Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Tanggal yang Ditetapkan, Makna yang Dipertanyakan

Kultura | 2026-05-06 14:10:47

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di lereng. Udara dingin menyusup pelan ke sela-sela jendela kayu. Di ruang tamu sederhana, radio tua memecah sunyi. Suaranya berderak, lalu mengalirkan kabar yang membuat saya berhenti menuang teh.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan 18 Mei sebagai Hari Tatar Sunda ”

Saya menoleh. Ayah, yang sejak tadi duduk di kursi bambu, mengangkat wajahnya pelan.

“Ditetapkan resmi?” tanyanya singkat.

Saya mengangguk, lalu meraih ponsel. Saya membaca lebih jelas berita itu dari Antara News, 1 Mei 2026. Penjelasannya lugas. Hari itu dimaksudkan untuk menghidupkan kembali jati diri masyarakat Sunda.

Ayah tersenyum tipis.

“Bagus,” katanya. “Asal kita tahu jati diri itu apa.”

Saya terdiam. Kata-kata itu tidak panjang, tetapi terasa berat.

Siang harinya, saya duduk di teras bersama Nisa, sahabat lama yang kini mengajar sejarah. Angin membawa aroma tanah basah setelah hujan.

“Kamu sudah dengar soal Hari Tatar Sunda?” saya membuka percakapan.

Nisa mengangguk cepat. “Sudah. Anak-anak di sekolah juga mulai membahasnya.”

“Menurutmu, ini langkah yang tepat?”

Nisa tidak langsung menjawab. Ia merapikan jilbabnya, lalu menatap jauh ke sawah.

“Langkahnya baik,” katanya pelan. “Tapi maknanya harus dijaga.”

Saya menunggu.

“Kita sering merayakan sesuatu,” lanjutnya, “tapi lupa memahami apa yang dirayakan.”

Saya menghela napas. “Maksudmu?”

Nisa menoleh. “Sunda itu bukan hanya bahasa atau pakaian. Sunda itu perjalanan panjang. Dan dalam perjalanan itu, Islam bukan tamu. Ia sudah jadi bagian dari rumah.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Sore menjelang. Saya berjalan ke masjid kecil di ujung kampung. Lantai dinginnya terasa akrab di telapak kaki. Seorang ustaz tua duduk bersandar di tiang, dikelilingi beberapa pemuda.

“Ustaz,” saya menyapa, “bolehkah saya bertanya?”

Beliau tersenyum. “Silakan.”

“Saat budaya dirayakan, bagaimana kita memastikan nilainya tetap terjaga?”

Ustaz itu mengusap janggutnya perlahan.

“Allah sudah memberi arah,” katanya tenang. “Dalam Al-Qur’an disebutkan, ‘Wahai manusia, Kami ciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal’ (QS. Al-Hujurat: 13).”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Artinya, identitas itu penting. Tapi ia bukan tujuan akhir. Ia harus membawa kita pada nilai yang benar.”

Seorang pemuda menyela, “Berarti kita boleh merayakan budaya, Ustaz?”

“Boleh,” jawabnya mantap. “Selama tidak kehilangan arah.”

Saya menunduk, mencoba mencerna.

Malam turun perlahan. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Saya kembali duduk bersama Ayah.

“Tadi saya bicara dengan teman dan ustaz,” kata saya.

Ayah mengangguk. “Lalu?”

“Saya mulai paham,” jawab saya pelan. “Masalahnya bukan pada perayaannya. Tapi pada cara kita memaknainya.”

Ayah tersenyum.

“Rasulullah juga begitu,” katanya. “Beliau tidak menghapus semua tradisi. Tapi beliau meluruskan yang perlu diluruskan.”

Saya teringat sebuah hadis yang pernah saya baca. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad). Kalimat itu terasa hidup dalam percakapan kami.

“Jadi,” lanjut Ayah, “yang harus kita jaga itu ruhnya. Bukan hanya bentuknya.”

Saya mengangguk pelan.

Beberapa hari kemudian, sekolah-sekolah mulai menyiapkan peringatan. Spanduk terpasang. Anak-anak berlatih kesenian. Warna-warni budaya terlihat indah.

Namun di sela itu, saya mendengar percakapan dua siswa.

“Kita pakai baju adat, ya?” kata yang satu.

“Iya. Katanya biar cinta Sunda.”

“Cinta Sunda itu apa?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi menghentikan langkah saya.

Saya terdiam. Di tengah semarak persiapan, ada ruang sunyi yang meminta jawaban.

Hari itu akhirnya tiba. 18 Mei. Lapangan penuh. Lagu daerah mengalun. Semua tampak meriah.

Saya berdiri di tepi, mengamati.

Kemudian, suara Ayah kembali terngiang di kepala, “Asal kita tahu jati diri itu apa.”

Saya menarik napas panjang.

Perayaan ini indah. Ia menunjukkan kepedulian. Ia memberi ruang untuk mengenal kembali akar budaya. Namun, di balik semua itu, ada tanggung jawab yang lebih dalam. Menjaga agar identitas tidak berhenti pada simbol.

Saya teringat firman Allah, “Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan” (QS. Al-Baqarah: 208). Ayat itu seperti mengingatkan bahwa kehidupan tidak boleh terpisah-pisah. Termasuk dalam memandang budaya.

Menjelang senja, acara selesai. Orang-orang mulai pulang. Lapangan kembali lengang.

Saya berjalan perlahan, membawa satu kesadaran baru.

Hari Tatar Sunda bukan sekadar tanggal. Ia adalah cermin. Ia memantulkan bagaimana kita melihat diri sendiri.

Jika kita hanya melihat permukaan, maka yang tampak hanyalah warna dan bentuk. Namun jika kita melihat lebih dalam, kita akan menemukan nilai yang seharusnya membimbing.

Saya tersenyum tipis.

Bukan untuk menolak, bukan pula untuk menyalahkan. Hanya untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa merawat identitas berarti menjaga maknanya tetap hidup.

Dan mungkin, di situlah letak jati diri yang sesungguhnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image