasaan memiliki dampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, peluang kerja, hingga kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Jarak psikologis yang sengaja dibangun inilah yang perlahan melahirkan sikap apatis terhadap persoalan publik.
Bias Subjektivitas "Elite Sentris"
Di sisi lain, masih banyak anak muda yang menganggap politik sebagai wilayah eksklusif milik kelompok tertentu, seperti kalangan elite, orang tua, atau mereka yang memiliki kekuasaan dan privilese. Cara pandang semacam ini sangat berbahaya karena membuat masyarakat merasa dirinya tidak memiliki posisi penting dalam proses demokrasi. Ketika seseorang memilih diam dan tidak peduli, sesungguhnya ia sedang memberikan ruang bagi pihak lain untuk menentukan arah hidupnya tanpa pengawasan maupun kritik. Ironisnya, banyak orang gemar mengeluhkan sistem yang ada, tetapi enggan memahami bagaimana sistem tersebut bekerja atau bagaimana cara memperbaikinya. Sikap semacam ini memperlihatkan bahwa rendahnya partisipasi politik bukan selalu disebabkan oleh kurangnya akses informasi, melainkan karena rendahnya kesadaran untuk terlibat secara aktif dan kritis dalam kehidupan demokrasi.
Dalam konteks tersebut, literasi politik seharusnya dipahami lebih luas daripada sekadar kemampuan menghafal nama pejabat atau memilih kandidat tertentu saat pemilu berlangsung. Literasi politik yang sesungguhnya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk memahami informasi secara kritis, memilah fakta dari manipulasi, serta tidak mudah terbawa arus propaganda digital yang semakin masif. Di era media sosial saat ini, masyarakat dibanjiri narasi yang sengaja dibentuk demi kepentingan tertentu, mulai dari pencarian popularitas hingga penggiringan opini publik. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan penting agar generasi muda tidak mudah dipengaruhi informasi yang menyesatkan atau emosional semata. Kesadaran politik juga harus dibangun melalui pemahaman bahwa setiap kebijakan publik memiliki konsekuensi nyata terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari Perang Komentar ke Aksi Riil
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara membangun kesadaran politik yang lebih sehat di kalangan generasi muda. Langkah tersebut sebenarnya tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar dan revolusioner. Pendidikan politik dapat dibangun secara sederhana dan dekat dengan realitas keseharian masyarakat. Media sosial yang selama ini hanya digunakan untuk berdebat tanpa arah atau melakukan doomscrolling sebenarnya memiliki potensi besar sebagai ruang edukasi publik. Apabila energi yang selama ini dihabiskan untuk perang komentar dialihkan menjadi diskusi yang lebih produktif, penyebaran informasi yang berbasis data, atau kegiatan komunitas kecil yang membahas isu sosial secara kritis, maka dampaknya akan jauh lebih positif. Generasi muda memiliki akses teknologi dan kebebasan bersuara yang sangat besar, sehingga tantangannya bukan lagi soal kesempatan berbicara, melainkan bagaimana menggunakan suara tersebut secara bertanggung jawab dan bermakna.
Integritas Bukan Sekadar Jargon
Pada akhirnya, kesadaran politik tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga menyangkut integritas dan tanggung jawab moral sebagai warga negara. Banyak masyarakat merasa lelah melihat praktik politik yang penuh konflik, kepentingan, dan ketidakadilan. Namun, perubahan tidak akan terjadi apabila masyarakat hanya berhenti pada keluhan tanpa tindakan nyata. Generasi muda saat ini memiliki peluang besar untuk menciptakan ruang politik yang lebih inklusif, terbuka, dan berpihak pada kepentingan publik. Sikap apatis justru berpotensi membuat masa depan berjalan stagnan atau bahkan mengalami kemunduran karena keputusan penting sepenuhnya dikuasai oleh pihak-pihak yang belum tentu memahami kebutuhan masyarakat luas. Memilih untuk peduli memang membutuhkan energi dan kesadaran, tetapi konsekuensi dari ketidakpedulian sering kali jauh lebih berat karena masyarakat harus menerima dampak dari keputusan yang dibuat tanpa melibatkan suara mereka sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
