BBM Naik, Dompet Menipis, Siapa yang Paling Menangis?
Edukasi | 2026-05-23 23:50:19
Di Indonesia, BBM adalah urat nadi ekonomi. Nelayan, petani, sopir truk, hingga ibu rumah tangga semuanya bergantung pada BBM. Maka ketika harga BBM naik, getarannya langsung terasa di dapur, di jalan, dan di dompet. Lalu, seberapa parah dampaknya? Dan mengapa kelompok masyarakat kecil selalu menjadi korban paling terpukul?
Efek Domino: Dari SPBU ke Pasar Tradisional
Coba perhatikan ilustrasi rantai sederhana ini
Itulah yang disebut para ekonom sebagai cost-push inflation, inflasi karena biaya produksi dan distribusi melonjak. Penelitian Harunnurasyid (2013) terhadap data 34 tahun (1979–2013) di Indonesia membuktikan secara statistik bahwa hubungan ini sangat kuat. Bahkan, fluktuasi harga BBM mampu menjelaskan hampir 78 persen dari naik-turunnya inflasi di Tanah Air.
Contoh paling gamblang terjadi pada Oktober 2005. Saat itu pemerintah menaikkan harga premium hingga 148 persen dan solar 160 persen. Akibatnya, inflasi bulanan langsung melonjak ke angka 8,7 persen. Dalam sebulan, uang belanja masyarakat kehilangan hampir sepersepuluh nilainya.
Siapa yang Paling Menderita?
Kenaikan BBM ibarat hujan badai. Tidak semua orang basah kuyup sama parah. Yang paling terpukul adalah kelompok berpendapatan rendah dan menengah.
Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, Badiul Hadi, menjelaskan bahwa dampak terhadap daya beli terutama dirasakan oleh 40 persen rumah tangga terbawah. Daya beli kelompok ini diperkirakan tergerus sekitar 1–2 persen secara riil akibat kenaikan harga kebutuhan dasar yang bersifat berantai.
Tak hanya itu, studi juga mengungkapkan bahwa penurunan konsumsi BBM pada rumah tangga rentan diiringi dengan penurunan belanja barang tahan lama hingga 1,3 persen. Artinya, ketika BBM naik, mereka adalah yang pertama kehilangan daya beli untuk hal-hal di luar kebutuhan paling dasar.
Bukti Nyata di Kepulauan Riau (Kepri)
Provinsi Kepulauan Riau adalah kasus yang sangat menarik. Sebagai provinsi kepulauan, hampir semua barang dikirim lewat laut. Kapal-kapal itu menggunakan BBM. Begitu harga BBM naik, biaya angkut laut ikut naik, lalu harga sembako di pulau-pulau kecil meledak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menunjukkan bahwa inflasi tahunan yang biasanya stabil di angka 2–3 persen, setelah kenaikan BBM bisa langsung melonjak menjadi 4–6 persen hanya dalam beberapa bulan. Nelayan, sopir angkutan laut, dan ibu-ibu rumah tangga menjadi kelompok yang paling merasakan.
Penelitian oleh Putra dkk. (2025) menyebutkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah di Kepri terpaksa mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok seperti hiburan dan rekreasi, bahkan sebagian mengurangi frekuensi makan.
Uang Negara yang Salah Sasaran
Pemerintah tidak tinggal diam. Bantuan langsung tunai (BLT), subsidi transportasi, operasi pasar murah semua diluncurkan untuk melindungi masyarakat miskin. Namun, ada masalah klasik yang terus berulang: ketidaktepatan sasaran.
Data terbaru dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2026 mengungkap fakta mencengangkan 72 persen subsidi solar dan 79 persen subsidi Pertalite justru dinikmati oleh 40 persen rumah tangga terkaya (kelas menengah ke atas, desil 6–10). Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara blak-blakan mengakui bahwa hampir 30 persen subsidi BBM mengalir ke kantong 30 persen penduduk terkaya di Indonesia (desil 8, 9, dan 10). Artinya, uang negara yang seharusnya menjadi jaring pengaman bagi rakyat kecil, masih terus dinikmati oleh mereka yang secara ekonomi tidak membutuhkan.
Transportasi dan Logistik
Sektor logistik adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Namun, tulang ini sangat rapuh terhadap kenaikan BBM. Saat ini, biaya logistik nasional mencapai 23,5 persen dari PDB jauh lebih tinggi dibanding Malaysia atau Thailand yang hanya sekitar 14–15 persen.
Yang lebih mengkhawatirkan komponen BBM bisa menyerap hingga 50 persen dari total biaya operasional transportasi (truk, kapal). Artinya, setiap kenaikan harga BBM langsung memangkas setengah dari struktur biaya mereka. Simulasi menunjukkan bahwa kenaikan BBM sebesar 33 persen dapat mendorong tarif transportasi barang naik 15–22 persen.
Proyeksi ke Depan: Apakah BBM Akan Naik Lagi?
Presiden Prabowo Subianto memproyeksikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada tahun 2027 akan berada di kisaran USD 70 hingga USD 95 per barel. Jika harga minyak dunia terus meningkat, beban subsidi energi yang sudah mencapai sekitar Rp 381 triliun pada 2026 akan semakin tidak berkelanjutan.
Pemerintah sebenarnya sudah berupaya menahan harga BBM subsidi hingga akhir 2026. Namun, tekanan fiskal akibat gejolak global dan pelemahan rupiah bisa memaksa penyesuaian harga pada tahun-tahun berikutnya. Artinya, masyarakat perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan BBM lagi di masa depan.
Akhir kata, kenaikan BBM memang tak terhindarkan di tengah dinamika global. Tapi setidaknya ada yang bisa kita lakukan bersama: mengawasi agar subsidi tepat sasaran, mendorong efisiensi energi, dan tidak tinggal diam saat kebijakan hanya menguntungkan segelintir orang. Karena perubahan tidak selalu harus dimulai dari istana. Bisa juga dari kesadaran kita sebagai pembaca, pemilih, dan masyarakat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
