Bahagia: Di Mana Ia Bersembunyi, Di Mana Ia Ditemukan
Ekspresi | 2026-05-02 23:02:09Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Ada yang mengira bahagia itu tempat. Ada alamatnya. Padahal ia adalah cara dan kesadaran yang dibangun perlahan di dalam diri.
Bahagia tidak datang dari luar, ia tumbuh dari dalam.
Bahagia bukan sekadar memiliki, tetapi mengerti.
Mengerti siapa diri kita, apa yang kita kejar, dan mengapa kita sering merasa kurang bahkan saat segalanya tampak cukup.
Kita lelah mencari di luar, pada jabatan, pujian, angka-angka yang terus bertambah.
Padahal bahagia sering duduk diam di dalam diri. Menunggu kita berhenti sejenak, lalu bertanya dengan jujur:
apa yang sebenarnya aku butuhkan, dan apa yang hanya aku inginkan?
Bahagia adalah kesederhanaan yang disadari.
Ia ada saat kita menerima tanpa kalah, memberi tanpa takut kurang, dan berjalan tanpa harus membandingkan.
Bahagia bukan berarti tanpa luka.
Ia justru lahir dari kemampuan memaknai luka. Lalu kita menjadikannya guru, bukan penjara.
Maka, di mana bahagia dicari?
Bukan di ujung dunia, tapi di kedalaman diri.
Dan di mana ia ditemukan?
Pada saat kita berdamai dengan masa lalu yang tak bisa diulang,
dengan hari ini yang harus dijalani,
dan dengan diri sendiri yang terus belajar menjadi cukup.
Bahagia itu bukan sesuatu yang kita kejar sampai lelah.
Ia adalah sesuatu yang kita izinkan tumbuh,
ketika hati berhenti berisik,
dan jiwa mulai memahami arah pulangnya.
__________
Muliadi Saleh: "Menulis Makna, Membangun Peradaban."
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
