Suara Mesin dan Hati
Curhat | 2026-05-05 07:47:50
Suara mesin bubut itu berderak pelan, lalu meninggi seperti napas yang dipaksa berlari. Di sudut ruang praktik, Arga menatap potongan logam yang berputar di hadapannya. Serbuk halus beterbangan, menempel di lengannya yang sedikit berkeringat.
“Putaranmu terlalu cepat,” suara Pak Rahmat terdengar dari belakang.
“Kalau terus begitu, hasilnya tidak presisi.”
Arga menghentikan mesin. Ia menarik napas, lalu menoleh. “Pak, kalau di industri nanti, kita memang dituntut secepat itu, ya?”
Pak Rahmat tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, menyentuh permukaan logam yang baru saja diproses.
“Cepat itu penting, Arga,” katanya pelan. “Tapi yang lebih penting, kamu tahu kenapa kamu bekerja.”
Arga terdiam. Ia mengerutkan kening, seolah pertanyaan itu terlalu jauh dari ruang praktik yang dipenuhi angka dan ukuran.
“Bukankah kita di sini supaya siap kerja, Pak?” jawabnya ragu.
Pak Rahmat tidak membantah. Ia hanya menarik kursi, lalu duduk di samping mesin yang masih hangat.
“Betul,” katanya. “Tapi kalau hanya itu, kamu akan cepat lelah. Dunia kerja itu tidak selalu ramah. Kalau tujuanmu hanya mengejar kebutuhan, kamu akan terus merasa kurang.”
Arga menunduk. Suara mesin lain di ruangan itu seperti menjauh, menyisakan percakapan yang terasa lebih dalam dari biasanya.
Di dinding ruang praktik, terpajang poster besar tentang program revitalisasi pendidikan vokasi. Di bawahnya tertulis kalimat tegas tentang kesiapan lulusan menghadapi dunia industri.
Program itu dirancang untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja melalui kolaborasi berbagai pihak.
Langkah itu terasa nyata di hadapan Arga. Peralatan baru, kurikulum yang diperbarui, bahkan jadwal praktik yang lebih padat. Semua tampak bergerak menuju satu arah, yakni dunia kerja.
Namun sore itu, arah itu tiba-tiba terasa belum lengkap. “Pak,” Arga kembali bersuara, lebih pelan, “kalau kita sudah kerja nanti, apakah itu sudah cukup?”
Pak Rahmat menatapnya. Ada jeda sejenak, seolah ia sedang memilih kata yang tepat. "Kamu pernah dengar ayat ini?” tanyanya.
Arga menggeleng.
Pak Rahmat membaca dengan suara yang tenang, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Ia berhenti, lalu menambahkan, “Itu dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56.”
Arga mengangkat kepala. “Maksudnya, kerja juga ibadah, Pak?”
“Bisa jadi ibadah,” jawab Pak Rahmat, “kalau kamu tahu untuk apa kamu bekerja, dan bagaimana kamu melakukannya.”
Arga menatap mesin di depannya. Tiba-tiba, benda itu tidak lagi sekadar alat praktik. Ada makna yang mulai bergerak pelan di dalam pikirannya.
“Tapi, Pak,” Arga melanjutkan, “kenapa kita lebih sering diajarkan cara bekerja, bukan alasan kita bekerja?”
Pak Rahmat tersenyum lagi, kali ini lebih dalam.
“Itu pertanyaan yang bagus,” katanya. “Mungkin karena kita sedang berusaha mengejar sesuatu yang terlihat. Yang tidak terlihat, sering kali tertinggal.”
Suasana hening. Hanya suara kipas angin yang berputar di langit-langit.
“Padahal,” lanjut Pak Rahmat, “kalau yang tidak terlihat itu kuat, yang terlihat akan mengikuti.”
Arga mengangguk pelan, meski belum sepenuhnya memahami.
Di luar ruangan, matahari mulai condong. Cahaya jingga masuk melalui jendela, memantul di permukaan mesin yang dingin.
“Rasulullah saw. pernah bersabda,” kata Pak Rahmat lagi, “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakannya.”
“HR. Thabrani, ya, Pak?” Arga menyela.
Pak Rahmat tersenyum bangga. “Kamu ingat.”
“Tapi,” Arga kembali bertanya, “menyempurnakan itu berarti cepat dan sesuai target, atau ada yang lain?”
Pak Rahmat berdiri. Ia menepuk bahu Arga pelan.
“Menyempurnakan itu juga tentang niat, kejujuran, dan dampaknya bagi orang lain. Bukan hanya hasilnya, tapi prosesnya.”
Arga terdiam lagi. Kali ini lebih lama.
Di dalam benaknya, ruang praktik itu berubah menjadi ruang pertanyaan. Semua yang selama ini terasa jelas, kini seolah meminta penjelasan ulang.
“Jadi,” katanya pelan, “kita tidak salah belajar keterampilan, kan, Pak?”
“Tidak,” jawab Pak Rahmat tegas. “Keterampilan itu penting. Tapi jangan sampai kamu hanya menjadi ahli tanpa arah.”
Arga menarik napas panjang. “Kalau begitu,” katanya, “yang perlu kita jaga bukan hanya kemampuan, tapi juga tujuan.”
Pak Rahmat mengangguk.
“Dan itu,” katanya, “tidak selalu tertulis di modul.”
Suara bel pulang berbunyi. Siswa-siswa mulai keluar, membawa tas dan percakapan ringan. Namun Arga masih berdiri di depan mesinnya.
Ia mematikan sakelar dengan perlahan.
Di antara suara mesin yang mereda, ada sesuatu yang justru semakin jelas, bahwa pendidikan bukan sekadar tentang ke mana seseorang akan bekerja, tetapi juga tentang untuk apa ia hidup.
Langkah-langkah pembaruan dalam pendidikan vokasi tetap layak diapresiasi sebagai ikhtiar meningkatkan kualitas dan relevansi.
Namun, di sela deru mesin dan padatnya kurikulum, ruang untuk menata makna tidak boleh hilang.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan keterampilan untuk bertahan, tetapi juga pemahaman untuk melangkah. Dan di situlah pendidikan menemukan perannya yang paling hakiki.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
