Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dian Hati

Fenomena Healing Berlebihan: Self Care atau Lari dari Realita?

Wisata | 2026-05-18 23:28:40

Belakangan ini, istilah healing menjadi sangat populer di media sosial. Sedikit stres ingin healing, banyak tugas ingin healing, bahkan setelah menerima kritik pun banyak orang memilih “kabur sejenak”. Tempat wisata penuh, coffee shop ramai, konten liburan terus bermunculan. Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi sekarang semakin sadar pentingnya kesehatan mental. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan: apakah semua itu benar-benar self care, atau justru cara halus untuk menghindari tanggung jawab?

Media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk gaya hidup ini. Banyak orang akhirnya menganggap healing harus identik dengan liburan mahal, nongkrong estetik, atau pergi ke tempat viral. Padahal, inti self care sebenarnya bukan soal pergi jauh, tetapi bagaimana seseorang mampu mengelola pikiran dan emosinya dengan sehat.

Masalahnya, tren healing saat ini sering berubah menjadi konsumsi berlebihan. Demi mengikuti gaya hidup media sosial, tidak sedikit anak muda rela menghabiskan uang hanya agar terlihat “menikmati hidup”. Akibatnya, setelah healing justru muncul stres baru karena kondisi keuangan memburuk.

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan cara generasi muda menghadapi tekanan hidup. Dulu, orang lebih terbiasa menghadapi masalah secara perlahan dan mencari solusi. Sekarang, banyak yang memilih distraksi cepat agar sementara lupa terhadap tekanan. Padahal, masalah yang dihindari biasanya tidak benar-benar selesai.

Bukan berarti healing itu salah. Semua orang memang membutuhkan istirahat. Pikiran juga perlu tenang. Tetapi, healing seharusnya menjadi proses memulihkan diri agar lebih siap menjalani kehidupan, bukan alasan untuk terus lari dari kenyataan.

Di tengah tekanan hidup, persaingan sosial, dan tuntutan digital saat ini, generasi muda memang membutuhkan ruang untuk bernapas. Namun, penting untuk memahami bahwa ketenangan sejati tidak selalu datang dari tempat wisata atau konten estetik. Kadang, ketenangan justru hadir ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri, mengatur hidup dengan lebih bijak, dan belajar menghadapi masalah tanpa terus bergantung pada pelarian sesaat.

Karena pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang terlihat bahagia di media sosial, tetapi tentang benar-benar kuat menjalani realita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image