Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rifka Nafilah

FOMO Bukan Fenomena Baru: Belajar dari Cerpen Heiho Karya Idrus

Sastra | 2026-05-23 20:00:02

Di era modern saat ini, istilah Fear of Missing Out atau FOMO menjadi fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan saat ini, terutama generasi muda. FOMO adalah rasa takut tertinggal dari orang lain, takut tidak dianggap, dan takut tidak menjadi bagian dari sesuatu yang sedang ramai atau dianggap penting. Akibatnya, banyak orang rela mengikuti arus tanpa benar-benar memahami dampak dari pilihan yang mereka ambil.

Ilustrasi Seseorang Saat Takut Ketinggalan Trend

Fenomena tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada masyarakat saat ini. Dalam cerpen Heiho karya Idrus, tokoh Kartono dapat dilihat sebagai gambaran seseorang yang terjebak dalam keinginan untuk diakui dan merasa lebih berharga. Meskipun cerpen ini berlatar masa pendudukan Jepang, persoalan yang diangkat Idrus masih sangat relevan dengan kondisi sekarang.

Pada awal cerita, Kartono digambarkan sebagai pegawai kantor yang merasa bosan dengan pekerjaannya. Ia bekerja selama bertahun-tahun, tetapi tidak memperoleh penghargaan ataupun peningkatan kesejahteraan. Kehidupan yang monoton membuatnya merasa tidak berarti. Ketika ada kesempatan menjadi Heiho, Kartono langsung tertarik dan merasa bangga karena menganggap dirinya akan menjadi bagian penting dalam perjuangan membela tanah air.

Padahal, Heiho sebenarnya adalah pasukan pembantu tentara Jepang yang dibentuk untuk membantu kepentingan penjajah. Namun, Kartono melihat posisi itu sebagai sesuatu yang membanggakan. Ia merasa dirinya akan lebih dihargai dibanding sebelumnya. Bahkan, ketika kepala kantor ingin memberinya surat penghargaan dalam bahasa Indonesia, Kartono justru meminta surat itu ditulis dalam bahasa Nippon agar terlihat lebih bergengsi.

Dalam hal ini, Kartono sebenarnya mengalami bentuk FOMO pada zamannya. Ia takut tertinggal dari semangat besar yang sedang dibangun Jepang saat itu. Ia ingin menjadi bagian dari sesuatu yang dianggap penting oleh masyarakat. Fenomena seperti ini masih sangat mudah ditemukan pada kehidupan sekarang. Banyak orang mengikuti tren media sosial, bahkan cara berpikir tertentu hanya karena takut dianggap ketinggalan zaman. Tidak sedikit pula yang memaksakan diri mengikuti standar lingkungan demi memperoleh pengakuan sosial.

Yang menarik dari cerpen Heiho adalah Idrus menunjukkan bahwa keinginan untuk diakui dapat membuat manusia mudah dimanfaatkan. Kartono percaya bahwa dirinya sedang berjuang demi tanah air, padahal ia sedang dijadikan alat oleh Jepang. Pada akhirnya, ia meninggal di Birma hanya beberapa bulan setelah bergabung menjadi Heiho. Tragisnya, pengorbanannya tidak benar-benar memberinya kehidupan yang lebih baik. Melalui cerpen ini, Idrus seolah mengingatkan bahwa manusia harus berhati-hati terhadap ambisi untuk diakui oleh lingkungan. Tidak semua hal yang terlihat hebat benar-benar membawa kebaikan. Keinginan untuk diterima memang wajar, tetapi ketika pengakuan menjadi tujuan utama, seseorang dapat kehilangan arah dan mudah diperalat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image