Sangiran Ternyata Pernah Dipenuhi Hewan Purba Raksasa
Sejarah | 2026-05-07 10:39:01Oleh S. Wani Maler
Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Ketika orang mendengar Sangiran, yang terbayang hampir selalu sama yaitu manusia purba, fosil, evolusi, dan Homo erectus. Tidak salah, karena Sangiran memang salah satu situs manusia purba terpenting di dunia.
Tapi ada satu hal yang sering terlewat.
Sangiran bukan hanya tentang manusia purba melainkan juga rekaman sebuah dunia yang jauh lebih luas. Sangiran adalah dunia yang dihuni gajah purba, kerbau raksasa, kuda nil, hingga predator besar. Tanpa memahami hewan-hewan ini, kita tidak benar-benar memahami bagaimana manusia purba hidup.
Secara geologis, Sangiran merekam lapisan dari sekitar 1,5 juta hingga ratusan ribu tahun lalu. Dalam rentang waktu ini lingkungan berubah drastis: dari rawa dan sungai besar, menjadi dataran terbuka yang lebih kering. Perubahan ini tidak hanya tercatat di batuan, tetapi juga pada jenis hewan yang hidup di dalamnya.
Salah satu temuan paling dominan adalah Stegodon, gajah purba dengan gading panjang yang berbeda dari gajah modern. Kehadirannya menunjukkan bahwa wilayah ini pernah memiliki vegetasi yang cukup untuk menopang herbivora besar. Bersama itu, ditemukan juga Elephas hysudrindicus, bentuk awal gajah Asia yang menandai perubahan lingkungan yang lebih terbuka (van den Bergh et al., 1999).
Selain gajah, Sangiran juga menyimpan fosil kerbau purba seperti Bubalus palaeokerabau dan banteng liar (Bos sp.). Hewan-hewan ini biasanya hidup di padang rumput atau kawasan terbuka dengan sumber air yang stabil. Artinya, Sangiran pada masa itu bukan hutan lebat seperti yang sering dibayangkan, tetapi lanskap yang lebih kompleks campuran antara savana, sungai, dan rawa.K
kehadiran Hexaprotodon atau kuda nil purba tidak kalah menarik keberadaanya karena hewan ini membutuhkan lingkungan air yang besar dan stabil. Temuan ini menguatkan bahwa sistem sungai purba di Jawa pada masa itu jauh lebih aktif dibanding sekarang (Sémah et al., 2012).
Di sisi lain, ditemukan juga fauna yang lebih “familiar” seperti rusa (Cervidae) dan babi (Sus sp.). Hewan-hewan ini memiliki adaptasi yang lebih fleksibel dan kemungkinan besar menjadi bagian penting dalam rantai makanan baik sebagai mangsa predator, maupun sebagai sumber pangan bagi manusia purba.
Selain itu predator juga ada.
Fosil harimau purba (Panthera tigris trinilensis) menunjukkan bahwa manusia purba di Sangiran tidak berada sendirian di puncak rantai makanan. Mereka hidup berdampingan dengan karnivora besar. Ini mengubah cara kita membayangkan kehidupan masa lalu: bukan hanya berburu, tetapi juga bertahan dari ancaman.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan komposisi fauna ini berkaitan erat dengan fluktuasi iklim Pleistosen dan dinamika lingkungan di Jawa. Artinya, Sangiran bukan hanya situs arkeologi, tetapi juga arsip perubahan ekologi dalam jangka waktu panjang (Hilgen et al., 2022).
Di sinilah letak pentingnya.
Ketika kita melihat Sangiran hanya sebagai situs manusia purba, kita kehilangan konteks. Kita melihat manusia, tetapi tidak melihat dunia tempat mereka hidup. Padahal, manusia tidak pernah berdiri sendiri, mereka selalu menjadi bagian dari ekosistem.
Dan di Sangiran, ekosistem itu masih bisa dibaca.
Ia tersimpan dalam tulang, dalam lapisan tanah, dalam jejak hewan yang pernah hidup dan kemudian hilang. Dunia itu memang sudah tidak ada. Tapi melalui arkeologi masih bisa dipahami.
Referensi
Hilgen, S. L., Hilgen, F. J., Adhityatama, S., Kuiper, K. F., & Joordens, J. C. (2022). Towards an astronomical age model for the Lower to Middle Pleistocene hominin-bearing succession of the Sangiran Dome area on Java, Indonesia. Quaternary Science Reviews, 297, 107788.
Sémah, A. M., & Sémah, F. (2012). The rain forest in Java through the Quaternary and its relationships with humans (adaptation, exploitation and impact on the forest). Quaternary International, 249, 120-128.
van den Bergh, G. (1999). The Late Neogene elephantoid-bearing faunas of Indonesia and their palaeozoogeographic implications. Scripta Geologica, 117, 1-419.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
