Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image UNIVERSITAS PAMULANG

TikTok dan Ilmu Komunikasi: Ketika Viral Mengalahkan Kebenaran

Teknologi | 2026-05-02 23:21:57

Oleh: Zahratul Jannah

Sumber: Pixabay

Dalam hitungan detik, satu video di TikTok bisa mengubah opini jutaan orang tanpa mereka sadar sedang terpengaruh. Tidak ada ruang verifikasi, tidak ada jeda berpikir—yang ada hanya scroll, tonton, percaya, lalu sebarkan. Fenomena ini bukan sekadar tren digital, melainkan kenyataan baru dalam ilmu komunikasi, di mana kekuatan pesan tidak lagi ditentukan oleh kebenaran, tetapi oleh seberapa cepat dan menarik ia dikemas.

Perubahan besar terjadi dalam pola komunikasi modern. Jika dulu media massa seperti televisi dan koran menjadi pusat penyebaran informasi, kini peran tersebut bergeser ke tangan pengguna. TikTok menciptakan ruang komunikasi yang sangat terbuka, di mana setiap individu bisa menjadi komunikator sekaligus audiens. Dalam perspektif ilmu komunikasi, ini dikenal sebagai komunikasi digital berbasis user-generated content, yang memungkinkan siapa saja membentuk narasi publik tanpa batasan yang jelas.

Namun kebebasan ini membawa konsekuensi. Viralitas di TikTok lebih sering ditentukan oleh emosi, visual, dan sensasi, bukan oleh akurasi informasi. Inilah yang berkaitan dengan teori framing dan agenda setting, di mana suatu isu bisa terasa penting hanya karena terus muncul di beranda pengguna. Algoritma berperan besar dalam memperkuat pesan tertentu, sehingga publik cenderung melihat dunia dari sudut pandang yang sempit dan berulang.

Fenomena lain yang tidak kalah pentingnya adalah terbentuknya opini publik secara instan. Satu video dapat memicu gelombang dukungan sekaligus kecaman dalam waktu singkat. Dalam kajian ilmu komunikasi, hal ini berkaitan dengan teori opini publik dan spiral of silence, di mana individu cenderung mengikuti arus mayoritas dan mempertahankan pendapat yang berbeda. Akibatnya, ruang diskusi menjadi tidak seimbang dan lebih didominasi oleh suara-suara yang paling viral, bukan yang paling rasional.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peran pengguna tidak lagi pasif. Setiap orang memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari ekosistem komunikasi digital. Literasi digital menjadi kunci utama agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang berputar. Selain itu, platform seperti TikTok juga perlu memperkuat sistem moderasi agar tidak hanya mengejar popularitas konten, tetapi juga menjaga kualitas informasi.

Pada akhirnya, TikTok menggambarkan wajah komunikasi modern yang serba cepat dan dinamis. Namun, di balik kecepatan tersebut, terdapat tantangan besar: bagaimana menjaga agar kebenaran tidak tenggelam oleh viralitas. Ilmu komunikasi berperan penting, tidak hanya sebagai alat analisis, tetapi juga sebagai panduan agar masyarakat lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media digital.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image