Dakwah dan Hilangnya Atsar
Agama | 2026-05-07 15:14:23“Seolah kita berbuat sesuatu untuk kebaikan dan kemajuan agama, namun karena kebodohan kita justru itulah yang memundurkan agama, dan lebih parahnya itu terjadi tanpa disadari”
Dakwah merupakan kegiatan mulia yang diajarkan dan dipraktikkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Ia tidak hanya dimaknai sebagai ajakan untuk memeluk Islam, tetapi juga sebagai proses mematangkan pemahaman umat terhadap ajaran Islam secara utuh. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125 agar manusia diseru ke jalan Tuhan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog yang santun.
Ayat tersebut menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan, melainkan proses yang menuntut cara yang tepat agar pesan dapat diterima dan berjejak dalam diri mad’u. Dengan kata lain, keberhasilan dakwah terletak pada hadirnya atsar bekas yang menumbuhkan kesadaran spiritual sekaligus membentuk cara berpikir.
Dalam praktiknya, tantangan justru muncul ketika dakwah dijalankan tanpa kedalaman keilmuan yang memadai. Dakwah kerap dipahami sebatas ceramah atau retorika di atas mimbar, dengan penyampaian materi yang fragmentaris dan berpindah dari satu tema ke tema lain dalam waktu yang singkat. Dalam situasi seperti ini, kedalaman pesan menjadi sulit tercapai.
Fenomena ini tidak sulit ditemukan dalam kehidupan keagamaan kita hari ini. Berbagai pengajian, tabligh akbar, dan ceramah berlangsung hampir tanpa jeda di berbagai ruang sosial. Namun, di tengah intensitas tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: sejauh mana aktivitas itu berkontribusi pada penguatan spiritualitas dan intelektualitas masyarakat? Apa hasil dari itu semua?
Masalahnya bukan pada dakwah sebagai aktivitas, melainkan pada kualitas sebagian pelakunya. Ketika dakwah tidak ditopang oleh pemahaman yang memadai, ia berisiko kehilangan arah. Dalam batas tertentu, kondisi ini dapat memperkuat cara pandang yang tidak utuh terhadap agama, bahkan tanpa disadari ikut melanggengkan kedangkalan berpikir di ruang publik.
Padahal, Atsar merupakan inti dari dakwah itu sendiri. Banyak praktik dakwah saat ini lebih menekankan aspek ritualitas daripada pembentukan kesadaran spiritual. Akibatnya, ibadah dijalankan sebagai kewajiban, tetapi tidak selalu menghadirkan makna dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan keagamaan menjadi tampak aktif, tetapi belum tentu reflektif.
Selain itu, dakwah juga memiliki peran penting dalam membangun intelektualitas masyarakat. Dalam sejarah Islam, dakwah berjalan beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Dinasti Abbasiyah, kehadiran Bayt al-Hikmah menunjukkan bahwa dakwah dan pendidikan merupakan dua hal yang saling menguatkan. Agama tidak hanya diajarkan sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai landasan berpikir dan memahami realitas.
Kini, keduanya kerap berjalan terpisah. Dakwah hadir di ruang-ruang seremonial, sementara pengembangan intelektual berjalan di jalur yang berbeda. Akibatnya, baik spiritualitas maupun intelektualitas belum sepenuhnya menjadi atsar dari dakwah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat terbentuknya cara beragama yang matang dan berimbang.
Menarik rasanya jika pembahasan dikaitkan dengan dakwah walisongo di Nusantara beberapa abad silam. Betapa membekasnya metode dakwah mereka sehingga islamisasi di tanah Jawa kala itu masif sekali, hampir keseluruhan jawa menjadi muslim. Walisongo merupakan pendatang dari Timur Tengah yang menyampaikan ajaran islam ke tanah jawa dengan berbagai metode, mulai dari perdagangan sampai budaya. Kemampuan membaca kondisi serta kebutuhan masyarakat adalah kunci utama dari misi islamisasi mereka.
jika jika dakwah diartikan sebagai mengajak, tentunya mengetahui siapa yang diajak, dengan apa cara mengajaknya, dan dimana tujuanya menjadi penting untuk bisa dimengerti oleh setiap manusia yang mendapat mandat sebagai pendakwah.
Masyarakat Nusantara kala itu terdiri dari kaister-klaster sosial yang berada dari ditingkat atas sampai pada Tingkat yang paling bawah, tingkat raja sampai kawula. Psikologi dakwah rasanya menjadi penting untuk diterapkan, selain akan menjadikan pendakwah menjadi objektif. Seorang da’i tidak bisa memukul rata menyampaikan suatu materi dakwah yang sama kepada semua orang.
Hebatnya walisongo tahu akan hal itu. Ketika mereka datang ke penjuruh tanah Jawa untuk berdakwah, tidak lantas membuat mimbar, majelis kemudian berorasi agama ditengah masyarakat jawa yang kala itu sudah menganut kepercayaan.
Seperti sunan Kalijaga misalnya dengan ajaran islam yang dicampur dengan tradisi wayang kulit yang sudah membudaya di Jawa, maka orang jawa kala itu tidak merasa asing. Sunan kudus dengan toleransinya, sunan bonang dengan bijaksananya lebih dahulu membangun bendungan dan persawahan untuk menunjang kehidupan masyarakatnya yang kala itu berada di akhir majapahit yang penuh derita.
“Inilah dakwah yang masuk kedalam denyut nadi, yaitu yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakatnya”
Tentunya hal ini ada kaitanya dengan Atsaruddakwah tadi, jika kegiatan dakwahh masih ada pengeneralisiran materi maka akan berpengaruh terhadap mad’u, karena mereka memiliki latarbelakang yang berbrda-beda. Materi tentang sabar dan tawakal rasanya tidak pas jika disampaikan terhadap masyarakat yang miskin, sebaliknya tema tentang sedekah akan cocok disampaikan kepada orang-yang kaya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dakwah menuntut pemahaman tentang siapa yang diajak, bagaimana cara mengajak, dan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Masyarakat memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan psikologis yang beragam, sehingga pendekatan yang seragam justru berpotensi mengurangi daya sentuh pesan.
Generalisasi dalam penyampaian materi dapat membuat dakwah kehilangan relevansi. Pesan tentang kesabaran dan tawakal, misalnya, memerlukan kepekaan terhadap kondisi sosial penerimanya agar tidak terkesan melegitimasi keadaan. Sebaliknya, ajakan berbagi akan lebih tepat jika diarahkan kepada mereka yang memiliki kelebihan. Di sinilah pentingnya kepekaan sosial dalam dakwah.
Pada akhirnya, dakwah bukan hanya soal menyampaikan kebaikan, tetapi juga tanggung jawab keilmuan dan sosial. Ia menuntut kedalaman pengetahuan sekaligus ketepatan pendekatan. Tanpa keduanya, dakwah berisiko kehilangan makna dan hanya berhenti sebagai aktivitas yang berulang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
