Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Riani

Gen Z Nolak Naik Jabatan, Kok Bisa? Ternyata Ini Alasannya!

Bisnis | 2026-05-19 11:15:48
Ilustrasi Gen Z yang enggan nai jabatan dan nyaman dengan pekerjaan atau posisinya yang sekarang. Tapi, jika naik jabatan disertai gaji yang tinggi bisa jadi pertimbangan bagi mereka. Sumber foto: Shutterstock/HL12

Sedang marak di Instagram, Threads, dan media sosial lainnya yang membahas tentang fenomena Gen Z yang enggan naik jabatan. Alih-alih mendapat promosi dan ditawarkan naik jabatan, sebagian Gen Z justru berusaha menghindari dan lebih memilih tetap di posisinya.

Sebuah survei dari Glassdoor Community menemukan bahwa 68% pekerja Gen Z mengaku tidak tertarik mengejar jabatan manajemen, kecuali jika posisi tersebut disertai kenaikan gaji yang jauh lebih besar atau peran strategis tertentu. Meski dalam beberapa tahun ke depan Gen Z diproyeksikan akan mengisi banyak posisi manajerial, kepemimpinan formal ternyata bukan tujuan utama bagi sebagian dari mereka.

Beberapa Penyebab Gen Z Enggan Naik Jabatan

Ada beberapa penyebab yang menjadi alasan sebagian Gen Z lebih memilih tidak naik jabatan, di antaranya:

1. Tekanan yang Lebih Besar

Sering kali kenaikan jabatan disertai dengan tuntutan dan tanggung jawab yang ikut bertambah juga. Hal ini yang membuat sebagian Gen Z tidak mau mengambil sulit dan pusing dengan tuntutan tambahan itu dan lebih memilih di posisinya dengan segala tanggung jawab yang sudah dipahaminya.

2. Jam Kerja Bisa Lebih Panjang

Sebagai karyawan atau staff biasa saja, jam kerja sudah terasa panjang dan melelahkan. Apalagi jika naik jabatan dengan tugas yang bertambah, tentunya jam kerja pun bisa jadi semakin panjang dan mungkin akan sedikit mengorbankan kegiatan lainnya. Daripada membuat burnout, Gen Z lebih memilih untuk menghindarinya.

3. Ekspektasi dari Perusahaan Semakin Tinggi

Kata siapa naik jabatan itu enak? Ya, kalau gajinya tinggi bisa aja enak, sih. Eits, tapi kamu harus siap juga dengan ekspektasi-ekspektasi perusahaan terhadapmu. Dengan naik jabatan, tentunya harapan perusahaan adalah kamu bisa memberikan kontribusi besar dan inovasi-inovasi yang bisa memajukan perusahaan. Bagi sebagian Gen Z, ekspektasi tinggi ini bisa menjadi tekanan besar juga bagi diri mereka.

4. Fleksibilitas Kerja

Alih-alih bekerja dengan jam kerja yang panjang, kebanyakan Gen Z saat ini memilih jam kerja yang fleksibel. Bukan tanpa alasan, dengan jam kerja fleksibel membuat Gen Z bisa mengikuti atau mencari kegiatan sampingan yang sesuai dengan passion mereka.

5. Kesempatan Berkembang Tanpa Harus Memimpin

Bagi sebagian Gen Z, mengembangkan diri dan karier tidak lagi dengan cara memegang jabatan tinggi, tapi bisa melalui banyak cara. Banyak Gen Z yang sudah bekerja, tapi ikut kegiatan volunteer, komunitas, hingga seminar untuk mengembangkan diri dan upgrade skill mereka. Di samping itu, dengan mengikuti kegiatan di luar kerjaan, bisa juga membuat diri dan pikiran mereka healing dari hiruk-pikuk kantor.

6. Kesehatan Mental dan Work-Life Balance

Menariknya, sebagian Gen Z sekarang lebih sadar dan peduli pada kesehatan mentalnya dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Bahkan, ada juga yang mencari pekerjaan dan lingkungan kerja yang nggak toxic supaya enjoy kerjanya. Selain karena kesehatan mental, Gen Z juga memiliki keinginan untuk work-life balance.

Salah satu alasan Gen Z menolak naik jabatan karena lebih memilih side hustle. Sumber foto: Shutterstock/Faizal Ramli

Selain beberapa penyebab di atas, ternyata banyak Gen Z yang memilih side hustle untuk menambah penghasilan mereka. Bagi kebanyakan dari mereka, pekerjaan utama sering menjadi fondasi finansial untuk mendukung berbagai aktivitas lain di luar jam kerja. Bahkan muncul istilah populer: “9-to-5 funds the 5-to-9”, yaitu pekerjaan utama membantu membiayai proyek, usaha, atau minat pribadi setelah jam kerja.

Sebuah survei dari Harris Poll yang dikutip oleh Forbes menunjukkan bahwa 57% Gen Z memiliki side hustle. Hal ini menandakan bahwa telah terjadi pergeseran pandangan, di mana side hustle bukan sekadar tren, tapi juga sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian Gen Z. Kemudian, hal ini juga mencerminkan transformasi dalam dunia kerja di mana loyalitas tunggal terhadap satu perusahaan mulai memudar dan digantikan dengan konsep portofolio karier.

Fenomena Conscious Unbossing

Fenomena Gen Z yang enggan naik jabatan tadi dikenal juga dengan conscious unbossing. Istilah ini menggambarkan ketika seseorang secara sadar memilih untuk tidak mengejar posisi atasan atau manajerial, meskipun memiliki kemampuan untuk itu. Bukan karena tidak ambisius, tetapi karena mereka ingin membangun karier dengan cara yang lebih selaras dengan nilai hidup, keseimbangan, dan kebahagiaan pribadi.

Fenomena conscious unbossing ini menunjukkan bahwa bukan berarti Gen Z menolak bekerja keras, tetapi mereka lebih selektif dalam menentukan arah karier yang sesuai dengan kebutuhan hidup mereka.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semuanya Gen Z menolak naik jabatan, tentunya sebagian lainnya masih ada yang berkeinginan untuk naik jabatan. Hanya saja, yang membedakan Gen Z dengan generasi lainnya adalah cara mereka memandang arti kesuksesan dalam berkarier di dunia kerja sudah bergeser, tidak lagi terpaku pada kenaikan jabatan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image