Ketika Rumah Berubah Jadi Penjara Dingin: Refleksi Mahasiswa Membaca Novel Belenggu
Sastra | 2026-05-24 09:23:09
Membaca novel Belenggu karya Armijn Pane inisebenarnya memicu rasa heran tersendiri. Buku ini terbittahun 1938, zaman dimana orang-orang masih sibukmenulis cerita tentang kawin paksa atau benturan adat. Tapi, Armijn Pane malah nekat melompat jauh ke depandengan membedah urusan domestik dan psikologissepasang suami istri yang berpendidikan Barat. Menariknyalagi, pas say abaca sebagai mahasiswa di era sekarang, konflik di dalam novel ini sama sekali tidak terasa using. Malahan, rasanya kaya lagi membaca curhatan-curhatanviral tentang relationship yang sering lewat di timeline media sosial kita.
Ceritanya fokus ke rumah tangga Dokter Sukartono(Tono) dan Sumartini (Tini). Di luar mereka dianggapcouple goals pada zamannya. Tono adalah dokter mudayang sukses, sementara Tini adalah tipikal Perempuan modern yang aktif di berbagai organisasi sosial. Tetapi, saatpintu rumah ditutup, semua keindahan itu langsung hilang. Rumah mereka berubah menjadi tempat yang super dinginkarena keduanya sama sekali tidak berkomunikasi denganbaik. Tini menolak keras menjadi istri tradisional yang dunianya hanya seputar dapur dan Kasur. Sialnya, kemandirian Tini ini malah melukai ego kelelakian Tono, yang bersekolah tinggi, ternyata diam-diam masih inginmempunyai istri yang penurut. Gara-gara rumahnya terasakaya penjara, Tono akhirnya selingkuh dengan Rohayah, cinta masa lalunya yang sekarang jadi penyanyi. Disinilahletak serunya novel ini. Armijn Pane tidak bercerita tentangsinetron yang menempatkan selingkuhan sebagai orang jahat dan istri sah sebagai korban suci. Tidak ada tokohyang benar-benar hitam atau putih. Semuanya adalahmanusia biasa yang punya cacat psikologisnya masing-masing. Mereka bertiga, sesuai dengan judul novelnya, sama-sama hidup terbelenggu oleh trauma masa lalu dan ekspektasi sosial, sedangkan Rohayah terbelenggu oleh stigma negatif masyarakat sekitar.
Sebagai anak muda, konfliks dalam novel Belengguini sukses membuat pembaca merinding. Isu-isu yang lagiramai di debatkan, mulai dari kesetaraan gander, urusankesehatan mental, sampai susahnya membangunkomunikasi yang sehat dengan pasangan. Akhir ceritanovel ini pun realistis banget, tidak ada kata maaf yang di paksa atau akhir bahagia ala dongeng. Pada akhirnya, novel ini jadi tamparan keras untuk kita semua. Ternyata, punya gelar akademis yang tinggi atau status sosial yang mapanitu tidak otomatis bikin kita pinter dalam memahamipasangan. Belenggu paling kuat di dunia ini ternyata bukanaturan yang kaku, melaikan ego kita sendiri yang menolakuntuk diajak bicara jujur di meja makan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
