Qurban: Menyembelih Apa?
Agama | 2026-05-22 15:16:26Penulis: Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Di padang tandus yang sunyi dari hiruk-pikuk dunia, berdirilah seorang ayah tua bernama Nabi Ibrahim. Langit membentang luas. Angin gurun berembus perlahan. Tak ada suara selain desir pasir dan getaran hati seorang hamba yang sedang diuji cinta terdalamnya.
Di sampingnya berdiri Nabi Ismail—anak yang lahir dari doa panjang, penantian bertahun-tahun, sekaligus cahaya mata yang menenangkan jiwa. Namun justru anak itulah yang diminta Allah untuk dipersembahkan. Di sanalah rahasia qurban bermula: bukan pada darah yang mengalir, melainkan pada keberanian manusia melepaskan apa yang paling dicintainya demi Tuhan.
Allah SWT mengabadikan momen agung itu dalam QS. Ash-Shaffat: 102. Sebuah dialog sunyi antara ayah dan anak, antara cinta manusia dan kepatuhan spiritual. Dalam pandangan tasawuf, Ismail bukan sekadar sosok anak yang hendak disembelih. Ia adalah simbol dari segala hal yang membuat manusia terlalu melekat pada dunia.
Ada orang yang “Ismail”-nya adalah harta. Ada yang menjadikan jabatan sebagai sesembahan tersembunyi. Ada yang tenggelam dalam popularitas, pujian, dan citra diri. Bahkan ada yang diperbudak oleh egonya sendiri. Karena itu qurban sejati bukan hanya menyembelih hewan, tetapi menyembelih kesombongan, kerakusan, dan keakuan yang tumbuh liar dalam dada manusia.
Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Siapa yang belum menyembelih nafsunya, belumlah ia benar-benar berqurban.” Kalimat itu terasa sangat relevan di zaman modern ketika manusia sibuk menghias penampilan, tetapi lupa membersihkan batin. Kita hidup di tengah budaya pencitraan: wajah dipoles, media sosial dipenuhi pertunjukan kesalehan, tetapi hati sering dipenuhi iri, dendam, dan kegelisahan.
Padahal qurban berasal dari kata al-qurb—dekat. Hakikat qurban adalah perjalanan mendekat kepada Allah. Sebab Allah tidak membutuhkan darah dan daging. Yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaan. QS. Al-Hajj: 37 menegaskan bahwa nilai qurban bukan terletak pada ritual lahiriah, melainkan pada kebeningan jiwa dan ketulusan hati.
Di titik inilah tasawuf memandang Iduladha sebagai momentum penyucian peradaban. Sebab sumber kerusakan manusia sering kali bukan kemiskinan, melainkan hawa nafsu yang tak terkendali. Dari kerakusan lahirlah korupsi. Dari cinta dunia lahirlah pengkhianatan. Dari egoisme lahirlah hilangnya kemanusiaan.
Imam Al-Ghazali menyebut inti ibadah sebagai upaya menghancurkan dominasi hawa nafsu agar hati mampu menerima cahaya Ilahi. Karena itu peperangan terbesar manusia sesungguhnya bukan melawan orang lain, melainkan melawan dirinya sendiri—jihad al-akbar.
Mungkin itulah sebabnya gema takbir Iduladha selalu terasa syahdu. Sebab di balik suara yang membelah langit itu, Allah sedang memanggil manusia untuk pulang: pulang dari keserakahan menuju keikhlasan, pulang dari ego menuju ketundukan, pulang dari dunia menuju cahaya Tuhan.
Hari ini umat Islam membutuhkan banyak Ibrahim—manusia yang tetap jujur di tengah godaan zaman, tetap lurus di tengah rusaknya moral, dan menjadikan tauhid sebagai pusat kehidupan. Kita juga membutuhkan banyak Ismail—generasi muda yang rela berkorban demi ilmu, kemanusiaan, dan masa depan bangsa.
Karena pada akhirnya, hidup yang mulia bukan ditentukan oleh apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan oleh apa yang rela kita lepaskan demi kebenaran. Dan qurban adalah jalan pulang menuju kemanusiaan yang utuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
